ORANG YANG DATANG

Aga Lesmana
Chapter #7

BAB 7: Bahasa Isyarat dan Robekan Tersembunyi di Lantai Semen

Pada akhir pekan, matahari di luar rumah kontrakan kami bersinar sangat terik, memancarkan hawa panas yang rasanya sanggup melelehkan lapisan semen di jalanan gang depan. Di dalam ruang tamu rumah kami yang ukurannya sangat sempit dan pengap, suasananya tidak jauh berbeda, terasa begitu membakar ditambah dengan aroma pekat minyak goreng bekas sisa menggoreng kerupuk dagangan yang menempel di dinding.

Di depanku dan Kakak, berserakan ratusan lembar kertas HVS bekas dari berbagai dokumen kantor yang sudah tidak terpakai. Tugas kami siang ini adalah melipat lembaran-lembaran kertas itu satu demi satu menjadi bentuk kantong wadah gorengan, lengkap dengan sebuah baskom berukuran besar berisi kerupuk matang yang harus segera kami masukkan ke dalam kantong-kantong plastik tipis.

Jemari tanganku sudah mulai terasa kaku dan pegal karena terus melakukan gerakan menekuk yang sama, bau minyak tipis mulai menempel di pori-pori kulitku, dan kepalaku sudah mulai terasa pusing, mendesakku untuk segera menyelesaikan semua tumpukan urusan ini agar aku bisa segera pergi mandi membersihkan badan.

Tiba-tiba, daun pintu depan rumah yang sengaja diganjal menggunakan sebuah batu kali agar tetap terbuka sedikit, dihentakkan dari luar dengan cukup kasar hingga memunculkan suara dentuman kayu. Tanpa ada ketukan pintu formal sebelumnya, dan tanpa ada salam pembuka yang sopan, sebuah bayangan tubuh yang tinggi dan kurus langsung menerobos masuk begitu saja melewati batas pintu.

Itu David.

"Arga! Wahai sang penguasa jagat raya per-gorengan! Hari ini kerajaan sempitmu kedatangan seorang tamu agung dari kerajaan seberang!" seru David dengan nada suara yang dibuat-buat sedramatis mungkin, lengkap dengan mengangkat sebelah tangannya ke udara seolah-olah dia baru saja berhasil memenangkan piala dunia sepak bola.

Di belakang punggung David, Sherly melangkah masuk menyusul sembari mulutnya sibuk mengunyah es mambo rasa cokelat di dalam bungkus plastiknya yang sudah mulai mencair. "Berisik banget sih kamu, Dave! Ini rumah orang tau, bukan lapangan bola sekolah tempat kamu bisa teriak-teriak seenak jidat!" omel Sherly dengan nada ketus, walau sedetik kemudian ekspresi wajahnya langsung berubah drastis menjadi sebuah senyuman lebar saat matanya menatap ke arah posisiku.

Aku dan Kakak hanya bisa duduk terdiam di atas lantai semen, mulut kami setengah terbuka karena benar-benar kaget dengan kejadian yang tiba-tiba terjadi di depan mata kami ini. Sebelum aku sempat membuka mulut untuk meluncurkan satu pun pertanyaan, Sherly dengan cepat sudah memberikan penjelasan kepadaku dan Kakak tanpa diminta. Ia bilang, mereka berdua sudah mengantongi izin resmi dari Ibu kami untuk datang bermain ke rumah siang ini. "Tadi pagi ibuku tidak sengaja ketemu dengan ibumu di pasar besar dekat gang depan, jadi tenang aja, kami nggak sedang menyelinap kok. Hehehe," katanya sambil memamerkan cengiran lebarnya yang begitu khas.

Tanpa perlu menunggu dipersilakan duduk atau meminta permisi secara sopan, David dengan tingkat kepedean tingkat dewanya langsung menjatuhkan pantatnya begitu saja di atas lantai semen, mengambil posisi tepat di sebelah tempat dudukku. Dengan gerakan tubuh yang super santai, seolah-olah hamparan ratusan kertas bekas di depan kami adalah sebuah mainan baru yang paling canggih dan mahal di muka bumi, tangan panjangnya langsung menyambar satu tumpukan besar, dan melemparkan ke depan tubuhnya.

"Minggir, minggir! Biar ahli pelipat kertas profesional yang turun tangan membereskan semua ini. Kamu kalo kerja kelamaan sih, Ga, lambat kayak siput," ujar David dengan nada sombong yang menyebalkan, sembari jemarinya mulai bergerak cepat melipat kertas bekas itu dengan kecepatan tinggi namun sayangnya dilakukan secara asal-asalan.

Bukannya menghasilkan sebuah lipatan kantong gorengan yang rapi dan simetris, kertas di tangannya malah berubah bentuk menjadi sebuah trapesium penyok yang bentuknya sangat aneh dan tidak beraturan. Aku melotot lebar melihat hasil karyanya yang hancur, lalu sedetik kemudian tawa pertamaku siang itu pecah begitu saja dari mulutku. "Heh, Dave! Itu kantong tempat gorengan, bukan origami kapal-kapalan buat main di got! Kalo bentuk bawahnya miring dan penyok begitu, nanti pas tukang gorengannya masukin tahu isi malah bakal merosot jatuh ke tanah tau!"

"Lha, kamu ini justru nggak paham taktik pemasaran dan jualan baru, Arga temanku yang otaknya kurang pintar berpikir kreatif," balas David dengan ekspresi wajah yang dibuat super serius dan penuh keyakinan palsu. "Ini namanya kantong gorengan modern. Pembeli jadi merasa tertantang pas beli. Kalo mereka berhasil mengambil dan memakan gorengan tanpa membuat isinya jatuh dari kantong miring ini, berarti mereka orang hebat dan bakal dapat pahala melimpah."

"Pahala matamu, Dave! Yang ada tukang gorengannya bangkrut karena diamuk pembeli!" sahut Kakak dari seberang tempatnya duduk sambil tangannya melayangkan satu dorongan cukup keras di bahu David.

Kami semua akhirnya tertawa terpingkal-pingkal di atas lantai semen, membuat otot perutku yang tadinya terasa tegang dan kaku akibat cemas mendadak menjadi rileks kembali.

Sementara aku dan David sibuk berdebat sengit soal kedaulatan bentuk kantong kertas, Sherly berjalan dengan langkah santai menuju ke sudut ruangan dekat pintu. Dia mengambil posisi duduk lesehan di ambang pintu depan, sengaja memanfaatkan sedikit embusan angin sepoi-sepoi yang masuk dari luar rumah untuk mengusir gerah. Di depannya, sebaskom besar kerupuk matang yang baru saja dingin sudah siap untuk dieksekusi. Dengan gerakan jemari yang sangat cekatan, ia mulai memasukkan kerupuk-kerupuk itu ke dalam kantong plastik tipis satu demi satu, mengumpulkannya ke dalam sebuah kardus bekas sebelum nantinya kantong plastik itu akan direkatkan bagian ujungnya menggunakan bantuan nyala api lilin.

Sembari bekerja, Sherly mulai menghitung jumlah plastik kerupuk itu dengan cara bernyanyi kecil. "Satuuu... kerupuk gurih nyat-nyot-nyat-nyooot. Duaaa... dimakan sama si Dave yang rakus yang mukanya mirip monyet. Tigaaa... Arga lumayan ganteng tapi sayang badannya kucel belum mandi...." Sherly bernyanyi dengan suara cemprengnya yang sangat khas, nadanya sengaja dibuat naik-turun berantakan, sukses merusak seluruh aturan not musik yang ada di dunia.

Lihat selengkapnya