OPLAS Perubah Nasib

Ahmad Barnash
Chapter #13

Cermin

Setelah Rena pergi.

Jupri tidak bergerak.

Tidak mengejar.

Tidak memanggil.

Tidak melakukan apa pun.

Ia hanya duduk di tepi tempat tidur.

Memandang pintu yang sudah tertutup.

Seolah berharap pintu itu terbuka lagi.

Seolah berharap Rena masuk kembali dan berkata bahwa semuanya hanya salah paham.

Namun pintu tetap diam.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya...

Jupri tidak punya lelucon untuk memperbaiki keadaan.


Malam itu ia tidak tidur.

Bukan karena sakit.

Meski wajahnya masih bengkak.

Meski bibirnya masih perih.

Bukan itu.

Yang membuatnya terjaga adalah kalimat terakhir Rena.

"Orang yang mau sama lo dari waktu lo bukan siapa-siapa ada di depan lo dari dulu, bego."

Kalimat itu terus berputar.

Berulang.

Tidak mau pergi.


Pagi datang.

Jupri tidak masuk sekolah.

Hari kedua juga tidak.

Hari ketiga juga.


Telepon dari guru.

Pesan dari teman.

Chat dari agensi.

Semuanya diabaikan.


Bahkan Aldi yang biasanya paling cerewet sampai mengirim pesan.

"Lo mati apa?"

Jupri tidak membalas.


Ia hanya duduk di kamar.

Sendirian.

Dengan pikirannya sendiri.

Dan ternyata...

Itu jauh lebih menakutkan daripada dihajar satu gang.


Hari ketiga.

Saat bosan menatap langit-langit.

Jupri membuka galeri ponselnya.

Awalnya tanpa tujuan.

Sekadar menghabiskan waktu.

Namun tanpa sadar.

Jarinya mulai menggulir semakin jauh ke bawah.

Semakin jauh.

Semakin lama.

Menuju foto-foto lama.


Sebelum Korea.

Sebelum operasi.

Sebelum semuanya berubah.


Foto pertama yang ia temukan adalah foto SD.

Jupri langsung tertawa.

"Waduh."

Rambutnya mirip sapu ijuk.

Giginya lebih tonggos daripada sekarang.

Seragamnya kebesaran.


Dan di sebelahnya.

Ada Rena.

Masih kecil.

Masih berkuncir dua.

Masih memasang ekspresi kesal yang sama seperti sekarang.


Jupri memperbesar foto itu.

Lama.


Lalu lanjut menggulir.


Foto lomba tujuhbelasan.

Rena ada.


Foto naik kelas.

Rena ada.


Foto study tour.

Rena ada.


Foto ulang tahun.

Rena ada.


Foto perpisahan SMP.

Rena ada.


Jupri berhenti.

Keningnya mengernyit.


"Perasaan..."

gumamnya.


Lalu ia terus menggulir.


Dan perlahan.

Sesuatu mulai terlihat.


Di setiap foto penting hidupnya.

Selalu ada satu orang yang muncul.


Rena.


Kadang di samping.

Kadang di belakang.

Kadang hanya setengah wajah.

Kadang bahkan tidak sadar sedang difoto.


Namun selalu ada.


Jupri membuka folder lain.


Chat.


Percakapan lama.


Tahun lalu.

Dua tahun lalu.

Tiga tahun lalu.


Dan lagi-lagi.

Polanya sama.


"Udah makan?"

Rena.


Lihat selengkapnya