Generator tersendat, mengerang seperti binatang yang dipaksa bangun, lalu lampu darurat berkedip dan padam.
Riki berdiri di gudang dalam gelap, membasuh tangannya di bawah keran yang hanya mengeluarkan air dingin dan berkarat. Ia menggosok sela-sela jarinya berulang-ulang, lebih lama dari yang diperlukan. Sebuah obeng tergeletak di sampingnya di tepi bak, dan ia berusaha tidak melihatnya.
Tangannya masih gemetar.
Ia merogoh saku dan mengeluarkan butiran-butiran yang biasa ia telan, narkotika yang selalu membuat kepalanya ringan dan segala sesuatu jadi jauh. Ia menelannya tanpa air, tergesa. Lalu ia menarik napas, sekali, dua kali, tiga kali, berusaha menenangkan diri setelah apa yang ia lakukan pada Bella dan Agnes.
Ini bukan salahku, pikirnya. Mereka yang memaksaku.
Ia mengambil obeng itu dan keluar ke lorong.
Senandung terdengar dari ujung lorong.
Pelan. Tiga nada, dan yang ketiga tidak pernah selesai.
Riki berhenti. "Siapa di situ?" Suaranya keluar lebih tinggi dari yang ia maksudkan. "Keluar!"
Tak ada jawaban. Senandung itu berhenti, lalu muncul lagi, dan kali ini ia terdengar dari belakangnya.
Riki berbalik. Lorong di belakangnya kosong.
Tiga ketukan terdengar dari dinding di sisi kirinya. Tok. Tok. Tok. Ia menempelkan punggung ke dinding yang berlawanan. Dari sisi lain terdengar langkah-langkah kecil, ringan, seperti langkah seseorang yang tak pernah membiarkan tanah menyentuh sepatunya. Ia mundur. Kakinya tersandung ambang pintu, dan ia terjatuh ke dalam sebuah ruangan yang berbau cat dan minyak tua.
Di dalam ruangan itu, Riki merasa ia tidak sendirian. Bukan karena suara, melainkan karena kehadiran, seperti tatapan yang menempel di tengkuk. Ia memutar tubuh sambil mengayunkan obeng, dan di kaca sebuah bingkai yang bersandar ke dinding, ia melihat pantulan dirinya. Dan seseorang berdiri sangat dekat di belakangnya.
Sesuatu berkilat dari kegelapan dan menghantam lehernya dari belakang.
Riki menjerit. Ia meraba lehernya dan mencabut benda itu dengan tangan yang licin: sebuah pulpen besi, ujungnya basah dan hangat. Ia mengayunkan obeng secara liar ke segala arah, ke kegelapan, ke apa pun yang mungkin ada di sana.