ORANG YANG DATANG

Aga Lesmana
Chapter #11

BAB 11: Gelas yang Bergetar

Hari Minggu pun tiba, membawa sepotong kelangkaan bagi Jakarta. Langit di atas ibu kota pagi itu kelihatan biru cerah, bersih tanpa sapuan awan maupun kepungan polusi yang biasanya menggantung pekat. Sinar matahari pagi bahkan baru saja menghangatkan teras, sampai tepat jam sembilan pagi, ketenangan itu bubar berantakan.

Sebuah raungan mesin motor yang teramat bising mendadak merobek keheningan gang, sebelum akhirnya terbatuk dan berhenti tepat di depan kontrakan kami. Itu adalah suara motor kebanggaan Bapak, sebuah motor RX King hitam yang suaranya berisik sekali. Kata orang-orang sih, itu tipe motor jambret. Mendengar suara khas itu, Kakak langsung beranjak untuk membukakan pintu rumah.

Begitu sosoknya masuk, aku dan Kakak langsung maju untuk memeluknya. Perasaan di dadaku mendadak campur aduk, ada rasa enggan karena teringat perbuatannya, tapi di saat yang sama, rasa sayang itu tetap keras kepala. Ya, bagaimanapun juga, ia tetap Bapak kami, meskipun ia sudah melakukan semua hal keji itu pada Ibu.

Senyumnya masih kelihatan sama seperti dulu, lebar sampai memperlihatkan gusinya, lengkap dengan kerutan di sudut matanya yang khas kalau sedang tertawa. Dan dalam hati, aku sebenarnya malas mengakui fakta bahwa kerutan khas itu ternyata mirip sekali dengan milikku sendiri.

Kami bersiap pergi setelah mengunci pintu pagar. Sedangkan Ibu sendiri sudah pergi bekerja sejak pukul delapan pagi tadi. Sepertinya Ibu sengaja pergi lebih cepat agar tidak perlu bertemu dengan Bapak. Sebelum menyalakan mesin, aku diminta Bapak untuk naik ke bagian depan, duduk di atas tangki bensin motornya yang besi, keras, dan dingin. Sedangkan Kakak mengambil posisi duduk di jok bagian belakang.

Pagi itu kami membelah jalanan pemukiman. Bapak mengajak kami berkeliling ke tempat-tempat yang tidak pernah kami lewati sebelumnya. Motor melaju ke tepian sungai yang airnya keruh, melewati jembatan penyeberangan, lalu menembus gang-gang sempit yang sangat kecil, di mana dua kendaraan bahkan tidak bisa berpapasan. Laju motor yang membawa kami jalan-jalan berkeliling tanpa tujuan ini lama-kelamaan membuat mataku terasa mengantuk. Ayunan getaran motor yang konsisten membuatku merasa jenuh. Di tengah desingan angin, sebuah perasaan muncul di kepalaku, sebuah tanya yang berbisik lirih, Mungkinkah, sebenarnya aku sama sekali tidak menganggap pertemuan hari ini seru atau menyenangkan?

Benar. Aku jujur pada diriku sendiri bahwa aku ingin pergi ke mana saja saat ini, asal bukan berada di atas boncengan motor hitam ini bersama Bapak. Kami akhirnya berhenti sebentar di sebuah warung pinggir jalan untuk membeli minuman dingin. Tenggorokanku rasanya sudah sangat kering setelah dipaksa menelan debu jalanan sepanjang rute asing yang hari ini terpaksa kulihat. Selama beristirahat di sana, aku memilih lebih banyak diam dan menatap jalanan raya. Aku hanya bersuara kalau Bapak bertanya langsung kepadaku. Itu pun singkat. Beruntung ada Kakak, yang selalu menimpali dan menanggapi setiap pertanyaan Bapak dengan sopan, menyelamatkanku dari keharusan berpura-pura.

