Hari kepindahan itu akhirnya tiba juga. Sebuah hari yang telah membayangi malam-malamku dengan kecemasan, kini mewujud nyata di depan mata.
Pagi-pagi sekali, atmosfer di dalam rumah kontrakan kami terasa begitu sunyi dan dingin. Kami hanya berkemas seadanya karena memang tidak banyak barang berharga yang bisa kami bawa. Harta benda kami yang tersisa hanyalah beberapa helai pakaian, keperluan sekolahku dan Kakak untuk lembaran baru nanti, serta peralatan makan penuh kenangan yang kami kemas rapat-rapat dalam kardus cokelat tebal.
Saat memasukkan peralatan makan itu, tanganku sempat terhenti. Aku memandangi selembar piring plastik bergambar karakter Meteor Garden yang warnanya sudah agak memudar di beberapa sudut. Aku masih ingat betul, piring itu dibeli oleh Ibu sebagai hadiah berharga saat aku naik kelas dan berhasil menyabet juara dua di sekolah. Sementara Kakak, yang duduk di sebelahku dengan mata sembap, mendapatkan piring plastik bergambar Tweety kuning yang tak kalah menggemaskan. Benda-benda sederhana ini adalah saksi bisu bahwa di tengah keterbatasan ekonomi kami di Jakarta, Ibu selalu berusaha merayakan kebahagiaan-kebahagiaan serta senyuman kecil dari anak-anaknya.
Sebelum melangkah keluar, aku berdiri mematung di tengah ruangan, mengamati sekali lagi sudut-sudutnya yang kini kosong melompong. Aku meninggalkan rumah kontrakan itu dengan rasa sedih yang mengganjal di hulu kerongkongan. Aku mengingat kembali segala kepingan rasa yang pernah terbangun di sini, mulai dari tawa konyol bersama David dan Sherly sore lalu, aroma lem kertas yang pekat, hingga kecemasan mencekam yang kerap menyergap jika malam tiba.
“Ayo, Ga...” panggil Ibu dari arah depan, memecah lamunanku. Suara Ibu terdengar tenang, namun ada nada datar yang menyimpan kelelahan teramat sangat.
Di dekat pintu, terlihat Oma pemilik kontrakan sudah berdiri menunggu. Wajah senjanya memancarkan rasa iba yang mendalam. Ia tersenyum tulus kepadaku, sebuah senyuman perpisahan yang terasa hangat. Aku melangkah mendekat lalu meraih tangannya untuk menyalaminya takzim. Kami pun resmi berpamitan setelah Ibu menyerahkan kembali kunci rumah penuh cerita itu ke tangan Oma.
Selamat tinggal, rumah tua. Sampai nanti lagi ya, bisikku dalam hati.
Aku menengok sekali lagi ke belakang, menatap pintu kayu yang kini telah tertutup rapat, sebelum akhirnya bergegas menyusul langkah Ibu. Kedua tanganku bergerak erat menenteng tas ransel dan beberapa kardus yang sudah diikat dengan tali plastik secara aman dan kencang, seolah sedang menggenggam erat sisa kehidupan kami di kota ini.
Cuaca Jakarta siang itu benar-benar luar biasa menyengat, membuat gerah siapa saja yang nekat menembus jalannya. Kemeja hijau tua yang kupakai terasa sangat tebal dan berlapis-lapis, seolah dengan sengaja menyerap setiap jengkal hawa panas dari terik mentari. Dalam waktu singkat, keringat mulai mengucur deras di dahi, membasahi wajah, lalu merayap turun ke leher hingga membuat kerah bajuku terasa lembap dan tidak nyaman.
