Perjalanan pulang terasa lebih panjang dari biasanya. Lampu-lampu siang di kota tampak pucat di balik kaca mobil. Matahari sebenarnya bersinar cukup terik, tetapi cahaya itu seperti kehilangan kehangatannya, hanya memantul dingin pada kaca gedung-gedung tinggi dan aspal jalan yang berkilau.
Jalanan dipenuhi kendaraan yang berjalan lambat seperti barisan semut yang tidak pernah benar-benar berhenti. Klakson bersahutan. Motor-motor menyelip di antara mobil dengan gerakan gesit. Seorang penjual minuman menepuk-nepuk kaca mobil di barisan depan. Namun bagi Galis, semua itu terasa seperti suara yang datang dari tempat yang sangat jauh. Tangannya tetap memegang setir, matanya tetap menatap jalan, tetapi pikirannya berkali-kali kembali pada satu tempat yang sama.
Rumahnya. Rumah yang selama ini terasa tenang. Rumah yang dulu ia beli bersama Mika dengan penuh harapan. Rumah yang seharusnya menjadi tempat mereka pulang setelah hari yang panjang. Namun sekarang rumah itu justru terasa seperti tempat yang menyimpan sesuatu yang belum ia pahami.
Ia mencoba mengingat kembali dengan lebih teliti. Apakah mungkin ia hanya salah ingat? Mungkin saja. Mungkin piring ketiga itu memang sudah dicuci Mika sebelum mereka tidur. Mungkin Mika bangun di tengah malam dan membereskannya tanpa ia sadari. Atau mungkin ia sendiri yang terlalu lelah sehingga hal-hal kecil mulai terlihat aneh.
Galis menghela napas panjang. Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa semuanya masih masuk akal. Namun pikirannya justru kembali pada satu detail kecil yang terus mengganggunya.
Wajah Mika semalam. Cara Mika menatap kursi kosong itu. Bukan seperti seseorang yang sedang bercanda. Bukan juga seperti seseorang yang sedang berkhayal. Tatapan itu terlalu… nyata.
Mobilnya berhenti di lampu merah. Deretan kendaraan memanjang di depan. Lampu lalu lintas menggantung di udara seperti mata yang menunggu dengan sabar.
Galis memandang lurus ke depan. Di kaca spion, ia bisa melihat wajahnya sendiri. Terlihat lelah. Ada bayangan gelap di bawah matanya yang bahkan belum sempat ia sadari sejak pagi. Ia memijat pelipisnya pelan. Lalu tanpa sengaja, ingatan lain muncul kembali di kepalanya.
Kalimat Mika. Kalimat yang diucapkan di dapur dengan suara pelan. Seperti seseorang yang tidak ingin rahasianya didengar orang lain.
“Dia belum siap tahu kalau kamu ada.”
Jantung Galis berdegup sedikit lebih keras. Kalimat itu tidak terdengar seperti seseorang yang sedang bercanda. Tidak juga seperti seseorang yang sedang bermain-main. Kalimat itu terdengar seperti… sebuah rahasia yang sudah lama disimpan. Sebuah rahasia yang bahkan Mika tidak berniat menjelaskannya.
Lampu lalu lintas masih merah. Seorang pengamen berjalan di antara mobil-mobil sambil memetik gitar kecilnya. Lagu lama mengalun pelan, nyaris tenggelam oleh suara mesin kendaraan.
Galis tidak benar-benar mendengarnya. Ia justru teringat sesuatu yang lebih membuatnya tidak tenang. Semalam, setelah Mika berkata kalimat itu, Mika sempat menoleh sedikit. Bukan ke arah Galis. Melainkan ke arah… pintu dapur. Ke arah tempat Galis berdiri. Namun tatapan Mika tidak tepat mengenai dirinya. Tatapan itu seperti melewati bahunya. Seolah-olah… ada seseorang yang berdiri tepat di belakangnya.
Galis merasakan tengkuknya merinding. Ia menggeleng pelan, mencoba menepis pikiran itu.
“Jangan aneh-aneh,” gumamnya pada diri sendiri.
Lampu lalu lintas akhirnya berubah hijau.
Mobil-mobil di depannya mulai bergerak perlahan. Satu per satu kendaraan meninggalkan garis putih di aspal.
