ORANG YANG DATANG

Aga Lesmana
Chapter #13

BAB 13: Peta Pembalasan

Membaur dengan keluarga baru Bapak sama sekali tidak menyenangkan. Malah, cenderung terasa mengerikan. Aku dan Kak Dita benar-benar merasa konyol, canggung, dan salah tempat. Tebakanku di awal sama sekali tidak meleset bahwa "sarang lawan" adalah istilah yang paling sempurna untuk menobatkan rumah kontrakan krem ini.

Langkah kakiku mendadak terkunci rapat tepat di ambang pintu kamar utama Bapak. Mataku membelalak ngeri karena menangkap sebuah pemandangan di atas kasur yang membuat dadaku seperti dihantam gada besi. Seorang bayi perempuan mungil sedang tertidur lelap dengan damai.

Jantungku mencelos, jatuh ke dasar perut.

Sejak kapan Bapak punya anak dengan wanita ini? Apakah makhluk kecil yang tidak tahu apa-apa itu benar adik tiriku? Kenapa alur hidupku mendadak berubah drastis menjadi drama sinetron murahan yang amburadul begini? Dan rupanya, Bapak adalah pemeran utama paling mengesalkan yang rasanya sangat layak untuk diumpat dengan segala sumpah serapah.

Saat kami akhirnya duduk bersama di atas kasur busa yang rasanya sangat nyaman, wanita itu kemudian memperkenalkan diri secara resmi sebagai Tante Tika. Di sela-sela obrolan, Bapak tiba-tiba menatap kami dengan pandangan penuh tuntutan yang tajam. Dengan suara beratnya, dia memintaku dan Kakak untuk memanggil istrinya itu dengan sebutan "Mama".

Mendengar kata itu keluar dari mulut Bapak, lambungku mendadak bergolak mual, seolah dipaksa menelan racun. Aku dan Kakak kompak mengatupkan bibir rapat-rapat, tidak menyahut kalimat Bapak sama sekali. Kami memilih tuli.

Rupanya, Tante Tika menyadari raut wajahku yang langsung mengeras, pucat, dan tampak gusar. Ia buru-buru menimpali, memotong keheningan dengan mengatakan bahwa tidak apa-apa jika kami memanggilnya dengan sebutan "Tante" saja untuk saat ini. Aku dan Kakak diam-diam menarik napas lega secara serentak di dalam hati. Fuhhh. Untunglah. Setidaknya, aku tidak harus meludahi harga diriku dan mengkhianati Ibuku sendiri malam ini dengan memanggil wanita lain sebagai "Mama".

Mungkin karena melihat pandanganku yang terus-menerus tertuju pada bayi kecil yang terkurung di antara barikade bantal guling di kamar ini, Tante Tika salah paham. Ia mengira aku sangat tertarik dan penasaran ingin tahu lebih banyak soal anaknya. Tanpa permisi, ia menggeser duduknya, merangkul bahuku pelan, lalu mulai bercerita dengan nada suara yang dibuat selembut dan semanis mungkin.

"Namanya Karina, umurnya kurang lebih satu tahun," ucapnya lembut.

Dadaku terasa makin sesak dan terhimpit mendengarnya. Satu tahun? Otak kecilku langsung berputar mundur seperti mesin waktu, menghitung bulan demi bulan di kalender masa lalu, dan seketika menyadari sebuah kenyataan pahit yang selama ini disembunyikan rapi oleh Bapak. Berarti, saat Ibu sedang kepayahan di rumah kami, Bapak sudah...

Ah, aku berusaha sekuat tenaga untuk memasang topeng datar yang sempurna. Aku mematung seumpama patung lilin, berpura-pura biasa saja dan mendengarkan dengan saksama agar bisa menggali cerita lebih jauh. Dengan binar mata yang tampak sangat menyebalkan di mataku, Tante Tika melanjutkan dongeng bahagianya. Ia bercerita betapa bersyukurnya bisa bertemu dengan Bapak, tentang pernikahan mereka yang digelar sederhana, momen kelahiran bayi perempuan itu, hingga kepindahan mereka ke kontrakan krem ini untuk membangun biduk kasih yang baru.

Dan puncaknya, dengan wajah tanpa dosa yang tampak begitu suci, ia meraih dan menggenggam tangan kecilku. Ia mengucapkan terima kasih karena kami mau datang jauh-jauh dan menerima kehadirannya dengan baik di dalam hidup kami. Di dalam hati, aku mengutuk kalimat itu setengah mati.

Menerima? Siapa yang sudi menerima orang yang sudah merampas kebahagiaan dan senyum dari wajah Ibuku?

Rasanya aku ingin menarik tanganku dan menepisnya kasar.

Namun, semesta tampaknya belum puas menertawakan kemalangan dan menguliti perasaanku malam ini. Sesuatu yang jauh lebih menghancurkan, sebuah bom waktu yang nyata, tiba-tiba meluncur bebas dari mulut Bapak. Sembari tersenyum bangga, sebuah senyuman tulus penuh binar yang belum pernah kulihat seumur hidupku selama ia menjadi orang tuaku, Bapak menimpali cerita istrinya.

"Iya, Arga, Dita... Tante Tika kalian sekarang juga lagi mengandung lagi. Anak kedua. Dokter bilang, kemungkinan besar bayinya laki-laki," ucap Bapak dengan nada suara yang membubung ke langit.

Aku dan Kak Dita saling berpandangan dalam keheningan yang mencekam, seolah-olah seluruh pasokan udara di ruangan itu mendadak disedot habis. Detik itu juga, seluruh kosakata di duniaku menguap tanpa sisa. Tidak ada lagi amarah yang sanggup meledak keluar dari mulutku. Dadaku rasanya mau ambrol, hancur berkeping-keping dan jatuh berserakan di atas lantai kamar yang terasa makin dingin, membuat ujung-ujung kakiku menggigil hebat. Rasa kecewa yang teramat sangat serta teramat dalam, telah mengunci rapat mulutku hingga tiba waktunya memejamkan mata malam itu.

Lihat selengkapnya