Orang ke 7

Rafdi Akbar
Chapter #3

46 #3

Ariel memandangi Agnes yang gemetar di ruang tengah dan memikirkan satu hal sederhana: gadis itu butuh sesuatu yang hangat.


Itu pikiran yang aman, dan ia berpegang padanya.


Ia meminta air hangat pada Doni, untuk gadis itu.


Doni menemaninya ke gudang, karena tak seorang pun boleh berjalan sendirian lagi malam ini. Lampu darurat menyorot rak-rak berdebu dan menyapu karung-karung yang sudah lama tidak disentuh. Sebuah kompor portabel kecil berdiri di sudut, dan di bawah pancinya masih tersisa panas, seolah baru saja seseorang meninggalkannya.


Ariel tidak bertanya siapa.


Ia menuang air panas ke tiga cangkir. Tiga, padahal ia hanya butuh satu. Ia tidak tahu kenapa ia menghitungnya begitu, tangannya bekerja lebih dulu daripada pikirannya. Doni membelakanginya, membungkuk memeriksa generator, mendengus pada sesuatu yang tidak beres di sana.


Cahaya lampu darurat bergeser, dan di rak paling atas, sekilas, tampak sebuah botol. Labelnya sudah pudar, tetapi gambar tengkorak kecil di atasnya dan satu kata bercetak tebal masih terbaca: POTAS.


Ariel berhenti.


Lama ia menatap botol itu. Tidak ada pikiran di kepalanya, hanya sesuatu yang dingin dan datar. Lalu Doni berbalik dan berkata sesuatu tentang bahan bakar, dan Ariel mengangkat satu cangkir dan meninggalkan dua lainnya di rak.


Agnes menerima cangkir itu dengan kedua tangan. Jari-jarinya masih gemetar, dan ia menatap uap yang naik tanpa meminumnya.


"B-Bu..." katanya. Air matanya jatuh sebelum kata berikutnya. "S-sebenarnya R-Riki-"


Agnes melihat Riki mengangkat satu jari ke bibirnya. Lalu jari yang sama bergerak, pelan sekali, ke lehernya sendiri.


Agnes membeku.


Ariel melihat gadis itu menoleh padanya, lalu merapatkan ponselnya ke dada dan mengetik dengan tangan yang tak berhenti bergetar. Layarnya menyala di antara jari-jarinya. Agnes memiringkan ponsel itu ke arahnya, memastikan Ariel bisa membaca: RIKI YANG MELAKUKANNYA.


Riki bergeser. Satu langkah ke samping, tanpa suara, menghalangi pandangan. Agnes tetap mengulurkan ponsel itu melewati bahu Riki.


Ariel hanya sempat membaca beberapa kata.


Beberapa kata sudah lebih dari cukup. Ia menarik pandangannya, takut, takut pada laki-laki di depannya, takut pada apa yang akan terjadi kalau ia terus membaca. Ia tidak mengatakan apa pun. Dan ia tahu, saat itu juga, bahwa ia akan mengingat bagaimana rasanya tidak mengatakan apa pun.


Layar ponsel Agnes mendadak mati.


Ketika menyala lagi, tulisannya telah berubah. DIA SUDAH MATI 46 KALI.


Tak ada yang menyentuh layar itu. Bunyi jam berdetak terdengar sekali dari balik dinding, lalu berhenti.


Agnes menjatuhkan ponselnya. Riki melihat pesan itu, dan untuk sesaat wajahnya kehilangan warna. Yang membuatnya pucat adalah angka itu, yang terasa seperti pernah ia dengar, di rumah yang sama, di malam yang sama, entah dari mana. Ia cepat-cepat memalingkan muka. Ia tidak menjelaskan apa pun.


Doni memerintahkan semua orang tetap bersama sampai pagi. Ia menyuruh mereka tinggal di ruang tengah dan melarang siapa pun pergi sendiri. Ia mondar-mandir di dekat pintu, memastikan pohon tumbang benar-benar menghalangi jalan keluar, lalu duduk bersandar. Kelelahan mengalahkannya begitu ketegangan mereda.


Ariel meringkuk di pojok. Matanya tetap terbuka beberapa saat, menatap kegelapan. Lalu terpejam.


Lihat selengkapnya