ORANG KETIGA DI MEJA MAKAN

Embart nugroho
Chapter #5

5

Pagi itu kantor terasa lebih bising dari biasanya. Suara mesin fotokopi, dering telepon, dan percakapan karyawan bercampur menjadi satu seperti dengung yang tidak pernah berhenti. Namun bagi Galis, semua suara itu terasa jauh, seolah ia berada di ruangan yang berbeda dari orang lain.

Ia duduk di kursinya, menatap layar komputer yang sejak tadi tidak benar-benar ia baca. Pikirannya masih tertinggal di rumah. Masih terjebak pada wajah Mika yang pucat. Pada suara bisikan yang tidak pernah ia dengar sendiri, tetapi cukup untuk membuat istrinya ketakutan.

"Galis."

Suara itu membuatnya tersentak. Darto berdiri di samping mejanya sambil membawa dua gelas kopi kertas. Pria itu mengerutkan kening melihat wajah Galis yang seperti orang kurang tidur.

"Ada apa sih? Dari tadi gue panggil, lo nggak nyaut," kata Darto sambil meletakkan satu gelas kopi di meja.

Galis menarik napas panjang.

Ia sempat ragu. Sebagian dari dirinya merasa cerita ini akan terdengar konyol. Tapi sebagian lagi sudah terlalu lelah menyimpannya sendirian.

"Ada yang aneh di rumah gue, Dar," katanya pelan.

Darto langsung duduk di kursi depan meja Galis.

"Aneh gimana?"

Galis mengusap wajahnya. Matanya terlihat lelah.

"Ini tentang Mika."

Darto mengangkat alis.

"Istri lo?"

Galis mengangguk pelan, lalu mulai bercerita. Ia menceritakan bagaimana Mika sering terbangun tengah malam. Bagaimana ia mendengar suara langkah kaki di dapur padahal rumah mereka sepi. Ia juga menceritakan kejadian tadi malam. Tentang Mika yang tiba-tiba bangun dan berdiri di depan pintu kamar, seperti sedang berbicara dengan seseorang yang tidak terlihat.

Saat Galis memanggilnya, Mika hanya berkata satu kalimat yang membuat bulu kuduknya berdiri.

"Dia tidak mau pergi."

Darto mendengarkan tanpa menyela. Semakin lama cerita itu berjalan, semakin serius wajahnya.

"Gue juga pernah lihat sesuatu," lanjut Galis dengan suara yang semakin pelan.

"Apa?"

"Bayangan."

Darto menatapnya tajam.

"Di mana?"

"Di dapur. Waktu gue bangun buat minum air."

Galis berhenti sejenak, seperti sedang mengingat sesuatu yang tidak ingin ia ingat.

"Awalnya gue pikir cuma bayangan lampu jalan. Tapi waktu gue lihat lagi..."

Ia menelan ludah.

"...bayangan itu bergerak."

Suasana di meja kerja mereka tiba-tiba terasa dingin. Darto menghela napas panjang lalu bersandar di kursinya.

"Gue nggak mau bikin lo tambah panik," katanya pelan. "Tapi menurut gue ini bukan sekadar Mika kecapekan atau halusinasi."

Galis menatapnya.

"Lalu?"

Darto menunduk sejenak sebelum berbicara lagi.

"Mungkin ada sesuatu yang nempel sama dia."

Kalimat itu jatuh seperti batu di dada Galis.

"Apa maksud lo?"

Darto menatapnya lurus.

"Makhluk."

Galis langsung menggeleng.

"Ah, jangan mulai yang aneh-aneh, Dar."

"Gue serius."

Darto merendahkan suaranya.

"Di kampung gue dulu ada kejadian mirip. Ada orang yang tiba-tiba sering ngomong sendiri, sering lihat sesuatu yang orang lain nggak lihat."

"Lalu?"

"Katanya ada yang ngikutin."

Ruangan kantor yang ramai itu tiba-tiba terasa menyesakkan bagi Galis. Ia mencoba tertawa kecil, tapi suaranya terdengar kaku.

"Lo lagi nakut-nakutin gue, ya?"

Darto tidak tertawa.

"Gue cuma bilang apa yang gue tahu."

Ia lalu mencondongkan tubuhnya sedikit lebih dekat.

"Kalau gue jadi lo, Lis…"

Galis menatapnya dengan wajah tegang.

"...gue bakal cari orang pintar."

Galis terdiam.

Kata-kata itu menggantung di udara seperti sesuatu yang tidak ingin ia dengar, tetapi tidak bisa ia abaikan.

"Orang pintar?"

"Iya."

Darto mengangguk pelan.

"Buat ngecek apa yang sebenarnya terjadi."

Galis menatap meja kerjanya. Tangannya mengepal pelan.

Rasionalitasnya menolak ide itu. Ia bukan orang yang percaya hal-hal seperti itu. Tapi setiap kali ia mengingat wajah Mika tadi malam… ia juga tidak punya penjelasan lain.

Darto kemudian menepuk bahunya.

"Lebih baik dicek sekarang sebelum semuanya makin parah."

Galis menghela napas panjang.

Di luar jendela kantor, langit terlihat mendung. Awan gelap menggantung rendah seperti sesuatu yang menunggu untuk jatuh.

Akhirnya ia berkata pelan.

"Lo kenal orang seperti itu?"

Darto mengangguk.

"Ada."

"Siapa?"

Darto menatap Galis dengan wajah serius.

"Namanya Pak Wiryo."

Ia berhenti sebentar sebelum melanjutkan.

"Orang-orang bilang… dia bisa melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat manusia biasa."

Galis merasakan sesuatu yang aneh merayap di dadanya. Sementara jauh di rumah mereka—Mika berdiri di depan cermin kamar. Matanya kosong. Bibirnya bergerak perlahan, seperti sedang berbicara dengan seseorang. Namun suara yang keluar dari mulutnya bukan suaranya sendiri.

Lihat selengkapnya