Kami berjalan kaki cukup jauh menyusuri gang demi gang. Di sepanjang jalan, mataku terus merekam rumah-rumah tetangga, warung kelontong tempatku terkadang membeli jajan, dan jalanan berdebu yang setiap hari kulewati saat pergi sekolah. Semua tempat ini akan segera berubah menjadi sepotong masa lalu yang tersimpan di labirin ingatan. Ibu berjalan di paling depan, menuntun langkah kami dengan ketegaran yang dipaksakan. Beliau berkata bahwa kami harus berjalan sedikit lebih jauh lagi untuk sampai di pengkolan becak yang berada di dekat pasar besar. Setelah berjalan sekitar sepuluh menit dengan napas memburu, kami akhirnya tiba di pangkalan yang dituju. Ibu segera memilih salah satu becak yang mangkal di sana, lalu menyebutkan sebuah alamat asing kepada sang tukang becak dengan volume suara yang agak pelan.
"Kita mau kemana, Bu?" Kakak bertanya dengan dahi berkerut setelah mendaratkan duduknya di samping kanan kursi becak. Ibu mengambil posisi duduk di bagian tengah, menjadi pembatas sekaligus pelindung bagi kami berdua, sedangkan aku mengambil posisi di sebelah satunya, saling berhimpitan erat di sisi kiri.
"Ke rumah Tante Manda dulu, abis itu baru ke bandara, ya," Ibu memberitahu kami dengan senyuman tipis yang dipaksakan.
Becak bergoyang pelan, lalu mulai berjalan membelah jalanan. Dari posisi dudukku, aku sibuk mencari posisi yang pas untuk kardus yang sedari tadi kujinjing. Jika diletakkan lurus di depan paha, kardus itu berukuran cukup tinggi hingga menutupi pandanganku ke arah depan. Karena pandanganku terhalang, aku akhirnya memilih memalingkan wajah ke arah samping, melemparkan tatapan ke luar untuk melihat keadaan sekitar kota Jakarta yang hiruk-pikuk.
Kayuhan demi kayuhan bertenaga dari kaki sang tukang becak membawa bobot tubuh kami bertiga beserta tumpukan barang bawaan melintasi jalanan ibu kota yang padat dan semrawut. Perlahan kurasakan angin kecil menerpa wajahku, mengeringkan sisa keringat di pipi. Lumayan sejuk juga rasanya di hari yang sepanas ini. Kami melintasi kota yang sebentar lagi akan benar-benar kami tinggalkan. Sebuah kota yang menyimpan begitu banyak rahasia, luka, sekaligus kepingan memori menghangat yang kini terkunci rapat di dalam dada.
Becak tua itu terus tersendat-sendat, berusaha keras mencari jalan di antara padatnya kerumunan pejalan kaki dan deretan pedagang kaki lima. Guncangan roda becak yang beradu kasar dengan lubang-lubang di aspal jalanan membuat pahaku berkali-kali membentur ujung kardus keras yang kududukkan di atas paha. Rasanya agak ngilu. Bergelut dengan barang bawaan berat yang dipangkunya juga, Kakak mulai mengeluh karena bagian ruang duduknya terasa makin sempit dan menjepit tubuhnya. Melihat kami berdua yang sibuk menggeser pantat mencari kenyamanan, Ibu malah tertawa kecil. Beliau mengusap kepala Kakak lembut sembari membisikkan kata menenangkan bahwa sebentar lagi kami akan sampai di tujuan.
Aroma udara yang khas beruap perpaduan bau asap knalpot, debu jalanan, dan keramaian kota ini ini sebentar lagi akan berganti dengan suasana yang sama sekali baru. Bangunan-bangunan tua di pinggiran jalan yang dindingnya mulai berlumut, pohon-pohon peneduh yang bergerak terlewat di sisi mata, dan suara klakson kendaraan yang bersahut-sahutan seolah menjadi untaian lagu perpisahan yang dikirimkan Jakarta untuk kami hari ini. Kota yang tadinya hanyalah sebuah latar belakang hidup yang biasa dan membosankan, mendadak di detik-detik terakhirnya memberikan sebuah sentuhan emosional, memastikan agar kami benar-benar lepas dari dekapannya dengan damai.