Hari itu adalah hari pengambilan rapor kenaikan kelas. Udara di luar kelas terasa gerah, bercampur dengan suara riuh rendah para orang tua yang mengobrol di koridor sekolah yang bising. Sejak pagi, aku sudah duduk di bangku panjang depan kelas sambil memegang sebuah yoyo kayu. Mataku sesekali melirik ke arah gerbang sekolah, berharap sosok yang kunantikan segera muncul membelah keramaian.
Aku masih menunggu Ibu. Biasanya, Ibu memang sengaja datang paling akhir. Alasan Ibu selalu sama setiap tahun, singkat dan padat saat menjawab protesku. "Biarin orang tua lain yang ngambil duluan, Ga. Ibu malas ikut antrean panjang."
Satu jam pun berlalu dengan sangat lambat. Koridor yang tadinya penuh sesak perlahan-lahan mulai sepi dan menyisakan lengang. Satu per satu temanku pulang sambil memamerkan rapor mereka kepada orang tua masing-masing. Antrean di kelasku benar-benar sudah selesai.
Melihat aku yang masih duduk sendirian, Bu Vera, wali kelasku, berjalan keluar ruangan. Beliau menghampiriku, memegang pundakku pelan, dan berkata kalau nanti Ibu datang, rapornya bisa langsung diambil di ruang guru saja karena beliau harus merapikan berkas di sana. Aku hanya bisa mengangguk pasrah. Bu Vera tersenyum lalu berlalu meninggalkanku yang kembali termenung sendirian di depan ruang kelas yang kosong dan sunyi.
Untuk mengusir rasa jenuh, aku melanjutkan bermain yoyo. Kulempar benda bulat itu ke bawah, membuatnya berputar di ujung tali, lalu kutarik kembali ke genggaman. Begitu terus sampai lima belas menit berikutnya, hingga tanganku mulai terasa agak pegal. Tepat saat aku mulai bosan melempar yoyo, sebuah bayangan muncul dari belokan koridor. Itu Ibu.
Melihat Ibu berjalan dengan langkah tergesa-gesa, aku langsung berdiri dan mengomeli Ibu dengan tampang sebal yang sengaja kubuat-buat. "Ibu lama sekali! Dari mana aja, sih?"
Bukannya marah karena diomeli anak kecil, Ibu malah membelai kepalaku dengan lembut lalu tertawa kecil. "Maaf ya Ibu lama," katanya pelan dengan seulas senyum tulus yang menenangkan.
"Bu Vera bilang ambil rapornya di ruang guru sekarang, soalnya udah selesai bagi-bagi rapor di kelas," kataku sambil menggandeng dan menarik tangan Ibu yang terasa agak hangat.
Ibu mengiyakan, lalu kami berdua berjalan bersama menyusuri koridor menuju ruang guru. Begitu sampai di sana, aku melihat Kakak sudah duduk manis di kursi panjang depan pintu. Rupa-rupanya, Kakak juga mengalami nasib yang sama denganku karena rapornya harus diambil di ruang guru karena wali kelasnya sudah selesai membagikan di kelas.
Ibu mengetuk pintu kayu ruang guru yang besar itu dengan sopan, lalu melangkah masuk ke dalam. Aku dan Kakak menunggu di luar sambil duduk berdampingan. Di halaman sekolah, terlihat tukang kebun sekolah sedang sibuk memotong ujung paling atas semak daun dengan gunting rumput yang besar sekali agar bentuknya terlihat rapi dan lurus. Suara cekrek, cekrek, cekrek, dari gunting itu menjadi satu-satunya hiburan kami selama menunggu.
Butuh waktu yang agak lama sampai akhirnya pintu ruang guru kembali terbuka. Ibu berjalan keluar dengan langkah yang kelihatan jauh lebih ringan. Di kedua tangannya, Ibu membawa dua buku rapor, dua buah piala plastik berwarna emas, dan dua amplop putih yang terlihat agak tebal. Mataku sempat terpaku pada amplop itu.
Amplop apa ya itu? Isinya uang atau apa? pikirku dalam hati, penasaran.
Ibu menatap kami berdua dengan binar mata yang sangat cerah, lalu sebuah senyuman bangga mengembang di wajahnya. "Dita juara dua, Arga juara tiga. Ini piala sama rapornya dipegang masing-masing," kata Ibu sambil menyodorkan benda-benda itu kepada kami.
Hore! Aku dapat piala lagi! Rasanya gembira sekali.
Kami berdua segera menerima piala dan rapor dari tangan Ibu. Dengan tidak sabar, aku langsung membuka halaman demi halaman buku raporku yang baunya khas kertas baru itu untuk melihat angka-angka nilai yang kudapatkan. Wajahku langsung semringah. Senang sekali mengetahui bahwa meskipun kami sempat berpindah sekolah di tengah jalan, kami berdua masih bisa menduduki peringkat atas di kelas. Aku melihat deretan nilaiku. Nilai paling tinggi yang kuperoleh ada di mata pelajaran Bahasa Indonesia dan PPKN karena aku memang suka membaca, sedangkan nilaiku di pelajaran Matematika untungnya masih aman, ya... standar-standar saja alias biasa saja, yang penting tidak merah.
