ORANG YANG DATANG

Aga Lesmana
Chapter #10

BAB 10: Bayang-Bayang yang Kembali

Langit kelihatan mendung, seolah tahu kalau hati kami sedang tidak menentu. Aku dan Kakak berjalan sambil menunduk, mengekor di belakang Ibu yang melangkah dengan tegap tapi kelihatan sangat lelah. Sudah tiga minggu sejak kami pindah ke rumah Kakek, dan kami benar-benar sudah harus melanjutkan belajar di sekolah. Ibu tidak mau kami ketinggalan pelajaran terlalu lama.

Tapi, kenyataannya tidak semudah itu. Sepanjang pagi sampai siang, Ibu membawa kami mendatangi beberapa sekolah. Kami masuk ke ruang guru dan ruang pendaftaran, tapi selalu saja akhirnya berujung pada kalimat yang sama dari pihak sekolah bahwa kami harus tetap mengulang semester pada tahun ajaran baru nanti.

Mendengar itu, rasanya dadaku langsung sesak. Artinya, aku harus kembali mengulang kelas dua dan Kakak mengulang kelas tiga di tahun ajaran baru nantinya. Kami akan terlambat setahun dibanding teman-teman seusia kami.

Ibu tidak menyerah. Beliau berulang kali meminta dan memohon pada pihak sekolah, bertanya apakah barangkali kami bisa langsung melanjutkan semester dua saja. Ibu bilang kami rajin dan pasti bisa mengejar pelajaran. Tapi tetap saja tidak ada sekolah yang mau mengabulkan, semua menolak. Aku jadi bingung. Apakah memang aturannya harus kaku begitu? Kenapa susah sekali hanya untuk bisa sekolah lagi?

Sampai akhirnya di hari ini pun, kami dibawa Ibu ke sebuah sekolah swasta lainnya. Kali ini kami masuk ke ruangan yang rapi untuk bertemu langsung dengan kepala sekolahnya, Ibu Sri Retno. Sosoknya tidak begitu tinggi dengan kacamata oval yang bertengger di hidung. Wajahnya berseri indah dan sangat ramah, membuatku langsung teringat pada kepala sekolah lama kami di Jakarta. Rambutnya tersanggul rapi, dan ada sebuah tahi lalat di atas bibir yang membuat penampilannya kelihatan anggun, memesona, sekaligus penuh wibawa.

"Jika diperbolehkan, anak saya, Dita dan Arga bisa melanjutkan kelas di semester ini, Bu," kata Ibu sambil menyodorkan rapor lama kami beserta dua lembar surat pindah sekolah atas nama kami masing-masing ke atas meja.

Bu Sri memperhatikan halaman demi halaman rapor kami dengan teliti. Jari telunjuknya sesekali menunjuk angka-angka nilai kami, lalu beliau mendongak dan menjawab, "Kalau boleh saya tahu, alasan kepindahan anak Ibu pada waktu begini karena apa ya, Bu? Ini kan sudah pertengahan semester."

Ibu memandang kami berdua sebentar sebelum menjawab dengan jujur. "Jujur saja, masalah keluarga, Bu. Anak-anak ikut saya pulang ke rumah orang tua saya karena tidak ada pilihan lain. Meskipun saya tahu di waktu seperti ini akan sulit karena sudah memasuki semester dua."

"Baik. Kalau boleh saya tahu, kenapa memilih sekolah ini untuk Dita dan Arga?" tanya Bu Sri kembali.

"Jujur, saya sudah ke beberapa sekolah dari kemarin-kemarin dan belum ada yang mau menerima anak saya melanjutkan semester. Semua sekolah minta untuk mengulang di tahun ajaran baru, Bu." Ibu kembali mengulang alasan kami mencari sekolahan lain hari demi hari dengan nada pasrah.

Setelah itu, suasana di ruangan menjadi hening sejenak.

Bu Sri beranjak sebentar dari kursinya dan menyuruh kami menunggu. Karena penasaran dan cemas, mataku diam-diam mengekori kepergiannya dari balik kaca pintu. Kulihat beliau berjalan ke ruang sebelah, menanyai beberapa guru sambil menunjuk-nunjuk rapor kami, lalu berbincang sebentar dengan setiap orang yang ada di sana sebelum akhirnya kembali ke hadapan kami.

Bu Sri duduk kembali lalu melanjutkan dengan suara tenang, "Baik, Bu. Melihat ketentuan yang berjalan, dengan berat hati saya memberitahukan bahwa sekolah kami juga menerapkan sistem bagi kedua anak Ibu mengulang di tahun ajaran baru nanti ya, Bu." Suaranya memang terdengar lembut, tapi kalimat yang diucapkannya bukan jawaban yang kami mau.

Ah, selalu begitu. Lagi-lagi ditolak. Aku dan Kakak berpandangan sebentar dengan wajah lesu, lalu kami kompak menunduk menatap lantai, meratapi akhir yang selalu saja berujung sama.

Tiba-tiba, hal yang tidak disangka terjadi. Ibu menggeser kursi yang didudukinya dengan pelan, tubuhnya condong ke depan dan tangan Ibu langsung memegang erat tangan Bu Sri. "Tolong kasih kesempatan sekali saja, Bu, untuk anak-anak saya. Kalau memang nanti nilai mereka di bawah rata-rata kelas, saya akan dengan rela membiarkan mereka mengulang kelas saja," mohon Ibu dengan suara yang mulai bergetar menahan tangis.

Ibu melanjutkan lagi kalimatnya, "Ibu bisa memantau sendiri nilai mereka berdua setiap minggu. Dan kalau anak-anak saya tidak bisa mengejar pelajaran dan tidak bisa mengimbangi anak lain, keputusan sepenuhnya ada di tangan Ibu untuk mengeluarkan mereka."

Aku dan Kakak langsung menengok ke arah Ibu. Kami berdua benar-benar terpana dan kaget dengan rentetan kalimat yang baru diucapkannya. Ibu sampai memohon seperti itu demi kami. Kulihat Bu Sri juga terdiam dan menatap Ibu dengan garis wajah yang berubah menjadi lebih lunak dan iba.

Bu Sri menggenggam balik tangan Ibu dengan tangan satunya lagi, sebentar saja. Beliau lalu melipat lembaran surat pindah sekolah kami dan mengambil raporku dan Kakak, menumpuk semuanya menjadi satu di atas meja. Setelah itu beliau berdiri dari duduknya, yang langsung diikuti oleh kami bertiga yang juga ikut berdiri dengan gugup.

"Sudah bisa masuk mulai besok ya, Bu. Pakai seragam seperti biasanya dan bawa buku beserta alat tulis juga."

Mendengar itu, mataku langsung berbinar. Bu Sri menyalami Ibu sambil tersenyum hangat. "Mulai belajar jam tujuh lewat lima belas sampai jam satu siang. Selebihnya akan diinformasikan lagi melalui Dita dan Arga ya, Bu."

Ibu tersenyum sangat lega, menggoyangkan genggaman tangan Ibu Sri Retno sambil berulang kali mengucapkan terima kasih. Aku dan Kakak tidak bisa menyembunyikan rasa senang. Sambil mengulas senyum lebar, kami bergantian menyalimi tangan kepala sekolah baru kami.

Lihat selengkapnya