Ada kalanya hidup memberi tanda.
Tanda kecil.
Halus.
Nyaris tidak terlihat.
Namun kalau diabaikan terus-menerus...
Hidup akan berhenti memberi tanda.
Dan mulai memberi pukulan.
Setelah fanmeeting.
Setelah agensi marah.
Setelah kontraknya nyaris diputus.
Jupri justru merasa lebih bebas.
Terlalu bebas.
Ia kembali menjadi Jupri.
Versi yang cerewet.
Versi yang spontan.
Versi yang tidak peduli citra.
Sayangnya.
Ia juga kembali melakukan satu kebiasaan lama.
Mengejar perhatian.
Bedanya sekarang.
Dengan wajah Jefry.
Perhatian itu jauh lebih mudah didapat.
"Lo kagak belajar ya?"
kata Rena suatu sore.
"Belajar apaan?"
"Dari semua kekacauan kemarin."
Jupri tertawa.
"Tenang aje."
"Tiap kali lo bilang tenang, biasanya seminggu kemudian ada ambulans."
"Itu fitnah."
"Itu statistik."
Jupri hanya tertawa.
Seperti biasa.
Tidak mendengar.
Atau berpura-pura tidak mendengar.
Dan di situlah masalah dimulai.
Namanya Nadia.
Kelas sebelas dari sekolah lain.
Cantik.
Ramah.
Aktif di media sosial.
Dan sangat tertarik pada Jupri.
Atau setidaknya begitu yang Jupri pikir.
Mereka mulai sering chat.
Lalu video call.
Lalu bertemu beberapa kali.
Tidak ada yang aneh.
Tidak ada yang mencurigakan.
Kalau pun ada.
Jupri terlalu sibuk menikmati perhatian untuk menyadarinya.
Sampai suatu sore.
Saat ia sedang mengantar Nadia pulang.
Seseorang memotret mereka.
Dan foto itu sampai ke orang yang salah.
Atau tepatnya.
Pacar asli Nadia.
Yang keberadaannya tidak pernah diberitahukan kepada Jupri.
Tiga hari kemudian.
Masalah datang.
Jupri pulang agak sore.
Matahari hampir tenggelam.
Gang menuju rumahnya cukup sepi.
Ia sedang bersenandung lagu dangdut.
Membawa dua bungkus gorengan.
Dan memikirkan apakah malam ini lebih enak makan mie goreng atau nasi uduk.
Ketika seseorang memanggil.
"WOI!"
Jupri menoleh.
Empat orang.
Tidak dikenal.
Ekspresi mereka juga tidak terlihat ramah.
"Ada ape?"
tanya Jupri.
Cowok paling depan melangkah maju.
"Lo Jupri?"
"Iya."
"Bener."
"Ada apa bang?"
Cowok itu langsung menghantam wajahnya.
BUK!
Dunia mendadak berputar.
Jupri jatuh.
Gorengan terlempar.
"KAGET GUE!"
teriaknya refleks.
Pukulan kedua datang.
Lalu ketiga.
Lalu keempat.
Tidak ada kesempatan menjelaskan.
Tidak ada kesempatan bertanya.
Hanya amarah.
Dan tinju.
Jupri mencoba berdiri.
Seseorang menendang perutnya.
Napasnya langsung hilang.
"WOY!"
"BERHENTI!"
Tidak ada yang berhenti.
"LO DEKET-DEKETIN PACAR ORANG!"
teriak salah satu dari mereka.