PERINGATAN KONTEN
Cerita ini memuat kekerasan dan pembunuhan, percobaan kekerasan seksual, perundungan dan hinaan terhadap penyandang disabilitas, penggunaan narkotika, peracunan, serta trauma kehilangan anggota keluarga. Label: 18+ (Dewasa). Tidak disarankan untuk pembaca di bawah 18 tahun.
Hujan belum turun ketika mereka masuk jauh ke dalam hutan, tetapi udaranya sudah berat, seperti napas yang ditahan terlalu lama.
Adit berjalan di sisi kiri kakaknya. Ia tidak pernah memutuskan untuk berada di sana; kakinya hanya selalu memilih tempat itu, di sisi luar jalur, supaya kalau ada yang tergelincir, ia yang jatuh lebih dulu.
Di depannya, Bella melangkah dengan langkah-langkah kecil yang ringan, seolah tanah becek itu tak pernah menyentuh sepatunya. Ia bersenandung. Tiga nada: naik, turun, lalu menggantung sedikit lebih lama dari seharusnya, seperti kalimat yang menunggu disambung. Adit sudah mendengarnya sepanjang hidup, dan sejak lama berhenti benar-benar mendengarnya, sebagaimana orang berhenti mendengar detak jam di kamarnya sendiri. Ia hanya akan tahu kalau senandung itu berhenti.
Karena itu, setiap kali nada ketiga selesai, ia melirik. Hanya sekilas.
Masih di situ.
Gelap hampir penuh. Pucuk-pucuk pohon bergoyang tertiup angin yang datang dari arah mana pun, dan ranting-ranting saling bergesekan. Tas kecil di bahu Bella menggembung oleh permen. Bella selalu membawa permen, sebagaimana orang lain membawa dompet.
Di depan mereka, Doni memimpin rombongan dengan punggung tegak dan lampu senter yang diayunkan dengan keyakinan yang dibuat-buat. Ariel berjalan di belakangnya, memeluk dua tas di dadanya. Riki menyeret langkah paling akhir sambil menendangi apa saja yang ada di tanah. Sudah berjam-jam sejak jalan setapak yang mereka ikuti berhenti menjadi jalan, dan sejak itu tak seorang pun mau mengakui bahwa mereka tidak tahu lagi sedang menuju ke mana.
Bella mulai menyimpang.
Hanya beberapa langkah ke kanan, ke arah yang tidak dituju siapa pun. Adit tidak menariknya. Menarik Bella selalu berakhir buruk; tubuh kakaknya akan mengeras dan matanya akan mencari-cari sesuatu yang bukan Adit. Ia hanya mengulurkan tangan, telapak terbuka, setinggi pinggang.
Bella mengerutkan wajah. Angin dan hujan yang mulai jatuh menguat bersamaan, dan senandungnya mengecil. Adit bergeser lebih ke luar, memberinya ruang. Setelah sesaat, Bella kembali ke jalur dan bersenandung lagi, pelan sekali.
Nada ketiga. Adit melirik.
B
ella tidak melanjutkan ke putaran berikutnya. Ia berhenti, dan menatap jauh ke antara pepohonan, ke tempat yang bagi Adit hanya berisi gelap.
"Rumah itu..." katanya. Suaranya pelan dan kosong, seperti suara orang yang bicara dalam tidur. "Kita mau ke sana lagi?"
Adit menoleh ke arah yang ditatapnya. Batang-batang pohon. Hujan.
"Rumah apa?" katanya. "Kita belum pernah ke sini."
Bella berkedip. Sesuatu di wajahnya ditarik kembali, seperti tirai yang dijatuhkan, dan ia tersenyum. Senyum itu biasa saja, hanya saja jemarinya tidak ikut. Jemarinya meremas tali tas kecilnya sampai buku-buku jarinya memutih.
Agnes datang dari belakang tanpa suara. Ia menyentuh pundak Bella dan menunggu, tidak lebih, sampai Bella membiarkannya. Baru setelah itu ia merogoh saku jaketnya dan menyodorkan sebatang lolipop.
"U-udah..." katanya, sambil melirik Adit dengan sedikit rasa bersalah yang tidak perlu. "Nggak usah dipikirin omongan Adit. Y-yuk, jalan lagi, Bel..."
Adit membuka mulut untuk membela diri, lalu menutupnya lagi. Ia memang tidak berkata apa-apa yang salah. Tapi ia juga tahu, dari cara Agnes menggenggam tangan Bella, bahwa pertanyaan itu bukan sesuatu yang bisa dijawab dengan benar.
Kilat menyambar. Hujan turun sekaligus.
Bella otomatis panik meracau sembari menutup kedua telinganya.
"Ah, dasar penakut!" gerutu Riki, cukup keras untuk didengar semua orang. "Dari tadi bikin kita berhenti. Ayo, Pak, kita cari tempat berteduh."