ORANG KETIGA DI MEJA MAKAN

Embart nugroho
Chapter #6

6

Suara sendok yang jatuh di meja masih bergema pelan ketika semua orang di ruang makan itu membeku.

Galis merasa seolah darahnya berhenti mengalir.

Perempuan yang duduk di kursi ketiga itu masih menatapnya. Tatapannya tidak berkedip. Tidak hidup. Namun juga tidak sepenuhnya mati.

Senyumnya tipis. Senyum yang terasa terlalu tenang untuk sesuatu yang tidak seharusnya ada di sana.

Di sampingnya, Mika justru terlihat biasa saja. Ia bahkan tampak… senang.

“Kamu akhirnya lihat dia juga,” kata Mika dengan suara ringan.

Kalimat itu membuat tengkuk Galis meremang.

“Mika…” suara Galis serak. “Kamu… kamu tahu dia ada?”

Mika mengangguk pelan, seolah pertanyaan itu sangat aneh.

“Ya tentu saja. Dia selalu ada di sini.”

Ia menoleh pada perempuan itu dengan hangat, seperti seorang tuan rumah yang sedang memperkenalkan tamu.

“Dia teman makan malamku.”

Darto menelan ludah keras.

“Pak…” bisiknya pada Pak Wiryo. “Itu… itu benar-benar…”

Pak Wiryo mengangkat tangan, memberi isyarat agar ia diam. Matanya tidak pernah lepas dari perempuan di kursi ketiga itu.

Suasana di ruang makan terasa berat. Udara terasa lebih dingin. Lampu di atas meja makan tiba-tiba berkedip sekali.

Perempuan itu perlahan berdiri. Kursinya bergeser pelan di lantai.

Kreeeet.

Mika tetap duduk. Ia bahkan tidak terlihat takut. Sebaliknya, wajahnya terlihat seperti seseorang yang sedang menunggu sesuatu terjadi.

Perempuan itu melangkah satu langkah ke arah Galis. Langkahnya tidak bersuara. Namun lantai terasa bergetar sangat halus.

“Sudah lama sekali…” katanya pelan.

Suaranya serak. Seperti suara seseorang yang berbicara dari dalam sumur yang dalam.

“Aku menunggu…”

Galis mundur satu langkah.

“Tunggu apa?” tanya Galis dengan napas berat.

Perempuan itu tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Mika. Lalu menatap Galis lagi.

Senyumnya semakin lebar.

“Tempatku.”

Udara di ruangan itu tiba-tiba terasa semakin dingin.

Pak Wiryo akhirnya berbicara.

“Cukup.”

Suaranya tegas.

Perempuan itu langsung menoleh ke arahnya. Matanya menyipit sedikit. Seolah baru menyadari ada orang lain di ruangan itu.

Pak Wiryo melangkah maju.

“Ini bukan tempatmu.”

Perempuan itu tertawa kecil.

Suara tawanya pelan… namun anehnya terdengar seperti berasal dari beberapa arah sekaligus.

“Bukan tempatku?” katanya.

Lalu ia menunjuk lantai rumah itu.

“Aku mati di sini.”

Kata-kata itu membuat Darto langsung merinding.

“Aku dikubur di tanah ini,” lanjut perempuan itu.

“Rumah ini dibangun di atas tubuhku.”

Lampu di ruang makan berkedip lagi. Lebih keras kali ini.

Galis menatap Pak Wiryo.

“Pak… apa maksudnya ini?”

Pak Wiryo tidak menjawab. Ia hanya menatap perempuan itu dengan tajam.

“Namamu siapa?” tanya Pak Wiryo.

Perempuan itu diam beberapa detik. Seolah sedang mencoba mengingat sesuatu yang sudah lama terkubur. Lalu ia berkata pelan,

“Saras.”

Mika tiba-tiba tertawa kecil. Semua orang menoleh padanya.

“Mika Saraswati,” kata Mika sambil tersenyum.

Ia menunjuk dirinya sendiri.

“Namaku juga Saras.”

Pak Wiryo langsung menegang. Matanya melebar. Seolah sebuah potongan teka-teki tiba-tiba jatuh ke tempatnya.

Perempuan itu menatap Mika dengan sangat lembut. Lalu berkata pelan,

“Aku menemukannya.”

Ia menunjuk Mika.

“Tubuh yang tepat.”

Galis merasa dadanya seperti dihantam palu.

“Maksudmu apa?!”

Perempuan itu menoleh padanya. Senyumnya kini terlihat jauh lebih dingin.

“Dia tidak akan sendirian lagi.”

Lihat selengkapnya