Awal bulan Oktober tahun ini membawa mendung yang tidak hanya bergelayut di langit Jakarta, tetapi juga di dalam dadaku. Hari itu terasa sangat kelabu dan membuatku sedih sekali. Tanpa ada aba-aba atau tanda-tanda sebelumnya, Ibu memanggilku dan Kakak untuk duduk melingkar di atas lantai.
Dengan suara yang diusahakan tetap tenang meski getarnya tidak bisa disembunyikan, Ibu memberitahu kami sebuah keputusan besar bahwa kami akan segera pindah sekolah sekaligus meninggalkan rumah kontrakan ini. Ibu mengajak kami kembali ke kampung halamannya yang jauh di daerah untuk kembali ke rumah Kakek dan Nenek, menetap bersama keluarga besar dari pihak Ibu.
Meski aku dan Kakak tidak melayangkan protes atau merengek layaknya anak kecil, kami berdua sebenarnya memendam rasa sedih yang amat mendalam. Sangat berat rasanya harus meninggalkan sekolah yang sekarang, lingkungan gang yang bising, dan yang paling mengiris hati adalah berpisah dengan teman-teman dekat kami. Apalagi selama ini kami sudah merasa kelewat nyaman, aman, dan terbiasa di tempat di mana kami dibesarkan dan tumbuh dari kecil. Di sinilah seluruh memori masa kecil kami tertanam, dan sekarang, semua itu harus dicabut paksa sampai ke akarnya. Sebuah perpisahan yang datang terlalu pagi sebelum kami sempat bersiap.
Namun, di tengah kemuraman rencana kepindahan itu, sebuah keajaiban kecil datang kemarin sore. Ibu tiba-tiba memberikan izin yang sangat langka bahwa aku diperbolehkan bermain ke rumah Sherly sepulang sekolah. Ibu bilang, beliau mendapatkan kabar dari ibunya David yang tentu saja mendapatkan aduan dari anaknya yang cerewet itu karena aku selalu menolak ajakan bermain. David tampaknya sengaja melapor pada ibunya agar ibuku luluh dan tidak memaksaku melipat kertas terus-menerus.
“Nggak apa-apa, pergi aja. Kan, Sherly ngajak belajar bareng sepulang sekolah. Tapi ingat, jangan pulang kesorean, ya,” ucap Ibu ramah sembari jemarinya tetap cekatan menempelkan lem Rajawali pada lembaran kertas di depannya.
Aku tentu saja langsung merasa senang bukan kepalang. Walau di balik kegembiraan itu, ada kenyataan pahit yang berbisik di dalam benakku, aku tahu betul bahwa mungkin ini adalah waktu bermain terakhir yang tersisa bersama sahabat-sahabatku sebelum kami sekeluarga benar-benar mengemas baju ke dalam kardus dan pindah ke rumah Kakek.
Maka, begitu bel pulang sekolah berbunyi nyaring hari ini, aku dan David langsung melesat menuju rumah Sherly untuk mengerjakan PR bersama sesuai mandat. Kami bertiga mengambil posisi duduk lesehan di teras depan rumahnya yang rindang, terlindung dari sengatan matahari oleh pohon mangga yang lebat, ditemani semilir angin lembut yang berembus konstan.
Sadar bahwa kami adalah tamu yang butuh asupan energi, mamanya Sherly dengan sangat baik hati membawakan kami tiga gelas besar es limun yang dingin berselimut embun, lengkap dengan satu mangkuk besar berisi biskuit kelapa renyah.
Tiga puluh menit berlalu dalam ketenangan. Di luar dugaan, kerja sama kami membuahkan hasil yang gemilang, seluruh tugas Bahasa Indonesia dan PPKN yang biasanya membuat kepala berdenyut selesai kami babat habis. Begitu buku terakhir ditutup dengan suara plak yang memuaskan, tubuh kami seketika ambruk. Kami berbaring telentang di atas lantai teras yang dingin, memejamkan mata sebentar untuk mengistirahatkan otak dari lelahnya belajar dan melihat deretan soal-soal yang menjemukan.
Angin lembut sore itu menderai kulit kami yang gerah, membawa aroma kering daun-daun mangga yang menenangkan hati. Cuaca hari ini benar-benar teduh dan seolah sengaja bersahabat untuk merayakan hari-hari terakhir kami. Keheningan teras itu tidak bertahan lama. Dari dalam rumah, Kak Shinta, berjalan keluar sambil membawa sebotol besar Sprite dingin yang beruap. Melihat botol hijau legendaris itu, wajah kami yang tadinya kusut dan kuyu karena lelah belajar seketika berubah semringah.
"Wah, pasokan amunisi datang!" seru David langsung duduk tegak.
Kami bergegas menuangkan cairan soda bening itu ke dalam gelas plastik bekas es limun kami yang masih menyisakan bongkahan es batu. Buih-buih sodanya yang meletup-letup naik ke permukaan terlihat sangat menggoda, minta cepat-cepat untuk diteguk ke dalam kerongkongan. Glek... glek... Segar sekali rasanya! Rasa manis dan sensasi menyengat khas soda langsung mengembalikan kewarasan kami yang sempat menguap. Tawa kami kembali menyala di bawah bayang-bayang daun mangga.
“Nah, PR kan udah selesai semua. Daripada bengong di sini, mending kita main aja yuk di lapangan sekolah!” ajak Sherly dengan mata berbinar-binar sambil memasukkan buku-buku paketnya kembali ke dalam tas sekolah dengan gerakan bersemangat.
David langsung menyambut ajakan itu, tangannya ikut bergerak cepat memasukkan buku ke dalam tasnya, “Yuk! Pas banget nih, cuacanya lagi teduh dan nggak panas sama sekali.”
“Tapi, kita mau main permainan apa di sana?” tanyaku sambil meraih tas ranselku, lalu meneguk sisa Sprite terakhir di gelasku sampai memunculkan suara sedotan yang nyaring.
"Emm... main apa ya?" Sherly mengetuk-ngetuk dagunya, berpikir sejenak dengan dahi berkerut, lalu sedetik kemudian wajahnya langsung cerah, "Ah! Main permainan kartun aja! Seru pasti!"
"Eh? Permainan kartun? Contohnya gimana, Sher?" Aku, David, dan Shinta serempak bertanya dengan nada bingung.