ORANG YANG DATANG

Aga Lesmana
Chapter #1

BAB 1: Ketukan Sunyi Sebelum Fajar

11 Juli 1996

Malam selalu punya cara tersendiri untuk memeluk sunyi. Ketenangan yang menyusup ini terasa ganjil, dilapisi selembar gundah yang tipis, namun teramat pekat. Ada bisikan di kepala yang terus meyakinkan bahwa semuanya baik-baik saja. Namun, bagi wanita yang tengah menghitung hari menuju persalinan, perasaan tenang itu hanyalah lapisan teratas. Di bawahnya, tertumpuk kecemasan yang entah sedang mengayun tenang atau justru bersiap tersapu arus kencang yang menghantam tanpa ampun.

Lampu temaram berwarna kuning yang menggantung di langit-langit rumah kayu itu menyoroti sudut ruangan dengan magis. Di bawah pendarannya yang redup, mengalun napas-napas teratur, sebuah keluarga kecil yang dibangun di atas fondasi keberanian nekat. Sang Ibu terlelap anggun, mendekap erat bayi perempuan kecil mereka yang sedang bermimpi.

Kehangatan cinta menyeruak di udara, bersambut dengan pelukan sang suami yang mendampingi di sisi luar kasur tipis mereka. Tangan lelaki itu mengulur perlahan, melingkari pinggang istrinya. Dengan gerakan yang teramat santun, jemarinya yang kasar akibat kerja keras membelai lembut gelembung perut sang istri. Di dalam sana, ada kehidupan lain yang tengah berdenyut. Bayi kecil yang dinantikan dengan cemas sekaligus penuh harap.

Dari balik selimut berlapis dua, dengkur halus sang istri terdengar ritmis, bersahut-sahutan dengan napas tenang putri kecilnya. Sementara sang suami, meski matanya terpejam, kesadarannya sebentar-sebentar terjaga. Setiap beberapa belas menit, ia akan membuka mata demi memastikan selimut anak-istrinya tidak tersingkap, menjaga benteng kecilnya dari dunia luar. Damai di hatinya membuncah, seolah di dunia yang fana ini, tidak ada lagi kebahagiaan yang mampu menandingi momen tersebut.

Namun, kedamaian malam itu perlahan terusik oleh sesuatu yang tak kasat mata.

Suara angin di luar samar-samar mengetuk kaca jendela yang kusam, menimbulkan selentingan derit pelan pada engsel pintu kayu. Akhir-akhir ini cuaca ibu kota memang tidak menentu, sering kali mengacaukan ritme hari yang sudah disusun rapi. Tenang dan gundah bertukar silih berganti di dada sang istri, menguras energi yang seharusnya ia simpan untuk hari persalinan yang kian mencekam.

Hujan di tengah malam Jakarta kerap merenggut paksa kehangatan yang telah tercipta susah payah. Pukulnya yang tumpul menghantam dinding-dinding kayu, meninggalkan gema yang mengganggu telinga yang mudah gelisah. Sentuhan angin yang menepuk dinding dan gemerisik daun kering menyentak kesadaran sang istri. Ia terbangun dengan napas tertahan, dadanya berdegup lebih kencang dari biasanya.

"Kamu terbangun, Sayang?" bisik sang suami, suaranya serak namun penuh perhatian.

Istrinya menoleh pelan, mencoba mencari ketenangan di tengah temaram. "Hmmm... aku tidak benar-benar tidur. Suara angin malam ini kelewat mengganggu. Hatiku rasanya gelisah tidak berkesudahan, seperti ada sesuatu yang besar sedang berjalan mendekat."

"Apa mau kubuatkan teh panas?" tanya suaminya, tangannya berpindah mengusap pinggul sang istri dari balik selimut, menyalurkan ketenangan yang tersisa.

"Baiklah. Terima kasih, Sayang."

Senyum tulus terukir di bibir wanita itu. Ditautkannya jemari yang dingin ke dalam genggaman hangat sang suami. Sebelum lelaki itu beranjak, sang istri menarik punggung tangan suaminya yang kasar, mengecupnya lama, sebuah penghargaan mendalam atas segala lelah yang tak pernah lelaki itu keluhkan.

Pelan, tanpa menimbulkan suara, lelaki itu bangkit dari kasur lantai. Langkahnya berjinjit penuh kehati-hatian, berharap putri kecil mereka tetap terlelap dalam rengkuhan sang ibu. Matanya sepintas menangkap pergerakan jarum jam di dinding yang berdebu. Pukul setengah sepuluh malam. Waktu yang tepat untuk membasuh gelisah dengan seseduh teh hangat.

Sesampainya di dapur, ia menyalakan kompor sumbu. Sekali gores, percik api melingkar, menari-nari redup menantang kibasan udara malam. Tangan kekarnya meraih panci aluminium kecil, mengisinya dengan air. Sembari menunggu air mendidih, hawa panas dari kompor menyembur, menjilat kulit wajahnya. Lelaki itu memejamkan mata, menikmati sensasi hangat di tengah malam yang kian dingin. Ingin memastikan kondisi cuaca, ia membuka daun jendela dapur.

Shushhh...

Seketika angin menderu masuk, menerbangkan helai rambut di dahinya. Angin itu berembus kencang, terdengar seperti napas panjang seseorang yang tengah melenguh membawa keresahan dari antah-berantah. Dengan sigap, lelaki itu menahan daun jendela sebelum berdebam keras menghantam dinding luar. Ia ingat betul, ada tidur putri kecilnya yang teramat berharga.

Sambil menarik papan jendela, matanya menatap lurus ke taman kecil di samping rumah. Semak-semak tampak menggembung dan bergoyang hebat diterpa angin, seperti balon-balon hijau yang baru ditiup. Langit Jakarta malam ini sebenarnya gelap bersih, tanpa mendung legam. Hanya ada angin kencang yang mendesis, menerbangkan dedaunan, menciptakan tarian yang sunyi namun mengancam.

"Apa akan hujan, Yang?" sebuah suara lembut memecah lamunan. Ia menoleh cepat ke ambang pintu dapur.

Lihat selengkapnya