Sepulang sekolah, di sepanjang jalan gang yang berdebu, aku tidak bisa lagi menahan rahasia itu sendirian. Dengan suara pelan, aku menceritakan setiap jengkal obrolan yang tidak sengaja kuuping di ruang guru tadi kepada Kakak. Mendengar penuturanku, langkah kaki Kakak mendadak melambat. Raut wajahnya seketika diselimuti kebingungan yang sama besar, menegaskan bahwa ia pun buta arah mengenai rencana Ibu.
Di bawah terik siang yang menyengat, kami berdua akhirnya berjalan beriringan sambil merajut berbagai asumsi liar. Berdasarkan topik bahasan yang kudengar, kesimpulan kami bermuara pada satu kenyataan pahit bahwa tampaknya kami akan dipaksa untuk pindah sekolah.
"Bakal jauh nggak ya pindahnya, Ga?" tanya Kakak, dengan nada cemas yang menyelinap ganjil.
"Kayaknya jauh banget, Kak. Soalnya kan kata Ibu tadi, dia sendiri belum tahu kapan bisa balik lagi ke rumah kontrakan kita," jawabku sambil memelankan langkah kaki, memberi jalan pada sebuah becak yang melaju lambat dari arah depan gang.
"Atau... jangan-jangan kita nggak bakal pernah balik lagi ke Jakarta?" Kakak menerka dengan tatapan yang menunduk dalam, tenggelam dalam bayang-bayang ketakutan yang mendadak nyata.
"Nggak tahu sih," bisikku lirih.
Setelah kalimat terakhir itu lolos, kami berdua seperti kehilangan kata-kata. Sunyi melalap sisa perjalanan kami, dan di dalam kepala masing-masing, pertanyaan tentang alasan di balik keputusan sepihak ini terus berisik, menuntut jawaban yang enggan bertamu.
Setibanya di rumah, suasana kontrakan menyambut kami dengan kehampaan dan sunyi. Ibu belum juga pulang. Beruntung, kami selalu membawa kunci cadangan, sehingga kami bisa masuk tanpa harus tertahan di luar.
Setelah melepas beban tas sekolah, kami menyantap makan siang dengan lauk seadanya yang membeku di atas meja, lalu mengalihkan gelisah dengan mencicil pekerjaan rumah. Di dalam hati, kami berdua menaruh harapan besar agar Ibu bisa cepat pulang sore ini, sehingga kami bisa langsung menanyainya lebih lanjut perihal urusan di sekolah tadi.
Namun, sang waktu bergulir tanpa kompromi. Sore berganti magrib, dan magrib melebur menjadi malam yang larut. Hingga jarum jam dinding plastik di ruang depan menunjukkan tepat pukul delapan malam, siluet Ibu tidak kunjung tampak.
Sinar lampu temaram mengurung ruang tengah. Untuk mengusir rasa cemas yang kian menggelembung di dada, aku dan Kakak memilih untuk duduk di lantai, melanjutkan pekerjaan rutin kami melipat kertas kantong gorengan. Jemari kami berkejaran dengan detak jantung yang tidak tenang, hingga akhirnya, ketukan di pintu depan memutus kesunyian malam.
"Ditaaa... Dita..." sebuah suara memanggil dari kegelapan luar.
Saat namanya diserukan, Kakak langsung beranjak berdiri dengan cepat dan bergegas membuka daun pintu depan, sementara aku menajamkan pendengaran dengan kewaspadaan penuh.
Tidak lama kemudian, Kakak kembali melangkah masuk ke dalam rumah dengan sebuah kantong plastik putih di tangannya. Aroma gurih yang kuat langsung menyeruak memenuhi ruangan, menguar dari dua potong ayam goreng tepung ala Kentucky yang biasa dijual di gerobak pinggir jalan.
"Kakak tetangga sebelah yang antar, katanya dari Ibu. Tadi mereka nggak sengaja ketemu di jalan besar depan gang," ucap Kakak buru-buru sebelum aku sempat meluncurkan satu pun pertanyaan. "Ibu juga bilang kalo lagi ada urusan mendesak yang belum selesai. Kita berdua disuruh makan malam duluan. Terus kalo udah selesai ngerjain PR, kita harus langsung tidur dan nggak perlu nungguin Ibu."
Aku tidak mengeluarkan sepatah kata pun untuk merespons, namun seluruh rongga dadaku mendadak digerogoti oleh rasa gelisah yang luar biasa hebat. Ini tidak masuk akal. Tidak biasanya Ibu menitipkan pesan lewat orang lain dan belum pulang hingga jam segini tanpa kejelasan. Apakah ada masalah besar yang sedang terjadi di luar sana? Apakah ini ada hubungannya dengan kondisi ekonomi kami? Atau sesuatu yang lain? Malam itu, ketidaktahuan menjelma menjadi siksaan yang paling sunyi.
Kami berdua akhirnya mengambil dua piring berisi nasi putih hangat. Namun, alih-alih menghabiskan dua potong ayam goreng itu secara rakus, melalui kesepakatan tanpa kata, kami hanya menyentuh satu potong saja. Kami membelahnya menjadi dua bagian sama besar, sengaja menyisakan potongan yang utuh untuk jatah makan Ibu jika nanti beliau pulang didera lapar di tengah malam.
Usai mengisi perut kami yang sempat keroncongan, kami memaksakan diri untuk melanjutkan kegiatan melipat sisa kertas kantong gorengan dalam balutan gundah.
Tepat pukul sepuluh malam, setelah memastikan seluruh selot pintu terkunci rapat, kami beranjak ke tempat tidur, mencoba memejamkan mata di bawah bayang-bayang kecemasan yang kian pekat.
*****