Ada banyak cara menyatakan cinta.
Ada yang menulis puisi.
Ada yang membawa bunga.
Ada yang menyewa satu kafe penuh.
Ada yang menyanyi di bawah jendela.
Dan ada Jupri.
Yang datang membawa dua bungkus kerak telor.
Hari Minggu sore.
Langit Jakarta sedang cerah.
Untuk pertama kalinya setelah berhari-hari mengurung diri.
Jupri keluar rumah.
Ibunya yang sedang menyapu halaman langsung berhenti.
"Lah."
"Ape?"
tanya Jupri.
"Kamu mandi."
"Masa mau ketemu orang kagak mandi."
Ibunya mengangguk.
"Berarti serius."
Jupri langsung gugup.
"Masa sih?"
Ibunya tertawa.
"Pergi sana."
Jupri berangkat.
Tidak memakai pakaian sponsor.
Tidak memakai jaket mahal.
Tidak memakai sepatu branded.
Hanya kaos oblong hitam.
Celana jeans.
Sandal jepit.
Dan dua bungkus kerak telor.
Persis seperti dirinya sebelum semuanya berubah.
Semakin dekat ke rumah Rena.
Semakin cepat jantungnya berdetak.
Padahal dulu ia sering datang ke sini.
Bahkan bisa masuk tanpa mengetuk.
Namun hari ini berbeda.
Sangat berbeda.
Karena hari ini.
Untuk pertama kalinya.
Ia tahu alasan kenapa dirinya datang.
Jupri berdiri di depan pintu.
Menarik napas.
Lalu mengetuk.
Tok.
Tok.
Tok.
Beberapa detik kemudian.
Pintu terbuka.
Rena muncul.
Dan langsung membeku.
Mereka saling menatap.
Lama.
Sangat lama.
Hingga akhirnya Rena berbicara duluan.
"Ada apa?"
Nada suaranya datar.
Terlalu datar.
Yang berarti ia masih marah.
Jupri menelan ludah.
Lalu mengangkat plastik yang dibawanya.
"Kerak telor."
Rena memejamkan mata.
"Serius?"
"Dua."
"Kenapa dua?"
"Kalau satu nanti lo ngambek."
Rena berusaha menahan ekspresi.
Namun sudut bibirnya bergerak sedikit.
Sangat sedikit.
Jupri melihatnya.
Dan sedikit lega.
"Masuk."
kata Rena akhirnya.
Mereka duduk di teras.
Tempat yang sama seperti ratusan kali sebelumnya.
Namun kali ini.
Suasananya jauh lebih menegangkan.
Kerak telor diletakkan di antara mereka.
Tidak ada yang langsung makan.
Tidak ada yang langsung bicara.
Hanya diam.