ORANG KETIGA DI MEJA MAKAN

Embart nugroho
Chapter #2

2

Galis duduk di kursinya cukup lama tanpa benar-benar bekerja. Di depannya, layar komputer menyala sejak tadi pagi. Beberapa dokumen terbuka, angka-angka laporan menunggu diperiksa, tetapi matanya hanya menatap tanpa benar-benar membaca. Pikirannya seperti tersangkut di tempat lain—di rumahnya sendiri.

Di meja makan.

Pada piring ketiga yang selalu ada di sana.

Ia mengusap wajahnya perlahan. Malam tadi kembali terlintas di kepalanya seperti potongan film yang diputar ulang berkali-kali. Mika duduk di meja makan.

Mika tersenyum pada kursi kosong. Mika berbicara dengan seseorang yang tidak terlihat. Dan yang paling membuat bulu kuduknya berdiri—Mika terlihat bahagia. Seolah-olah orang yang duduk di kursi itu benar-benar ada.

Galis menghela napas panjang. Dadanya terasa berat oleh sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan. Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa semua itu hanya perasaan berlebihan.

Mungkin Mika hanya bercanda.

Mungkin Mika sedang stres.

Mungkin—

“Lis.”

Suara itu memotong lamunannya.

Galis tersentak kecil.

Di hadapannya, Darto sudah berdiri sambil membawa dua gelas kopi dari pantry kantor. Lelaki bertubuh tambun itu mengernyitkan alisnya.

“Sejak tadi gue manggil, lu nggak nyaut,” kata Darto sambil meletakkan salah satu gelas kopi di meja Galis. “Lu ngeliatin layar kayak orang lagi nunggu wahyu turun.”

Galis tersenyum tipis, tapi senyum itu terasa kaku.

“Ah, nggak apa-apa.”

Darto menarik kursi di depan meja dan duduk santai. Ia menatap Galis dengan wajah penuh rasa ingin tahu.

“Biasanya lu yang paling rajin di kantor ini,” katanya. “Hari ini muka lu kayak orang yang habis lihat setan.”

Galis terdiam. Kalimat itu terasa aneh di telinganya. Karena tanpa sadar, pikirannya langsung kembali pada rumahnya. Pada kursi kosong di meja makan. Pada suara sendok yang beradu tiga kali.

Ia menelan ludah.

“Cuma kurang tidur,” jawabnya akhirnya.

Darto menyandarkan punggungnya di kursi. Ia mengangkat alis, seolah tidak terlalu percaya.

“Kurang tidur atau kurang waras?”

Galis tertawa kecil, tapi tawanya cepat sekali menghilang.

Darto memperhatikan wajah sahabatnya itu dengan lebih serius sekarang.

“Lu kenapa, Lis?” tanyanya pelan. “Ada masalah di rumah?”

Pertanyaan itu membuat Galis kembali terdiam.

Ruangan kantor tiba-tiba terasa lebih sunyi. Di luar, suara mesin fotokopi berdengung pelan. Beberapa pegawai berjalan melewati lorong sambil membawa map. Namun bagi Galis, semua suara itu terasa jauh.

Ia menatap kopi di meja tanpa menyentuhnya.

“Aneh nggak sih,” katanya tiba-tiba, “kalau seseorang… selalu menyiapkan piring untuk orang yang nggak ada?”

Darto mengernyit.

“Maksudnya?”

Galis ragu sejenak. Ia sendiri tidak tahu kenapa tiba-tiba ingin menceritakan hal itu. Mungkin karena jika terus disimpan sendiri, pikirannya akan semakin kacau.

“Istri gue,” katanya pelan. “Mika.”

Darto mencondongkan tubuhnya sedikit.

“Kenapa sama Mika?”

Galis menarik napas.

“Setiap malam dia selalu menaruh tiga piring di meja makan.”

Darto berkedip.

“Lah… kan lu cuma berdua?”

“Iya.”

“Anak?”

“Belum ada.”

Darto mengerutkan kening lebih dalam.

“Terus piring satunya buat siapa?”

Itulah pertanyaan yang terus menghantui kepala Galis.

Ia menatap jendela kantor yang buram oleh debu kota.

“Katanya… kita selalu bertiga.”

Darto tertawa kecil.

“Ah, paling dia bercanda.”

Galis tidak ikut tertawa. Beberapa detik kemudian, ia berkata dengan suara lebih pelan.

“Masalahnya… dia sering ngobrol sama kursi kosong itu.”

Tawa Darto berhenti. Wajahnya berubah serius.

“Maksud lu… ngobrol beneran?”

“Iya.”

“Kayak orang lagi ngobrol sama orang lain?”

Galis mengangguk perlahan.

Darto menggaruk tengkuknya.

“Ya mungkin lagi stres,” katanya mencoba ringan. “Atau lagi iseng ngerjain lu.”

Galis menggeleng.

“Kalau cuma sekali dua kali mungkin iya.”

Ia menatap Darto sekarang.

“Tapi ini tiap malam.”

Darto tidak langsung menjawab.

Galis melanjutkan, suaranya hampir seperti bisikan.

Lihat selengkapnya