ORANG YANG DATANG

Aga Lesmana
Chapter #14

BAB 14: Dongeng Kemenangan dan Dunia Orang Dewasa

Dua hari kemudian, sebuah kejutan besar datang ketika Ibu bercerita kepada kami tanpa diminta sama sekali. Sore itu, kami sedang dalam perjalanan berjalan kaki mengantar kerupuk dagangan ke warung-warung kelontong langganan untuk menukarkan stok kerupuk lama yang sudah melempem dengan bungkusan yang baru. Aku dan Kakak masing-masing membawa tiga ikatan kerupuk yang berjumlah dua puluh lima bungkus per ikatnya sedangkan Ibu sendiri berjalan di depan sambil membawa lima ikatan paling besar.

"Kemarin Ibu datang lagi ke kontrakan Bapak kalian." Ibu membuka cerita dengan nada suara yang sangat santai, seolah sedang membicarakan cuaca sore ini.

"Eh? Terus gimana, Bu?" Kak Dita langsung menyambar, menghentikan langkahnya sejenak karena rasa penasaran yang membumbung tinggi.

"Akhirnya Ibu ketemu sama istri barunya di sana... si Tika itu..."

"Terus? Terus gimana lagi, Bu?" kami berdua bertanya serempak, mengabaikan rasa lelah memegang ikatan kerupuk. Kami benar-benar didera rasa penasaran dengan kelanjutan drama nyata ini.

"Dia kaget setengah mati pas lihat Ibu berdiri di depan pintunya. Terus kami sempat adu mulut sebentar di teras. Dia mulai ngomong yang enggak-enggak. Akhirnya, Ibu udah enggak tahan lagi... Ibu jambak rambutnya kuat-kuat," kata Ibu dengan wajah datar, yang sedetik kemudian berubah menjadi tawa renyah saat melihat ekspresi melongo dari kami berdua.

Aku dan Kakak langsung ikut tertawa lepas di pinggir jalan. Ada rasa puas yang luar biasa yang menjalar di dalam dadaku mendengar pembalasan itu. Mampus! Rasakan itu!

"Dia nggak bales Ibu, Bu?" tanyaku menyelidik karena penasaran dengan detail pertarungannya.

"Bales dong, dia sempat nyakar lengan Ibu. Tapi Ibu jelas lebih kuat, tenaga orang pasar dilawan! Jadi Ibu langsung muter ke posisi belakang badannya, terus Ibu piting lehernya dari belakang sampai dia nggak bisa gerak," lanjut Ibu dengan binar mata kemenangan yang berkilau.

Aku dan Kakak benar-benar kaget mendengar penuturan itu. Aku tidak pernah menyangka Ibu bisa seberani dan sehebat itu dalam urusan fisik. Rasa bangga dan puas di dalam hatiku bertambah berkali-kali lipat. Ibuku ternyata seorang petarung!

"Terus akhirnya gimana, Bu?" Kak Dita mengejar cerita.

"Akhirnya, tetangga-tetangga kontrakannya pada keluar semua karena dengar suara ribut. Mereka ramai-ramai misahin Ibu dari perempuan itu. Ibu akhirnya diusir sama mereka. Katanya, kalo mau lanjut ribut atau urusan rumah tangga, jangan di area kontrakan situ, bikin gaduh tempat orang aja," tambah Ibu sambil membenarkan posisi ikatan kerupuk di pundaknya.

Kami semua lalu terdiam setelah mendengar akhir cerita Ibu barusan. Langkah kaki kami kembali berlanjut menyusuri jalan setapak. Aku tahu, Ibu pasti sudah berada di puncak batas kesabarannya, kesal luar biasa, sampai berani membuang urat malunya dan ribut di depan orang-orang asing. Aku tidak menyangka Ibuku seberani itu demi menegakkan harga dirinya yang diinjak-injak. Namun, ada rasa puas mendalam di lubuk hatiku yang membuatku luar biasa bangga padanya.

Meskipun guru agama di sekolah selalu bilang bahwa memancing keributan dan kekerasan itu tidak baik, tetap saja untuk urusan kehidupan yang pelik dan penuh pengkhianatan ini, wajib diberikan pengecualian hukum, kan?! Penjahat emosional seperti mereka memang harus diberi pelajaran fisik!

Ibu adalah wanita yang hebat dan teramat tegar. Aku meyakini hal itu dengan seluruh jiwaku.

Semoga ketegaran dan air mata Ibu selama ini berbuah manis di hidupnya. Kami sayang Ibu, lebih dari apa pun.

 

*****

 

Lihat selengkapnya