Setelah urusan dengan pihak berwajib beres, fokus Sherly langsung terkunci kembali ke arah David. Sementara aku masih sibuk menata napas setelah insiden menabrak tempat sampah, Sherly sudah melipat mukanya masam.
Ia kelihatan sangat dongkol karena taktik serangannya dipatahkan oleh sihir balasan yang tak terduga. Sherly mencak-mencak tidak terima selama beberapa detik, sebelum akhirnya terpaksa tunduk pada aturan permainan. Ia mulai berpura-pura marah dengan wajah memerah padam sambil mengentak-entakkan kakinya ke tanah seolah-olah baru saja tidak sengaja menelan bulat-bulat sebutir paprika hijau yang rasanya super pedas dan membakar lidah.
“Lho, lho, lho! Kok ekspresi marahnya alami banget sih, Sher? Kayaknya itu bukan akting deh, tapi emang bawaan lahir wajahmu begitu! Hahaha!” goda David dengan santai, sengaja memeletkan lidahnya ke arah Sherly untuk menambah bensin di dalam kobaran api amarah sahabat kami itu.
Sherly langsung melotot tajam, wajahnya yang pura-pura marah kini berubah menjadi kekesalan yang sejati karena dikatai begitu. “Awas aja kamu ya, David jangkung!” teriaknya kesal sambil melayangkan beberapa pukulan dan tinjuan ke udara kosong, membayangkan udara itu adalah wajah David.
Kini, David memegang tongkat estafet sebagai Nyonya Majoline yang baru. Dan tebak siapa yang langsung menjadi target bidikan matanya yang licik? Tentu saja aku yang baru saja berhasil menegakkan tubuh dengan susah payah dari tumpukan sampah daun kering! Oh, tidak! Ini bencana!
Aku langsung pontang-panting berlari menyelamatkan diri begitu melihat David mulai berlari ke arahku dengan seringai jahat. Halah, mampus! Rasanya seperti sedang dikejar beruang kelaparan yang siap menerkamku bulat-bulat dari arah belakang.
Dikejar oleh David yang terkenal sebagai pelari tercepat di tim olahraga sekolah tentu saja membuatku harus memutar otak dua kali lebih keras. Aku harus memikirkan cara terbaik untuk bisa lolos dari kejaran maut ini. Kira-kira pakai taktik apa ya yang paling oke? Oh! Sebuah ide licik mendadak melintas di dalam benakku saat melihat posisi Shinta yang sedang berdiri tidak jauh dari jalur lariku. Gunakan Shinta sebagai umpan pelindung, pikirku cepat.
Tanpa membuang waktu, aku langsung membelokkan arah tubuhku secara ekstrem menuju ke arah Shinta yang kebetulan sedang berjalan santai mengarah ke tiang ring basket di sudut lapangan. Angin sore yang kencang menerpa pelipisku yang sudah banjir oleh keringat dingin. Begitu jarakku sudah sangat dekat dengan ring basket, aku secara refleks melompat ke depan, menjadikan tubuh Shinta sebagai perisai manusia dan memeluk tiang besi ring basket itu erat-erat dari belakang tubuhnya agar David tidak bisa menyentuhku.
"Ehh! Apa-apaan ini! Sana kamu jauh-jauh dari aku, Arga! Hush! Curang banget masa bawa-bawa penyihir yang lagi aktif ke arah sini sih!" teriak Shinta panik begitu menyadari aku sengaja menempel di belakangnya, membuat bahu kami berdua bersentuhan erat di balik tiang ring yang sempit. Shinta kemudian berusaha mendorong tubuhku menjauh dengan menggunakan satu tangannya yang bebas, “Ihh... pergi nggak kamu dari sini! Jauh-jauh!” matanya melotot lebar, melayangkan tatapan mengancam yang dipenuhi rasa takut disihir lagi.
"Arghhh. Numpang berlindung sebentar juga, pelit amat sih, Kak!" kataku seenaknya dengan nada memelas, sambil balas mendorong badannya menggunakan bahuku agar posisiku tidak bergeser dari perlindungan tiang.
Terjadilah aksi saling dorong yang konyol dan sengit antara tangan Shinta dan bahuku di balik tiang ring basket yang sempit itu.
David yang melihat kami berdua malah berkumpul dan terjebak di satu titik sempit langsung menghentikan larinya, menyeringai jahat dengan ekspresi wajah yang luar biasa puas. Ia berjalan mendekat dengan perlahan, menikmati kepanikan mangsanya. "Wah, wah, wah. Dapat bonus besar nih! Ada dua mangsa empuk berkumpul jadi satu. Kira-kira yang mana dulu ya yang harus aku sihir?" goda David sambil memainkan jari-jarinya di udara.
"Aku kan udah pernah kena sihir tadi, Dave. Ini si Arga yang dari tadi belum pernah kena sihir sama sekali! Sihir dia aja dulu!" teriak Shinta panik luar biasa sambil telunjuknya mengarah tepat ke wajahku yang ada di sebelahnya, tega mengorbankan junior demi keselamatan sendiri.
"Eh, kok malah pilih kasih begitu sih, Kak! Nggak adil dong! Terserah Dave lah mau memilih menyihir siapa saja yang dia suka, kok malah diatur-atur!" jawabku dengan napas yang sudah ngos-ngosan, sambil terus menggerakkan badanku ke kanan dan ke kiri di belakang tubuh Shinta untuk menghindar dari jangkauan tangan David.
Di tengah ketegangan aksi saling dorong itu, kami sempat melirik ke arah tengah lapangan. Di sana, Sherly yang status sihir paprikanya masih melekat tampaknya sudah merayakan kebebasannya dengan cara yang aneh. Ia sibuk melakukan lompatan-lompatan tinggi di udara, berputar-putar sendiri seperti penari balet yang gagal. Entah karena merasa sangat senang melihat aku dan Shinta terjebak dalam posisi mati kutu, atau memang terlalu mendalami perannya sebagai hantu yang aneh. Hanya ia dan semesta yang tahu apa isi kepalanya saat itu.
Melihat fokus David agak teralih ke arah gerakan aneh Sherly, sebuah ide kecohan mendadak muncul di kepalaku. Aku harus memanfaatkan momen ini!