Orang ke 7

Rafdi Akbar
Chapter #5

Dua Cangkir #5

Doni terbangun dengan perasaan bahwa ada sesuatu yang salah di ruangan itu, sebelum ia tahu apa.



Ruang tengah terlalu sepi. Ia menghitung kepala dengan cara yang sudah ia lakukan puluhan kali selama bertahun-tahun mengajar: Ariel di pojok. Bella di bawah kain. Tetapi Adit tidak ada. Riki juga tidak ada.



Ia melangkah ke arah tubuh Bella dan membuka kain penutupnya, hanya untuk memastikan. Bella ada di sana, pucat dan tenang. Dan di sampingnya, terbaring dengan tangan terlipat rapi di dada, Agnes.



Doni mundur satu langkah. Ia tak ingat tubuh itu berada di sana sebelum ia tertidur.



"Apa-apaan ini?!" Suaranya pecah, menjadi sesuatu yang tidak ia kenali, dan wibawa yang selama ini ia pegang jatuh begitu saja dari suaranya. "Siapa yang melakukan ini?!"



Ariel terbangun oleh teriakannya. Doni menahan bahunya sebelum ia sempat bangkit.



"Tunggu di sini. Jangan ke mana-mana."



Ia mengambil lampu darurat dan pergi mencari mereka. Di dinding yang dilewatinya, goresan hitungan itu jauh lebih banyak dari yang ia ingat. Ia mencoba menghitungnya. Lampu berkedip, dan garis-garis itu tampak berubah, bergeser, menggeliat. Doni mengumpat dan meneruskan langkahnya.



Di lorong, ia mendengar suara kuas menggesek kanvas.



Setelah Doni pergi, Ariel menahan napas.



Ruangan itu tidak benar-benar sunyi. Ada rumah yang bernapas di sekelilingnya, ada hujan, ada kayu yang berderit. Dan dari lorong, samar sekali, terdengar senandung tiga nada.



Ia melirik pintu depan yang macet, lalu jasad-jasad di bawah kain.



Ia sempat melihat pesan Agnes. Ia ingat bentuk hurufnya, kapital semua, miring ke arahnya oleh tangan yang gemetar. Dan ia memilih berpura-pura tidak melihatnya. Rasa bersalah itu datang pelan dan tak bisa dilawan, dan membuat tangannya gemetar.



"Jangan ikut campur," bisiknya pada dirinya sendiri. "Tunggu Mas kembali. Jangan bikin keadaan lebih buruk."



Ia berdiri seolah hendak menyusul Doni, lalu berhenti.



Matanya jatuh pada tempat Agnes tadi duduk. Ia teringat tatapan gadis itu saat mengulurkan ponselnya, tatapan seseorang yang tidak sedang meminta tolong, hanya meminta dipercaya. Ariel menutup mata, menahan napas, lalu membukanya lagi. Senandung itu terdengar lagi dari lorong, dan ia tersentak.



Ia berjalan ke gudang.



Botol itu masih di rak paling atas, dengan gambar tengkorak kecil dan satu kata di labelnya: POTAS. Lama ia berdiri tanpa bergerak. Dua cangkir yang ia tinggalkan tadi masih berdiri di sana, dingin sekarang, airnya sudah tidak mengepul.



Akhirnya ia mengambil botol itu.



Ia menyiapkan kedua cangkir tanpa membiarkan dirinya melihat apa yang ia lakukan. Tangannya bergerak sendiri; pikirannya, untuk pertama kali malam itu, benar-benar kosong.



Lihat selengkapnya