ORANG YANG DATANG

Aga Lesmana
Chapter #12

BAB 12: Panggung Sandiwara dan Topeng Anak Kecil

Sudah seminggu berlalu sejak Bapak mengajak kami bertamu ke rumah istri barunya. Namun, gumpalan sesak di dadaku belum juga menguap. Sungguh keterlaluan sekali Bapak. Aku benci padanya! Benar-benar benci sampai ke tulang sumsum.

Selain karena ia diam-diam telah membangun keluarga baru di atas air mata kami, dengan tega sekali ia membawa kami, anak-anak kandungnya sendiri, untuk diperkenalkan dengan istri kedua dan mertuanya itu. Seolah-olah perbuatannya adalah sebuah prestasi yang patut dipamerkan.

Teganya ia. Apakah pikirannya sudah tidak mampu mengendalikan tubuhnya lagi? Apakah nuraninya sudah digadaikan? Tidak terlintaskah di benaknya, apa buah dari tindakannya nanti? Bagaimana kalau Ibu tahu? Bagaimana kalau dunia kami hancur lebur dalam semalam?

Malam sehabis pulang dari rumah bertingkat dua yang megah namun terasa seperti neraka itu, aku berpura-pura tenang. Aku memasang raut wajah yang biasa saja, memahat senyum palsu yang paling rapi. Padahal, jauh di dalam dada, api sedang berkobar-kobar, sebuah amarah yang begitu pekat hingga rasanya ingin membakar Bapak beserta motor jambretnya yang selalu bising itu.

Begitu ia sampai mengantarkan kami pulang ke rumah kontrakan kami yang sepi, kami bahkan masih harus menciumi pipinya. Sebuah akting yang sempurna bagaikan sepasang malaikat berhati sabar nan mulia. Kami mengantarnya pergi dengan lambaian tangan, menelan bulat-bulat rasa muak yang menyumbat tenggorokan. Setelah deru motornya menjauh dan pintu rumah tertutup rapat, pertahanan kami runtuh.

"SINTING!" Kakak tidak lagi membendung kemarahannya. Suaranya pecah, bergetar hebat. Ia melompat ke kasur kami yang tipis, membenamkan wajahnya di bantal, lalu mulai menangis sejadi-jadinya. Bahunya berguncang seiring dengan isak tangis yang tertahan, takut terdengar sampai ke luar.

Malam itu, kami berdua terpaksa tidur lebih cepat. Bukan karena mengantuk, melainkan karena dicekam ketakutan luar biasa jika Ibu mendadak pulang dan menanyai kami soal apa saja yang kami lakukan seharian ini.

 

*****

 

Petir rasanya menyambar di siang bolong pada Jumat berikutnya. Ibu tiba-tiba berkata kalau Bapak mengajak kami untuk menginap di rumahnya akhir pekan ini. Darahku mendidih seketika. Di rumah yang mana? Rumah megah bersama wanita itu? Aku hampir saja berteriak protes dan mengamuk.

Untung saja, sebelum aku sempat merusak topengku sendiri, Ibu lekas menyambung kalimatnya dengan tenang, "Tapi Ibu udah bilang ke Bapak, kalo minggu ini kalian nggak bisa ikut. Tante Manda ngundang acara makan-makan di rumahnya."

Mendengar penuturan Ibu, seolah ada pasokan oksigen segar yang ditiupkan ke dadaku. Leganya bukan main. Namun, di sela-sela rasa lega itu, sebuah pertanyaan dingin mendadak merayap di benakku. Bagaimana dengan Ibu? Apakah ia sebenarnya tahu kalau suaminya punya istri lain? Mengapa wajah Ibu bisa begitu tenang saat mengatakannya?

Dan apa Bapak sudah benar-benar gila? Mengajak kami menginap di tengah-tengah keluarga barunya? Mengapa ia begitu getol menyeret kami masuk ke dalam sandiwara menjijikkan yang ia buat sendiri?

Oh, tentu saja tidak. Aku dan Kakak kompak dalam diam, berkompromi lewat tatapan mata bahwa kami akan menolak mentah-mentah setiap ajakan yang berhubungan dengan tempat itu.

Esok lusa, pada hari Minggu, suasana pagi terasa berbeda. Ibu memanggil kami, menggoyang-goyang bahu kami untuk segera bangun. Aku menggeliat, mengerang kecil dengan kantuk yang masih memeluk erat pelupuk mata. Biasanya, pada hari libur begini, kami dibiarkan merayakan kemalasan, tidur sampai pukul sembilan pagi, sedikit lebih siang ketimbang hari biasa jika kami harus bersiap ke sekolah.

Aku membuka mata dan tertegun. Aku melihat Ibu yang tampak sudah rapi. Beliau mengenakan kemeja lengan panjang yang digulung rapi sampai ke siku, dipadukan dengan celana panjang hitam formal. Wajahnya tampak segar, seolah siap menghadapi urusan penting.

"Ibu mau kemana?" tanyaku sembari mendudukkan diri di kasur, mengucek mata.

"Lho! Kan Ibu udah bilang, Tante Manda ngundang acara makan-makan di rumahnya hari Minggu ini. Ayo, cepat bangun," katanya di depan cermin, tangannya dengan cekatan merapikan peralatan dandan di atas lemari kayu yang sudah mulai lapuk.

"Emangnya beneran, Bu? Bukan taktik biar nggak ketemu Bapak?" Kakak ikut bertanya. Suaranya serak khas orang baru bangun tidur, sementara guling lusuh masih erat di pelukannya.

Ibu menghentikan gerakannya sejenak. Matanya menatap kami lewat pantulan cermin, teduh namun menyimpan misteri. "Ya beneran, masa Ibu bohong. Ayo, mandi. Bajunya pakai yang udah Ibu gantung di balik pintu, ya," kata Ibu kemudian. Beliau membalikkan badan dan beranjak keluar dari kamar, meninggalkan aroma bedak tabur yang khas.

Aku beringsut dari tempat tidur dengan malas. Namun, melangkah pada hari libur sepagi ini setidaknya memberiku satu penghiburan. Hari ini, aku aman dari si pembuat ulah.

Lihat selengkapnya