ORANG YANG DATANG

Aga Lesmana
Chapter #2

BAB 2: Riuh Pagi dan Rahasia yang Mulai Berjarak

Pagi di rumah kami tidak pernah lahir dari kelembutan sapaan fajar, melainkan dilecut oleh riuh suara yang saling bersahutan.

Saat kesadaranku baru pulih separuh, telingaku sudah dipalu oleh bunyi berisik yang konstan. Tok! Tok! Tok! Suara itu berasal dari ruang depan. Bapak, dengan kaus kutang putihnya yang mulai menguning di bagian bahu, sedang sibuk mengayunkan palu. Ia sedang memaku bilah-bilah kayu jati belanda pada dinding rumah, sebuah proyek dadakan yang baru kusadari belakangan fungsinya.

Bapak sedang membuat rak gantung kecil. Katanya, agar bingkai foto keluarga dan beberapa benda pajangan tidak lagi memenuhi meja ruang depan, sehingga permukaan meja yang sempit itu bisa dialihfungsikan untuk meletakkan vas bunga, sekaligus merangkap sebagai tempat aku dan kakak belajar. Bapak selalu punya cara sendiri untuk menyiasati rumah kami yang sesak dan padat.

Tepat di bawah aktivitas Bapak, sebuah kotak radio hitam di atas meja sengaja diputar dengan volume maksimal, seolah sedang bertaruh nyawa melawan suara hantaman palu. Sang pembaca berita di dalam mesin itu meluncurkan kalimat pagi dengan napas yang kelewat panjang, cepat, dan tanpa putus, sebelum akhirnya menutup sesi dengan gaya formalnya yang khas.

“Selamat pagi para pendengar setia yang senantiasa menemani frekuensi kami di mana pun kalian berada... baik yang sedang menyeduh kopi di teras rumah, maupun yang sedang menerjang macetnya jalanan kota... terima kasih yang tak terhingga telah menjadi bagian dari denyut nadi siaran kami hari ini... tetaplah bersama kami karena setelah ini akan ada melodi yang melintasi batas samudera untuk mengawali perjalanan pagi anda."

Lalu, menyusul sebuah lantunan lagu asing bernada gembira sebagai penanda siaran telah berganti.

Klik!

Melodi berbahasa asing itu mendadak mati kutu. Bapak menekan tombol power dengan telunjuknya yang kasar, memutus paksa aliran suara dari radio. Suasana sempat lenggang selama beberapa detik, menyisakan sunyi yang ganjil, sebelum akhirnya ketukan palu Bapak kembali mengudara, menggantikan kebisingan radio dengan ritme kerja yang lebih egois.

Aku mengucek mata, menyeret langkah kakiku yang masih berat menuju dapur. Namun, alih-alih menemukan ketenangan, atmosfer di dapur justru jauh lebih bising dan mengintimidasi. Ibu berdiri di depan kompor dan meja racik, bersenandung riang dengan nada yang agak berkejaran dengan ketukan palu Bapak. Di depannya, sebilah pisau dapur bergerak konstan dan cepat. Tak! Tak! Tak! Wortel, tomat, buncis, dan siung bawang putih berkelontangan, menari-nari liar di atas talenan kayu yang permukaannya sudah cekung dimakan usia.

Sepertinya orak-arik sayuran lagi yang akan jadi bekal sekolah kami hari ini, pikirku, sambil menatap nanar pada gunungan buncis. Mataku kemudian beralih ke satu-satunya harapan hidup pagi ini, yaitu meja makan. Di sana, terlihat kakak perempuanku, Dita, sedang sibuk meraih piring-piring seng dan gelas di sekeliling meja, menumpuknya menjadi satu menara rapuh di tengah.

Saat menyadari keberadaanku di ambang pintu, ia menghentikan gerakannya sebentar, menatapku dengan binar kemenangan yang teramat menyebalkan.

“Sarapanmu udah kumakan,” katanya pelan, tanpa dosa, bahkan tanpa repot-repot memandang wajahku secara penuh.