Setelah puas melihat nilai, Ibu mengajak kami untuk segera pulang. Sepanjang jalan setapak menuju gerbang sekolah dan jalan raya, piala emas yang kubawa terus berkilauan diterpa cahaya matahari siang. Aku memegangnya erat-erat dengan perasaan bangga yang meluap.
Aku benar-benar senang! Koleksi pialaku bertambah satu lagi.
*****
Namun, libur sekolah setelah pembagian rapor ternyata sama sekali tidak menjadi waktu untuk bersantai atau dinikmati dengan beleha-leha. Mulai hari berikutnya, Ibu rajin mengajak aku dan Kakak bertamu ke rumah beberapa temannya yang tersebar di berbagai sudut kota. Hari-hari liburku dihabiskan dengan berpindah dari satu becak ke becak lainnya.
Bunyi kayuhan sepeda becak dan klakson anginnya yang khas menjadi latar suara liburanku kali ini. Kadang-kadang, jika jalanan macet atau uang Ibu pas-pasan, kami bahkan harus berjalan kaki cukup jauh, memasuki gang-gang yang sangat sempit dan becek untuk memotong jalan agar bisa lebih cepat sampai ke tujuan. Dalam satu hari, Ibu bisa membawa kami mengunjungi sampai tiga rumah teman lamanya. Aku sama sekali tidak mengenali orang-orang dewasa itu. Karena tidak tahu siapa mereka, jalan amannya adalah aku mengikuti saran Kakak, semua wanita pemilik rumah yang kami datangi langsung kupanggil dengan sebutan "Tante".
Baru pada hari kelima liburan, sebuah rahasia kecil akhirnya terungkap ke permukaan. Melalui potongan-potongan obrolan Ibu yang kudengar dari balik pintu ruang tamu rumah orang, aku akhirnya tahu alasan sebenarnya di balik kunjungan-kunjungan maraton kami selama liburan ini. Ibu datang ke rumah teman-temannya ternyata untuk meminjam uang.
Seketika itu juga, ingatan anak SD-ku langsung berputar kembali ke hari pengambilan rapor kemarin. Hari itu Ibu datang sangat terlambat sampai antrean kelas habis. Sekarang aku paham alasan yang sebenarnya bahwa sebelum ke sekolahku, Ibu pasti sudah berkeliling dari satu rumah teman ke rumah teman lainnya dengan tujuan yang sama, yaitu mencari pinjaman.
Rasa penasaran yang sudah menumpuk di kepala membuatku dan Kakak memberanikan diri untuk bertanya langsung saat kami sedang beristirahat di sebuah warung. Ibu menatap kami berdua sebentar, lalu menjawab dengan suara lembut kalau uang pinjaman itu akan digunakan untuk tambahan biaya pindah kami. Ibu bilang, kami akan pulang ke kampung lagi, kembali menetap di rumah Kakek dan Nenek.
Ah! Teka-teki yang mengganjal di hatiku akhirnya terjawab sudah. Sekarang aku tahu apa isi dua lembar amplop putih tebal yang Ibu bawa keluar dari ruang guru saat pengambilan rapor waktu itu. Benda itu bukan sekadar berkas dokumen biasa, melainkan surat pindah sekolah kami.
Lagi-lagi kami harus pindah. Untuk kesekian kalinya dalam hidupku ini, aku harus merasakan jadi anak baru lagi dan beradaptasi di sekolah yang baru pula.
Sebenarnya, sudah berkali-kali Kakak ingin menanyakan alasan mendalam di balik kepindahan kami yang terus-menerus ini langsung kepada Ibu. Kakak ingin tahu kenapa hidup kami tidak bisa tenang di satu tempat saja. Namun, setiap kali melihat betapa lelahnya wajah Ibu setelah pulang bekerja, dan menyadari betapa rumitnya jalan hidup yang sedang kami jalani, Kakak selalu mengurungkan niatnya itu. Kakak tidak sampai hati dan tidak tega untuk menambah beban pikiran di kepala Ibu.
Aku sendiri sempat menawarkan diri, "Kak, biar Arga aja yang nanya ke Ibu, ya?" Tapi Kakak selalu menahanku dengan berbagai macam alasan. Alasan yang paling logis dan selalu dikatakannya padaku adalah: "Jangan, Ga. Ibu pasti punya tujuan." Dia mengingatkanku pada kejadian lama, sama seperti dulu saat Ibu tiba-tiba mengizinkan kami menginap di rumah Bapak. Ibu pasti punya rencana besar yang sengaja dirahasiakannya dari kami demi kebaikan kami sendiri.