Malam di rumah itu selalu datang dengan cara yang sama—perlahan, tenang, dan terlalu sunyi. Angin tipis merayap dari celah jendela ruang makan. Tirai putih bergerak pelan seperti napas seseorang yang tertidur. Di dinding, jam bundar tua berdetak dengan sabar. Tik. Tik. Tik. Suara itu terdengar lebih keras dari biasanya.
Di tengah ruangan, sebuah meja makan kayu berdiri sederhana. Meja itu tidak besar. Hanya cukup untuk tiga orang. Dan malam itu, seperti malam-malam sebelumnya, tiga piring sudah tersusun rapi di atasnya.
Galis Prasetyo berdiri di ambang pintu dapur sambil memandangi meja itu cukup lama. Tiga piring. Ia menghitungnya lagi, meski sebenarnya tidak perlu. Satu di sisi kiri. Satu di sisi kanan. Dan satu lagi tepat di depan kursi yang kosong.
Kursi itu selalu kosong. Namun entah kenapa, kursi itu juga tidak pernah benar-benar terasa kosong.
Aroma sup ayam memenuhi dapur. Hangat, menenangkan, seperti kenangan masa kecil yang datang tiba-tiba. Di depan kompor, Mika Saraswati berdiri dengan punggung menghadap Galis. Ia mengaduk sup perlahan, seolah tidak menyadari tatapan suaminya. Gerakan tangannya tenang. Terlalu tenang.
“Mika,” panggil Galis akhirnya.
Perempuan itu tidak langsung menoleh.
“Iya?” jawabnya ringan.
Galis menunjuk meja makan dengan dagunya.
“Kita kedatangan tamu?”
Mika berhenti mengaduk. Hanya sebentar. Lalu ia menoleh. Matanya mengikuti arah pandang Galis.
Ke meja makan. Ke tiga piring yang tersusun rapi.
“Oh,” katanya pelan.
Tidak ada keterkejutan di wajahnya. Tidak ada kebingungan. Seolah tiga piring di meja makan untuk rumah yang hanya dihuni dua orang adalah sesuatu yang biasa.
Mika berjalan mendekat. Langkahnya ringan di lantai kayu. Ia merapikan sendok di piring ketiga dengan hati-hati, seperti seseorang yang sedang menata sesuatu yang penting.
“Kamu lupa lagi,” katanya.
“Lupa apa?” tanya Galis.
“Sendoknya.”
Mika mengambil sendok yang lebih besar dari laci, lalu meletakkannya di samping piring ketiga. Gerakannya pelan. Teliti. Hampir penuh perhatian.
Galis mengerutkan kening.
“Kita cuma berdua, Mika.”
Perempuan itu tidak langsung menjawab. Ia justru menarik kursi di depan piring ketiga sedikit ke belakang, memberi ruang kosong seperti sedang mempersilakan seseorang duduk.
“Kita memang selalu bertiga,” katanya ringan.
Kalimat itu menggantung di udara seperti sesuatu yang tidak ingin dijelaskan.