Sebelum aku sempat memprotes atau mengeluarkan jeritan kelaparan, ia sudah bergegas membawa tumpukan alat makan itu ke bak cuci piring sambil melompat-lompat riang. Gelas beling bermotif bunga, hadiah dari pembelian sabun cuci batangan, bertemu dengan sendok-sendok aluminium, menciptakan paduan suara klenting-klentang yang riuh, seolah merayakan perutku yang mendadak keroncongan.

Aku, Si Pencerita, anak bungsu laki-laki dalam keluarga ini, hanya bisa menampakkan wajah bersungut-sungut. Sebal setengah mati! Perutku sudah memberi sinyal protes yang perih, tetapi jatah energiku untuk hari ini telah amblas berpindah ke dalam perut Kakak. Dengan sisa-sisa kesabaran, kuarahkan pandangan ke jam dinding plastik yang tergantung tepat di atas pintu kamar mandi. Jarumnya menunjuk tepat di angka pukul setengah tujuh pagi. Mataku membelalak. Eh, kesiangan!

"Kok aku nggak dibangunkan, sih?!" tanyaku setengah berteriak, mengarahkan dongkolku pada dua wanita di dapur tersebut.

Kakak berbalik sebentar, mematikan kran air. Mukanya mendadak berubah datar, memasang wajah paling tidak bersalah sedunia. "Udah dari setengah jam yang lalu kami teriakin sampai tenggorokan mau copot. Kamu cuma ngejawab 'sebentar... sebentar...' melulu dari balik selimut," cibirnya, lalu kembali sibuk menggosok permukaan piring dengan gerakan memutar yang sengaja diperlambat untuk mengejekku.

"Mana ada?! Aku akhirnya bangun ini karena suara ribut-ribut kalian, loh!" balasku dengan nada yang tak kalah dongkol. Mengakui kesalahan di depan Kakak adalah pantangan besar. Sambil bersungut-sungut, kuayunkan kakiku, mendorong pintu kamar mandi dengan sentakan kasar.

DUGH!

Sesuatu yang keras dan dingin menghantam pundak belakangku dengan telak. Aku terlonjak. Di atas lantai semen, setengah potongan wortel mentah menggelinding pasrah. Aku menoleh dengan cepat ke arah sumber serangan.

"Makin gede makin susah dibangunin! Dibilangin juga malah ngeyel. Mau Ibu lempar lagi pakai tomat ini biar kepalamu benjol?" Ibu mengacungkan sebuah tomat merah besar ke udara dengan wajah bersungut-sungut. Sementara tangan satunya yang memegang talenan kayu dikibas-kibaskan di udara, persis seperti seorang panglima perang yang siap memberi komando serbuan maut.

Di sudut lain, Kakak tertawa puas tanpa suara. Ia memeletkan lidahnya ke arahku, tampak sangat menikmati posisiku yang terpojok, lalu dengan gerakan kemenangan ia meletakkan piring cucian terakhir ke dalam keranjang pengering.

Aku? Tentu saja, tanpa pikir panjang lagi, segera melompat masuk ke dalam kamar mandi. Otakku langsung menghitung kalkulasi matematis: jika aku membantah satu patah kata lagi, tomat di tangan Ibu dan mungkin talenan kayunya akan benar-benar melayang bebas dan mendarat mulus di dahiku.

Kutarik handuk kumal di gantungan samping pintu dengan gerakan secepat kilat, lalu menutup pintu kamar mandi dengan sebuah gebrakan pelan. Brak!

Gawat. Atmosfer di dalam kamar mandi terasa begitu menekan. Tidak ada lagi waktu untuk melamun atau meratapi nasib perut yang kosong pagi ini. Satu-satunya misi adalah kecepatan. Kubasuh kepalaku dengan segayung air yang luar biasa dingin pagi itu. Sensasi sedingin es itu seketika menyengat saraf-saraf kepalaku, mengusir paksa sisa kantuk dan menggantinya dengan rasa panik. Waktu berangkat sekolah sudah mepet sekali, seuntai doa mulai kurajut di dalam hati, semoga saja dewi keberuntungan berpihak pada kami agar tidak terlambat.

 

Lihat selengkapnya