Aku akhirnya menemukan satu mata pelajaran yang paling kusukai di kelas empat ini, Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Bagaimana tidak suka? Setiap kali menanti bab baru yang akan diajarkan, semangatku langsung memantik untuk semakin giat belajar. Aku bahkan jadi sering berkunjung ke perpustakaan sekolah saat jam istirahat guna menelusuri buku-buku tebal demi mencari tahu lebih banyak soal materi IPA.
Pak Gustom, guru yang mengajar mata pelajaran IPA di kelas kami, adalah orang yang sangat asyik. Beliau selalu tampil riang, ramah, dan suka sekali bercanda di sela-sela menjelaskan pelajaran. Kami seisi kelas merasa sangat senang dengan kepribadiannya yang menyenangkan itu, dan selalu menanti-nanti dengan tidak sabar kapan hari pelajaran IPA tiba lagi. Dibandingkan dengan guru-guru lain yang pembawaannya kaku dan galak, cara Pak Gustom dalam mengajar membuat otak anak SD kami sangat mudah menangkap apa yang dimaksudkannya.
"Hari ini kita akan belajar mengenai 'Simbiosis'. Ayo semuanya buka buku paket kalian di halaman... enam puluh satu," kata Pak Gustom dengan suara lantang yang ceria di depan kelas. Tangannya bergerak lincah, menggoreskan kapur tulis putih untuk menuliskan jenis-jenis simbiosis di papan tulis hitam.
"Simbiosis itu terbagi menjadi tiga jenis. Apa saja jenisnya, Dion?" tanya Pak Gustom sambil menunjuk Dion, anak laki-laki berkacamata yang kebetulan duduk di barisan paling depan, dekat dengan pintu masuk.
Dion yang mendadak ditanya langsung gelagapan. Ia buru-buru membuka buku paketnya dengan gugup. "Eh... simmbooosis mut-tual-isme, komo-nolis-me, pa-ra-siti-tisme, Paakk!" Dion terbata-bata mengeja tulisan dari buku dengan lidah yang kelu sehingga pelafalannya terdengar sangat aneh.
"Waduh! Salah semua itu bacanya, Yon. Sini, sini maju ke depan," panggil Pak Gustom sambil melambaikan tangannya dengan jenaka.
Teman kami itu terpaksa beranjak dari kursinya dengan wajah memerah, disertai dengung tawa dari anak-anak sekelas yang menertawakan kegelagapannya menyebut jenis-jenis simbiosis tadi.
"Ulangin lagi bacanya, Yon. Kencang-kencang suaranya juga boleh! Nggak boleh ada yang salah tapi, ya!" Pak Gustom menangkupkan telapak tangannya ke dekat telinga Dion, berpura-pura berbisik memberi instruksi rahasia.
Kami yang melihat tingkah kocak itu tidak tahan untuk tidak nyengir lebar. Meskipun judulnya bisik-bisik, tapi suara Pak Gustom tetap saja terdengar jelas oleh kami sekelas karena guru kami yang satu ini memang beda dan unik sekali.
Setelah disodorkan buku paket oleh Pak Guru, Dion membuka buku itu dengan kedua tangannya lebar-lebar seperti seorang petugas upacara yang sedang membaca teks Undang-Undang Dasar di atas podium. Dengan sekuat tenaga, dia berteriak lantang, "SIMBOSIS MUTUALISME, KOMENSALISISME, PARASITISISME!!!"
“Oalah! Udah suaranya kencang banget sampai bikin budek, eh, masih salah juga bacanya. Edan,” bisik Beni dari meja di sampingku.
Karena suasana kelas sedang sepi menanti reaksi Pak Guru, suara bisik-bisik Beni yang dikira pelan itu sepertinya tidak ada gunanya sama sekali. Kami semua mendengar kalimat ejekan Beni dengan sangat jelas. Dion yang berdiri di depan langsung melayangkan tatapan sebal dan melotot ke arah Beni karena merasa kesal dengan lontaran spontan tersebut.
"Hayoooo... masih salah. Yang kedua sama ketiga masih salah itu bacanya," kata Pak Gustom sambil menggeleng-gelengkan kepalanya jenaka.
"Simbi-osis Yon, bukan simbo-sis. Terus komensalisme dan parasitisme." Ega yang duduk di barisan paling depan ikut menyeletuk membetulkan.
Dion mendekatkan buku paket di tangannya lebih dekat lagi ke depan wajahnya untuk memperhatikan huruf-hurufnya dengan teliti. "OHH... iya juga, ya. Tulisannya Simbiosis," katanya polos setelah sadar akan kesalahannya sendiri. Ia lalu mengarahkan tangannya untuk menggaruk kepala yang tidak gatal dengan perasaan malu yang amat sangat.
Pak Gustom memalingkan wajahnya yang jenaka ke arah kami semua. "Oke, sekarang mari kita tes! Barisan meja paling depan jawab! Yang pertama tadi simbiosis apa?" katanya sembari menggerakkan telunjuknya untuk membuat garis khayalan dari ujung kiri ke ujung kanan pada barisan meja paling depan.
"MUTUALISME!" jawab anak-anak yang duduk di barisan depan dengan kompak.
"Bagus! Sekarang barisan meja paling belakang jawab! Simbiosis yang kedua apa namanya?" lanjut Pak Gustom lagi sambil mengarahkan pandangannya ke barisan belakang.
"KOMENSALISME!" teriak anak-anak barisan belakang termasuk aku yang ikut berteriak sekuat tenaga karena tidak mau kalah kencang dari anak-anak lain.
"Nah, yang terakhir barisan meja tengah! Simbiosis yang ketiga apa?"
"PARASITISMEEEEEE!!!!!" ledak suara kompak yang sangat gemuruh dari anak-anak yang duduk di barisan tengah, sampai-sampai gorden jendela kelas ikut bergoyang.
Seketika itu juga, seisi kelas meledak dalam tawa. Pak Gustom pun ikut tertawa puas melihat kekompakan kami.
Heboh dan seru sekali pelajaran kami hari ini. Pak Gustom, oh, Pak Gustom, guru kami yang sangat cerdik. Mana mungkin kami bisa lupa lagi dengan nama-nama jenis simbiosis itu setelah dibuatnya melekat erat di dalam kepala dengan cara seseru ini.
Hari itu, untuk pertama kalinya setelah tiga bulan pindah, aku merasakan sebuah perasaan yang sudah lama hilang. Aku merasa sangat bahagia berada di sini. Di sekolah ini. Rasanya aku perlu menyerap semua energi kebahagiaan ini ke dalam dadaku, sungguh benar-benar ingin kuserap.
*****
Waktu terus bergulir dan tidak terasa semester satu sudah hampir berakhir. Sebentar lagi kami semua harus menghadapi ulangan pertengahan semester yang menjadi saat mendebarkan bagi kami untuk membuktikan sejauh mana materi pelajaran yang sudah diajarkan oleh guru-guru benar-benar terserap dengan baik di dalam otak kami.