Galis ikut menekan pedal gas. Namun perasaan tidak nyaman di dadanya justru semakin berat. Seperti ada sesuatu yang terus mengikuti pikirannya.
Ia memutar setir ketika mobilnya memasuki jalan yang lebih sepi menuju kompleks rumahnya.
Pohon-pohon di sisi jalan berdiri diam, bayangannya jatuh panjang di aspal. Beberapa rumah tampak tertutup rapat, seolah penghuninya sedang pergi atau tertidur siang.
Angin siang bertiup pelan, membawa daun-daun kering bergeser di pinggir jalan.
Galis memperlambat mobilnya. Tiba-tiba ia menyadari sesuatu yang aneh.
Sejak beberapa bulan terakhir, Mika hampir tidak pernah lagi mengundang teman ke rumah. Padahal dulu rumah mereka sering ramai.
Tertawa.
Makan malam bersama.
Cerita-cerita kecil yang membuat malam terasa hangat. Namun sekarang meja makan itu justru terasa semakin sunyi.
Kecuali… untuk satu kursi kosong yang selalu disiapkan.
Galis menelan ludah. Mobilnya akhirnya memasuki jalan kecil menuju rumahnya. Gerbang kompleks terbuka perlahan ketika ia menekan tombol remote. Saat mobilnya melewati gerbang itu, perasaan aneh kembali muncul di dadanya.
Perasaan yang tidak bisa ia jelaskan. Perasaan seperti seseorang yang akan pulang ke rumahnya sendiri… namun tidak benar-benar yakin siapa saja yang sedang menunggunya di dalam sana. Dan untuk pertama kalinya sejak ia membeli rumah itu tujuh tahun lalu, Galis merasakan sesuatu yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.
Keraguan. Keraguan bahwa rumah yang selama ini ia tinggali… mungkin tidak pernah benar-benar hanya dihuni oleh dua orang.
###
Rumah itu terlihat sama seperti biasa. Tenang. Terlalu tenang.
Pohon mangga di halaman depan berdiri diam tanpa angin. Gerbang besi sedikit terbuka, seperti seseorang lupa menutupnya dengan benar.
Galis memarkir mobilnya perlahan. Ia turun dan berdiri beberapa detik di halaman. Ada sesuatu yang selalu membuat rumah itu terasa berbeda sejak beberapa bulan terakhir. Bukan karena bentuknya. Bukan karena ukurannya. Tapi karena… kesunyian di dalamnya terasa seperti milik lebih dari satu orang.
Galis membuka pintu rumah. Engsel pintu berbunyi pelan.
“Mika?” panggilnya.
Tidak ada jawaban. Ia melangkah masuk.
Ruang tamu rapi seperti biasa. Bantal sofa tersusun lurus. Vas bunga di meja kecil masih berisi bunga kering yang Mika simpan seminggu lalu.
Galis berjalan menuju dapur. Dan langkahnya berhenti.
Meja makan itu kembali seperti yang ia kenal. Bersih. Tenang. Namun ada sesuatu yang membuat jantungnya berdetak lebih cepat.
Di atas meja itu… sudah ada tiga piring.
Galis tidak bergerak. Ia menatap meja itu lama sekali.
Piring-piring itu belum berisi makanan. Hanya piring kosong dengan sendok yang sudah ditata rapi di sampingnya. Seperti seseorang sedang bersiap menunggu makan malam. Padahal hari masih siang.
“Galis?”
Suara Mika tiba-tiba muncul dari belakangnya.
Galis menoleh cepat.
Mika berdiri di ujung lorong kamar dengan wajah santai. Rambutnya sedikit berantakan seperti baru bangun tidur.
“Kamu sudah pulang?” tanyanya lembut.
“Iya,” jawab Galis pelan.
Matanya kembali melirik meja makan.
“Kamu mau makan siang?” tanya Mika.
“Belum.”
Galis menunjuk meja itu.
“Kamu lagi nyiapin apa?”
Mika mengikuti arah pandangnya. Ke tiga piring itu. Lalu ia tersenyum kecil.
“Oh itu?”
“Iya.”
“Cuma kebiasaan.”
Galis merasakan sesuatu yang dingin merayap di punggungnya.
“Kebiasaan buat siapa?”