Internet memaafkan banyak hal.
Tapi internet tidak pernah lupa.
Keesokan paginya.
Nama Jefry masih trending.
Namun kali ini bukan karena wajahnya.
Bukan karena transformasinya.
Bukan karena kampanye inspiratif agensi.
Melainkan karena video dirinya berjoget dangdut di fanmeeting.
Judul-judul video bermunculan di mana-mana.
"IDOL GAGAL TOTAL."
"FANMEETING PALING CRINGE TAHUN INI."
"JEFRY HANCURKAN KARIER SENDIRI."
"DARI OPPA JADI OM HAJATAN."
Jupri membaca beberapa komentar.
Lalu menutup aplikasi.
Kemudian membukanya lagi.
Lalu menutup lagi.
Kebiasaan buruk manusia saat sedang stres.
Ibunya mengetuk pintu kamar.
"Jup."
"Iya, Mak."
"Lo viral lagi."
"Iya."
"Kali ini kenapa?"
Jupri berpikir sebentar.
Lalu menjawab jujur.
"Nyanyi dangdut."
Hening.
Lalu terdengar suara ibunya.
"Oh."
Hanya itu.
Seolah anaknya viral karena nyanyi dangdut adalah hal yang normal.
Pukul sembilan pagi.
Manager menelepon.
Nada suaranya terdengar seperti orang yang habis kehilangan warisan keluarga.
"Jefry."
"Iya Bang."
"Lo sadar gak kemarin ngapain?"
"Nyanyi."
"JEFRY!"
"Oke. Nyanyi tanpa izin."
Manager menghela napas panjang.
Sangat panjang.
Panjang sekali.
"Brand marah."
"Oh."
"Sponsor marah."
"Oh."
"Direktur marah."
"Oh."
"Kenapa lo santai banget?!"
Jupri berpikir.
Lalu menjawab.
"Karena udah kejadian."
Manager hampir menangis.
Siang harinya.
Agensi mengadakan rapat darurat.
Hasilnya tidak bagus.
Sangat tidak bagus.
Mereka mempertimbangkan memutus kontrak.
Mereka mempertimbangkan mengganti brand ambassador.
Mereka mempertimbangkan menghentikan seluruh kampanye.
Mereka mempertimbangkan segalanya.
Kecuali satu hal.
Bertanya bagaimana perasaan Jupri.
Namun anehnya.
Jupri tidak terlalu sedih.
Takut sedikit.
Cemas ada.
Tapi sedih?
Tidak.
Karena untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan.
Ia merasa tidak sedang berbohong.
Hari Senin.
Ia kembali ke sekolah.
Dan langsung disambut tawa.
"WOI!"
teriak Aldi.
"JOGED DONG!"
Satu kelas langsung tertawa.
"Bang Begadang!"
teriak yang lain.
"BANG OPPA KOPLO!"
Jupri menghela napas.
Lalu mengangkat tangan.
"Tenang."
Kelas masih tertawa.
Jupri berdiri.
Membersihkan tenggorokan.
Lalu berkata:
"Kalau mau request lagu, transfer dulu."
Satu kelas meledak.
Bahkan Pak Hendra yang baru masuk kelas sampai tertawa.