Adit menendang pintu depan sekali lagi.
Pintu itu tidak bergerak. Pohon tumbang di baliknya menahan seluruh beratnya dari luar, dan Adit tahu, tanpa perlu menendang lagi, bahwa pintu ini tidak akan pernah terbuka untuk siapa pun.
Ia masih mencoba ketika langkah-langkah berat terdengar di belakangnya.
Doni menyusul dengan darah di pelipis dan napas yang memburu. Ia menarik baju Adit dan membantingnya ke lantai, sampai bunyi napas Adit terpukul keluar dari dadanya.
Ariel berdiri gemetar di dekat dinding. Ia menyembunyikan satu cangkir di balik punggungnya, sementara yang lain masih berdiri di dekat tempat duduk Doni, dan menjerit melihat pertengkaran itu, melihat jasad-jasad di sekelilingnya, melihat darah.
"Mas! Apa yang terjadi?!"
Doni tidak menjawab. Matanya mencari sesuatu di lantai, dan menemukannya: pecahan botol kaca yang berserakan di dekat pintu sejak malam mereka masuk. Ia menyambar yang terbesar. Tepinya langsung melukai telapak tangannya sendiri, tetapi ia tidak merasakannya. Di wajahnya ada ketakutan seseorang yang selama ini yakin dirinya paling benar dan baru saja kehilangan keyakinan itu.
Ia menyerang Adit berkali-kali.
Adit berusaha melawan. Ia menangkap, mengelak, mendorong, tetapi kali ini tubuhnya sudah terlalu letih. Dan ada sesuatu yang lebih berat daripada letih: ia sudah menghitung begitu lama. Garis-garis di dinding. Malam-malam yang tak bisa ia ingat. Orang-orang yang jatuh satu per satu, sementara ia selalu datang sedetik setelah semuanya selesai.
Di satu titik, tangannya sebenarnya sudah menemukan pergelangan Doni. Ia bisa saja menang. Lalu, tanpa alasan yang bisa ia jelaskan, ia berhenti melawan.
Ia menatap Ariel sekali. Seolah ada sesuatu yang ingin ia katakan padanya. Tetapi ia tidak sempat mengatakannya.
Tatapannya kehilangan fokus. Di antara pecahan kaca dan langit-langit rumah tua itu, ia teringat satu hal yang sederhana: tiga nada. Naik, turun, menggantung.
Ia tak lagi bergerak.
Doni berdiri dengan napas memburu, pecahan kaca masih tergenggam. Ariel memandang tubuh-tubuh di sekelilingnya, dan memahami bahwa tidak ada lagi yang bisa ia selamatkan.
Ariel memandang jasad Adit, lalu Doni yang masih terengah di sampingnya.
Lalu ia melihat cangkir di tangannya, yang bergetar, dan cangkir lain yang masih berdiri di dekat tempat duduk Doni.
Ia merasa seperti seseorang yang akhirnya menyadari keputusan itu sudah dibuat, sudah lama, di suatu tempat yang tidak bisa ia jangkau lagi.
Ia teringat Agnes: ponsel yang diulurkan, huruf-huruf kapital yang ia pilih untuk tidak dibaca sampai habis. Bukan hanya Doni yang merampas sesuatu dari malam ini. Ia juga.