Agnes tidak pernah benar-benar tidur nyenyak di tempat asing. Karena itu sentuhan pertama di lengannya sudah cukup membangunkannya; yang kedua dan yang ketiga hanya memastikan.
Bella duduk di sampingnya dengan lutut terlipat, rambutnya kusut, matanya terang di tengah gelap ruang tengah. Ia menggaruk leher dan lengannya berkali-kali. Ada dengung halus di dekat telinganya, yang terus mendekat dan tidak mau pergi, dan Agnes tahu dengung seperti itu bisa membuat Bella tidak tenang sampai pagi.
Agnes mengucek mata, merogoh saku jaketnya, dan menyodorkan lolipop yang biasa ia berikan.
"Agnes..." bisik Bella. "Banyak nyamuk. Bella nggak bisa tidur."
"B-Bella... k-kenapa?" Agnes mengusap rambutnya dengan suara selembut yang bisa ia keluarkan. "Nih, pegang dulu..."
Bella menerima lolipop itu dan berguling mencari posisi, dan saat itulah kakinya menendang punggung Riki.
Riki langsung terbangun. Tidak ada jeda antara tidur dan marah. "Hei, apaan sih! Dasar pasangan cacat, bisa tenang nggak?!"
"M-maafin Bella, Riki..."
"Ngomong yang jelas! Aku nggak ngerti maksudmu!"
Kata-kata Agnes tersangkut seperti biasa, dan seperti biasa Riki menunggu hanya untuk menikmatinya. Bella mundur ketika Riki bangkit dan mendekat. Dalam kepanikan, ia melepas kaus kakinya lalu melemparkannya ke wajah Riki, hanya supaya laki-laki itu menjauh.
Keheningan sesaat. Lalu senyum licik Riki mengembang, pelan dan tidak menyenangkan.
"Oh, udah berani sekarang?" katanya. "Mau aku kasih sesuatu biar kamu diam?"
Ia menarik sebatang lilin merah dari tasnya dan menyalakannya dengan korek.
"J-jangan, Riki!" Agnes sudah berdiri di antara mereka sebelum sempat berpikir, satu tangannya terulur ke belakang, ke arah Bella, mengajaknya menjauh. "D-di sini b-bahaya!"
Riki mengabaikannya. Ia mendorong bahu Agnes ke samping dan mendekatkan nyala itu ke wajah Bella.
Agnes melihat api itu memantul di mata Bella, dan melihat sesuatu di wajah sahabatnya terkelupas. Suara hujan memudar. Bella tidak lagi menatap Riki; ia menatap sesuatu yang jauh di balik nyala itu, dan napasnya memendek, dan ia berusaha mundur dari panas yang tidak sedang menyentuhnya.
"Nggak..." katanya. "Api... panas... Kakak takut! ADIT!"
Di sudut ruangan, Agnes melihat tubuh Adit bergerak setengah sadar. Matanya terbuka sedikit dan ia hampir bangkit, tetapi petir meledak, dan dalam kilatnya yang singkat Adit tampak menatap lilin di tangan Riki. Tubuhnya menegang, lalu terkulai lagi. "Kak..." gumamnya, terlalu pelan untuk didengar siapa pun.
Bella mendorong Riki dan berlari ke lorong. Riki mengejarnya sambil tertawa. Agnes menahan lengannya, dan ia didorong hingga jatuh.
Di dinding di belakang mereka, bayangan nyala lilin sempat tampak seperti tujuh orang yang berdiri berderet. Agnes tidak sempat menghitungnya.
Agnes menyusul ke lorong, tetapi ia terlambat.
Bella sudah jatuh. Langkahnya tersangkut ambang pintu, dan ketika ia berusaha bangkit, Riki sudah ada di atasnya.
Riki berjongkok dan menatapnya dari atas ke bawah.