ORANG YANG DATANG

Aga Lesmana
Chapter #9

BAB 9: Kebenaran Pahit dan Menghapus Jejak

Sore hari yang teduh akhirnya tiba membawa ketenangan yang dinanti. Saat ini, aku sedang berbaring telentang di atas sebuah sofa panjang di ruang tamu milik Kakek. Tubuhku terasa sangat lemas. Kepalaku masih menyisakan sedikit rasa pusing yang berputar, dan sebuah sensasi aneh melanda indra penciumanku, seolah aku merasa semua benda yang ada di dekatku mulai dari bantal sofa, gorden, hingga udara yang kuhirup telah bersekongkol menyimpan aroma yang persis seperti bau taksi dan pesawat terbang tadi siang. Benar-benar sebuah trauma penciuman yang menjengkelkan.

Aku mengingat kembali momen beberapa jam yang lalu saat taksi bandara menurunkan kami di depan halaman rumah Kakek. Begitu pintu mobil terbuka, aku dan Kakak langsung disergap dan dipeluk dengan sangat erat oleh Kakek dan Nenek. Wajah-wajah tua mereka memancarkan kegirangan yang luar biasa, mata mereka berbinar-binar bahagia menyambut kedatangan anak dan cucu-cucu mereka yang sudah lama tidak bertemu.

Di sudut ruangan, Ibu tampak tidak mau membuang-buang waktu berharganya. Beliau langsung sibuk membenahi barang-barang bawaan di dalam kardus, mengeluarkan pakaian kami dan menata peralatan makan kenangan kami ke dalam lemari agar rumah tidak terlihat berantakan. Kata Ibu, untuk sementara waktu ini, aku dan Kakak akan diliburkan sekolah dulu, setidaknya sampai Ibu selesai mengurus seluruh dokumen administrasi perpindahan dan mendapatkan sekolah baru yang cocok bagi kami untuk melanjutkan belajar di kampung halaman ini.

Namun, Ibu tetap memberikan syarat yang tegas bahwa kami berdua tidak boleh terlena dalam kemalasan dan wajib belajar mandiri setiap sore dengan memanfaatkan buku-buku pelajaran yang sengaja kami boyong dari Jakarta.

Sambil menikmati teh hangat, Kakek dan Nenek mengajak kami bertiga duduk melingkar di ruang tengah, mengobrol santai dan bertanya banyak hal. Mereka menanyakan perihal bagaimana kondisi sekolah kami di Jakarta, hingga tempat-tempat wisata apa saja yang bagus dan berkesan untuk dikunjungi di ibu kota sana.

Tentu saja, karena kondisi fisikku dan Kakak yang masih drop dan kepayahan, kebanyakan pertanyaan itu dijawab oleh Ibu dengan nada ceria yang diatur sedemikian rupa. Aku dan Kakak hanya bisa menyahut dengan jawaban singkat-singkat saja, karena jujur, isi kepala kami saat ini masih dipenuhi oleh gumpalan kenyataan yang masih coba kami cerna perlahan.

Fakta paling gila dan paling pahit soal alasan mendadak mengapa kami harus mengemas baju ke dalam kardus dan pindah ke rumah Kakek ini adalah karena Bapak telah membuat ulah besar. Ya, aku menyebutnya begitu di dalam kepalaku sendiri, sebuah julukan dingin yaitu Bapak Si Pembuat Ulah. Entah dari mana aku mendapatkan istilah kasar itu tertanam di benakku, tapi kurasa sebutan itu sangat cocok dan pantas disematkan untuk mendefinisikan sosok Bapak kami.

Sore ini, dengan suara yang bergetar namun diusahakan tetap tegar di depan orang tuanya, Ibu pelan-pelan mulai terbuka bercerita kepada kami mengenai rentetan misteri yang selama ini disembunyikannya rapat-rapat. Ibu menatap mata kami dalam-dalam, lalu berbisik bahwa ternyata luka memar kemerahan yang ada di wajahnya waktu malam itu, yang sempat diklaimnya karena tidak sengaja tertabrak angkutan umum, sebenarnya adalah akibat dari hantaman tamparan keras yang dilayangkan oleh Bapak.

Plak! Sebuah hantaman imajiner mendadak berdentum di telingaku. Aku dan Kakak kaget bukan main mendengarnya. Jantungku mencelos ke bawah. Kami berdua langsung bergerak cepat memproses kejadian demi kejadian di masa lalu, menyatukan kepingan-kepingan teka-teki yang berserakan pelan-pelan di dalam ingatan, dan detik itu juga kami langsung paham mengapa pada hari-hari sebelum kepindahan, kami tidak pernah lagi bertemu atau melihat batang hidung Bapak di rumah kontrakan.

Kejadian yang sebenarnya terjadi di balik layar kehidupan kami selama ini ternyata bukan seperti skenario bohong yang biasa Ibu katakan, bukan karena Bapak pergi bekerja pagi-pagi sekali sebelum kami bangun tidur dan baru pulang larut malam sehabis kami terlelap. Tidak! Kenyataan pahitnya adalah Bapak memang sudah lama sekali tidak lagi memberikan kabar, tidak mengirimkan uang kebutuhan hidup, dan sama sekali tidak pernah pulang ke rumah. Bapak telah menelantarkan kami.

Sebagai seorang istri yang masih memiliki rasa tanggung jawab dan khawatir, Ibu terus dirundung rasa cemas yang luar biasa. Beliau menahan getir dan lelah, berjalan kaki ke sana-kemari mencari keberadaan suaminya yang hilang tanpa jejak. Ibu mendatangi satu per satu teman-teman dekat Bapak yang diketahuinya, mengetuk pintu rumah saudara jauh Bapak yang tinggal di pinggiran kota, bahkan Ibu nekat mendatangi percetakan lama tempat Bapak dulu pernah bekerja sampingan untuk mencari informasi tambahan. Namun, hasilnya nihil. Tidak ada satu pun orang yang tahu di mana Bapak berada.

Lihat selengkapnya