Pagi itu, suasana longgar yang biasanya menggelayuti hari-hari kami di sekolah seketika menguap tanpa bekas. Aturan kedisiplinan berembus kencang, memaksa semua murid tanpa terkecuali untuk mengenakan seragam lengkap beserta seluruh atribut berupa topi merah putih, dasi yang mencekik leher, ikat pinggang berlogo, kaus kaki putih bersih, dan sepatu hitam legam. Transformasi instan ini mengubah ratusan anak yang biasanya serampangan menjadi barisan formal yang kaku, menegaskan identitas kami sebagai siswa yang disiplin, terkoordinasi baik, dan patuh pada sistem.
Lapangan sekolah yang biasanya terasa lapang kini mendadak padat dan menyempit drastis. Ruang gerak kami terpangkas oleh kedatangan rombongan tamu dari sekolah lain. Hari ini adalah panggung bagi kompetisi tahunan antar-sekolah, sebuah gelaran besar yang diagungkan untuk menjaga hubungan baik sekaligus wadah kolaborasi antarperwakilan siswa.
Setiap kelas dipaksa membentuk barisan lurus yang rapi. Di barisan depan, para ketua kelas sibuk berteriak, mengatur pasukan kelasnya masing-masing agar tidak bergeser dari posisi yang telah ditentukan.
Di atas kami, langit biru membentang bersih tanpa sekat. Matahari yang terik mulai menanjak naik, memancarkan pendar yang menyengat kulit. Hanya ada segumpal awan kecil yang bergerak lambat, yang sesekali berbaik hati menutupi matahari, memberikan jeda kelegaan beberapa detik bagi kami yang sudah mengucurkan keringat deras dengan mata menyipit silau.
Sejak bel berdentang kami dijemur di atas lapangan semen ini. Gumaman jengkel dan keluhan bernada rendah mulai berdengung dari ratusan mulut murid yang kelelahan. Di atas podium, pidato sambutan entah dari siapa seperti tidak punya tanda-tanda akan selesai. Kami mendengarkannya dengan tubuh yang kian gontai. Pundak-pundak yang tadinya tegap kini melorot pasrah, pelipis yang basah oleh peluh dibiarkan begitu saja tanpa diseka, dan mata kami mulai celingak-celinguk, saling melempar tatapan sebal bin dongkol pada teman di sebelah.
Kulihat jauh di depan sana, barisan guru berdiri rapi dan tampak begitu nyaman di bawah rindang pohon pelindung sekolah. Mereka menyimak pembicara di atas podium yang sudah berceloteh hampir dua puluh menit lamanya. Entah apa yang sedang dikatakannya, suaranya mengabur detik demi detik karena angin, dan sekarang suara itu sampai di telingaku serupa bisikan lebah yang mendengung menjemukan.
Namun, kebosanan yang menjemukan itu pecah saat ketua kelas kami, David, melangkah maju dua langkah. Ia menarik napas dalam, lalu memberi aba-aba dengan berteriak lantang. Suaranya yang menggelegar beradu bising dengan ketua-ketua kelas lain yang juga sedang merapikan barisan mereka.
“Siap. GRAK!”
Seketika semangatku yang sempat layu langsung bangkit. Gumaman jengkel di sekitarku menghilang instan. Kami semua menarik napas lega yang panjang. Akhirnya, siksaan pidato itu selesai dan upacara kolosal ini akan segera diakhiri, tepat beberapa menit sebelum ada korban pingsan yang berjatuhan.
Oh, iya. Di tengah riuh lapangan ini, aku ingin mengenalkan David, sahabat terbaikku. David adalah anak dengan kepribadian tegas yang melampaui usianya. Geraknya selalu cekatan, bicaranya lugas, dan ia memiliki kemampuan untuk membaur dengan cepat di kerumunan mana pun. Dia adalah tipe anak emas sekolah yang aktif di berbagai kegiatan ekstrakurikuler, masuk tim olahraga, dan satu hal yang paling sering membuatku heran sekaligus iri adalah temanku itu selalu memiliki stok percaya diri yang tidak pernah habis.
Dengan semua atribut mentereng itu, tidak ada anak yang lebih tepat di antara kami semua untuk menyandang jabatan ketua kelas selain David. Saat pemilihan di awal semester dulu, begitu namanya keluar sebagai pemenang, tidak ada seorang pun yang meragukan kemampuannya untuk memimpin koloni kelas kami yang nakal.
David sangat dekat denganku. Kami secara alami langsung klop sejak pertama kali menginjakkan kaki di kelas satu, dan kedekatan itu terus mengental hingga kini di kelas dua.
David juga anak yang cukup berprestasi, namanya langganan masuk peringkat sepuluh besar dan menjadi kebanggaan para guru. Karena statusnya itu, ia kerap dimintai tolong oleh guru untuk memanggil pengurus kelas lain pada jam istirahat. Dan tebak siapa yang selalu diseretnya untuk ikut berkeliling? Tentu saja aku.
Sebenarnya, setiap kali diajak David berkeliling dari kelas ke kelas, aku selalu merasa segan luar biasa. Aku tidak begitu mengenal anak-anak dari kelas lain, dan jujur saja, ada rasa minder yang mengakar di dalam dadaku setiap kali harus berhadapan dengan anak-anak luar. Terutama sejak aku mengetahui fakta bahwa keluargaku sering menunggak uang sekolah berbulan-bulan, belum lagi uang keperluan wajib lainnya seperti buku paket dan seragam. Kenyataan tentang keterbatasan ekonomi itu perlahan menjelma menjadi dinding kaca yang membuatku tidak percaya diri untuk bergaul terlalu luas. Entah David menyadari perang batin yang kuhadapi ini atau tidak, dia tidak pernah membahasnya.
David duduk di meja tepat di sebelahku. Di kelas, ia adalah motor penggerak obrolan kami yang selalu seru, yang biasanya akan ditimpali dengan heboh oleh Sherly, teman sebangkuku. Jika jam pelajaran kosong, kami bertiga sering kali terjebak dalam obrolan yang sama sekali tidak masuk akal, mulai dari membahas alien hingga konspirasi tukang jajanan di depan gerbang.