OPLAS Perubah Nasib

Ahmad Barnash
Chapter #15

Oplas Perubah Nasib

Hari Senin.

Hari yang biasanya dibenci sebagian besar siswa.

Namun pagi itu terasa berbeda bagi Jupri.


Ia berdiri di depan cermin.

Cermin yang sama.

Yang dulu menjadi saksi semua kegelisahannya.

Yang dulu ia tatap sambil bertanya kenapa wajahnya tidak seperti orang lain.

Yang dulu membuatnya berharap hidupnya akan lebih mudah kalau dirinya lebih ganteng.


Sekarang.

Wajah di cermin memang berbeda.

Lebih tampan.

Lebih rapi.

Lebih sempurna.


Namun kali ini.

Jupri tidak terlalu memperhatikannya.


Karena untuk pertama kalinya.

Ia menyukai orang yang ada di balik wajah itu.


"Berangkat dulu, Mak."

teriaknya.


Ibunya muncul dari dapur.

Melihat Jupri dari atas sampai bawah.


Lalu tersenyum.


"Udah balik."

katanya.


Jupri mengernyit.


"Balik dari mana?"


Ibunya tertawa kecil.


"Tahu sendiri."


Dan anehnya.

Jupri tahu persis apa maksudnya.


Ia sudah kembali menjadi dirinya sendiri.


Bukan Jefry.


Jupri.


Yang asli.


Di depan gang.

Rena sudah menunggu.


Seperti dulu.


Tidak ada perubahan besar.


Tidak ada adegan romantis berlebihan.


Tidak ada pegangan tangan.


Yang ada justru:


"Telat."


"Gue baru tiga menit."


"Menurut standar gue itu telat."


"Itu standar diktator."


"Naik motor."


"Baik, Yang Mulia."


Rena memukul lengannya.


Dan mereka berangkat ke sekolah.


Persis seperti ratusan pagi sebelumnya.


Namun kali ini.

Rasanya berbeda.


Karena sekarang mereka tidak lagi berpura-pura.


Saat memasuki gerbang sekolah.

Beberapa siswa masih berbisik.


Masih ada yang mengenali Jupri dari video fanmeeting.


Masih ada yang tertawa.


Masih ada yang menunjuk.


Namun Jupri tidak peduli.


Karena sekarang.

Ia tidak lagi sibuk meminta semua orang menyukainya.


Di koridor.

Aldi langsung berteriak.


"WOI BEGADANG!"


Satu kelas tertawa.


Jupri berhenti.


Menoleh.


Lalu menjawab:


"Kalau begadang jangan begadang tiap malam!"


Seketika satu kelas meledak.


Bahkan Aldi sampai membungkuk karena tertawa terlalu keras.


"Masih idup nih orang."

kata Aldi.


"Sayangnya iya."

jawab Jupri.


Dan suasana kembali normal.


Lihat selengkapnya