Sejak malam itu, tidur menjadi sesuatu yang sulit bagi Galis. Setiap kali ia memejamkan mata, yang terbayang selalu meja makan itu. Tiga piring. Tiga sendok. Dan kursi kosong yang seolah tidak pernah benar-benar kosong.
Malam-malam di rumah mereka berubah menjadi sunyi yang aneh. Bukan sunyi yang tenang. Melainkan sunyi yang terasa mengawasi.
Mika tetap menjalani hari-harinya seperti biasa. Ia memasak, membersihkan rumah, menyiram tanaman di halaman depan. Dari luar, tidak ada yang tampak berubah. Namun bagi Galis, semuanya terasa berbeda. Karena setiap malam, kebiasaan itu tetap ada.
Tiga piring.
Mika selalu meletakkan piring ketiga dengan sangat hati-hati, seolah takut menjatuhkannya. Kadang ia bahkan menaruh sendok kecil di sampingnya. Sendok yang biasanya dipakai anak-anak.
Galis memperhatikannya dari jauh. Ada sesuatu yang membuat tengkuknya dingin. Karena Mika tidak pernah melakukannya dengan wajah kosong. Ia melakukannya dengan senyum lembut. Senyum seorang ibu.
Suatu pagi, Galis duduk lama di meja makan setelah Mika pergi ke dapur. Ia menatap kursi ketiga itu.
Kosong. Namun anehnya, ia merasa seperti sedang diawasi.
Galis cepat berdiri. Ia tidak ingin pikirannya semakin kacau.
Di kantor, kegelisahan itu tidak juga pergi.
Komputer di depannya menyala sejak satu jam lalu, namun tidak satu pun pekerjaan benar-benar ia kerjakan. Pikirannya kembali ke rumah. Ke Mika. Ke piring ketiga. Ke sendok yang pernah ia dengar beradu di tengah malam.
“Lis.”
Suara Darto membuatnya tersentak.
“Sejak kapan kamu jadi patung?”
Galis menghela napas panjang.
“Aku tidak tidur semalaman.”
Darto menarik kursi dan duduk di sebelahnya.
“Ada masalah lagi?”
Galis ragu sejenak. Namun akhirnya ia berkata pelan,
“Mika semakin aneh.”
Darto mengangkat alis.
“Masih soal piring itu?”
Galis mengangguk.
“Dia bicara sendiri sekarang.”
Darto tertawa kecil.
“Mungkin kamu yang terlalu serius.”
Namun Galis tidak ikut tertawa.
“Malam kemarin aku dengar dua suara sendok.”
Wajah Darto berubah.
“Kamu yakin?”
“Aku yakin.”
Darto terdiam sejenak.
Lalu ia berkata lebih hati-hati.
“Mungkin Mika butuh bantuan.”
“Kamu pikir dia sakit?”
“Bukan sakit,” kata Darto cepat. “Mungkin dia hanya… belum selesai dengan masa lalu.”
Kata-kata itu membuat Galis menunduk. Ia tahu masa lalu yang dimaksud.
“Delapan tahun lalu,” lanjut Darto pelan, “itu bukan kejadian kecil.”
Galis menghela napas berat.
“Aku sudah mencoba melupakannya.”
“Masalahnya mungkin Mika belum.”
Kalimat itu menggantung di udara.
Beberapa detik tidak ada yang berbicara.
Kemudian Galis berkata,
“Aku berpikir membawa dia ke dokter.”
“Dokter kandungan?”
“Bukan.”
Galis menatap meja.
“Psikiater.”
Darto mengangguk pelan.
“Itu ide yang bagus.”
Namun Galis masih tampak ragu.
“Aku tidak tahu bagaimana mengatakannya.”
Darto tersenyum tipis.
“Kamu bilang saja kamu khawatir.”
Galis menatap jendela kantor.
Langit siang terlihat pucat.
“Aku memang khawatir.”
Ia berhenti sejenak. Lalu berkata lebih pelan.
“Kadang aku takut… Mika benar-benar percaya ada seseorang di rumah itu.”
Darto menepuk bahunya.
“Itu sebabnya kamu harus membawa dia ke dokter.”
Galis mengangguk. Namun jauh di dalam hatinya, ada satu ketakutan lain yang tidak ia katakan pada siapa pun. Ketakutan yang muncul setiap kali ia mengingat suara sendok itu. Karena satu hal terus menghantuinya. Jika Mika hanya berbicara sendiri… Lalu siapa yang memindahkan sendok itu?
###
Sepanjang perjalanan pulang, pikiran Galis hanya dipenuhi satu rencana. Ia harus membawa Mika ke dokter. Atau mungkin psikiater. Apa pun namanya, ia hanya ingin seseorang menjelaskan bahwa semua ini masuk akal. Bahwa apa yang terjadi di rumahnya hanyalah masalah psikologis yang bisa diobati. Bukan sesuatu yang lain.
Mobilnya berhenti di depan rumah menjelang senja. Langit mulai gelap. Rumah itu tampak sama seperti biasanya.
Tenang.
Terlalu tenang.
Galis duduk beberapa detik di dalam mobil sebelum turun. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan dirinya sendiri.
“Semua akan baik-baik saja,” gumamnya.
Ia membuka pintu rumah.
“Aku pulang.”
Seperti biasa, Mika muncul dari dapur.
Ia tersenyum.
“Capek?”
Senyum itu terlihat normal.
Tidak ada yang aneh.
Itulah yang justru membuat Galis semakin bingung.
“Iya,” jawab Galis singkat.
Ia meletakkan tas kerjanya lalu duduk di kursi ruang makan.
Matanya langsung tertuju ke meja.
Belum ada piring. Namun entah kenapa dadanya sudah terasa tidak nyaman.