Ada sebuah dinding pembatas yang mendadak terbentuk di dalam hatiku. Perasaanku tidak karuan. Berkecamuk antara asing, kesal, dan penuh penolakan. Aku tidak mau memaksakan diri bersikap manis atau mengulas senyum palsu di depan Bapak saat batin telanjur enggan. Malahan, jauh di dalam dada, aku ingin sekali menumpahkan semua kata yang menyumbat tenggorokan, menuntut keadilan atas tindakannya dulu yang kurasakan sangat kejam bagi kami, terutama bagi Ibu. Ada sesuatu dari masa lalu yang telah mengubahku menjadi sedingin ini kepadanya. Tapi, sadar bahwa amarah hanya akan merunyamkan suasana di tempat umum, kuputuskan untuk menelan kembali semuanya. Aku berusaha meredam gejolak di dada yang berkecamuk, membiarkannya mendingin sendiri, luruh bersama es batu yang mencair di genggamanku.

Tepat jam satu siang, kami kembali jalan. Kali ini motor hitam itu membawa kami menuju sebuah taman kota yang entah berada di mana. Aku bahkan tidak berniat mencari tahu namanya. Hamparan rumput hijau membentang luas di sana, di tengah keramaian pengunjung yang sedang menikmati hari Minggu. Kami bertiga berjalan kaki menyusuri jalan setapak taman yang teduh. Di sela langkah kaki kami, Bapak mulai melempar basa-basi. Beliau menanyai bagaimana sekolah kami, bagaimana nilai-nilai ulangan terakhir, apa saja kesibukan setelah pulang sekolah. Hingga akhirnya, pertanyaan itu menyenggol titik paling sensitif, seputar kepindahan mendadak kami ke rumah Kakek waktu itu. Langkah kakiku sempat tertahan satu detik mendengar pertanyaan terakhirnya.

Aku dan Kakak hanya menjawab ala kadarnya. Kami saling melempar kode lewat lirikan mata, sepakat untuk tidak memberi celah terlalu jauh. Dari caranya memancing obrolan, Bapak kelihatan sekali sedang berusaha mengorek informasi dari kami. Aku benci situasi ini. Semakin gencar ia mencoba menggali rahasia kami, semakin kuat pula keinginanku untuk mengunci mulut rapat-rapat. Caranya bertanya mulai terasa mendesak, seolah dia lupa—atau sengaja abai—bahwa ia tidak punya hak lagi untuk menginterogasi kami. Rasa sebal di dadaku perlahan naik, berubah menjadi rasa muak yang pekat.

"Arga udah banyak teman belum di sekolah baru yang sekarang?" Bapak kembali memecah keheningan dengan topik sekolahan, bersamaan dengan lengannya yang tiba-tiba mendarat dan merangkul pundakku.

"Teman biasa aja di sekolah, Pak," jawabku singkat sembari mengalihkan pandangan ke arah seekor kucing yang sedang berguling di rerumputan taman. Bulunya kelihatan acak-acakan dan kotor, tampangnya jadi kelihatan lucu.

"Teman dekatnya siapa namanya?" Lagi-lagi, Bapak mendesak dengan rasa penasaran yang mengusik.

“Enggak ada, Pak. Kita kan pindah-pindah melulu rumahnya, jadi malas temenan. Nanti juga kalau pindah lagi, paling ganti lagi temannya," jawabku spontan. Kalimat itu lolos begitu saja dari mulutku, terdengar telanjang dan ketus.

Mendengar jawabanku, Bapak langsung terdiam. Langkah kakinya sempat terhenti satu ketukan. Aku ikut terpaku. Dari arah samping, Kakak dengan cepat mencolek lenganku, gerakannya samar agar tidak tertangkap oleh radar Bapak. Saat aku menoleh, kulihat bibir Kakak bergerak menegang, menyerukan sebuah kalimat tanpa suara, "Jangan begitu..."

Lihat selengkapnya