Dulu, aku mengira es teh manis yang disodorkan Tomi adalah awal dari sebuah pertemanan yang hangat di tengah kesepian anak baru. Ternyata, itu hanyalah umpan. Sebuah jebakan manis yang perlahan-lahan menjeratku ke dalam hubungan yang menyesakkan. Kebaikan hatiku kini berbalik menjadi penyesalan yang membakar dadaku setiap kali aku membuka mata di pagi hari.
Hatiku benar-benar seperti sedang dikepung ombak yang ganas dan terombang-ambing sendirian di tengah samudera cemas. Ombak itu bukan sekadar air karena ia seolah memiliki otak sendiri yang mampu membentuk pusaran hitam yang siap menelan seluruh keberanianku hingga aku tak lagi mengenali diriku sendiri.
Aku pernah memberinya nasihat, sebagai wujud kepedulian seorang teman, untuk tidak lupa mengerjakan PR. Namun Tomi selalu abai. Ia lebih suka menghabiskan waktu dengan cerita-cerita konyol tentang ular kobra omnya daripada memegang alat tulis. Karena tidak tega melihat dia terus-terusan kena marah, aku mulai membantunya. Awalnya hanya satu soal lalu bertambah menjadi dua hingga akhirnya merembet ke hampir semua mata pelajaran. Tanpa kusadari, aku telah menjadi pelayan bagi kemalasannya sendiri.
Tempo hari, dengan wajah yang dibuat-buat pucat, Tomi bercerita bahwa papanya sudah di ambang batas kesabaran karena nilai-nilainya hancur lebur di kelas empat. Ancaman papanya nyata yaitu jika rapornya tidak membaik, ia akan dipindahkan ke sekolah pelosok dan dititipkan kepada adik papanya, orang yang memelihara ular kobra di kandang besi itu. Mendengar itu, pertahananku runtuh. Aku mulai membiarkannya mengintip setiap lembar pekerjaanku. Ternyata, Tomi bukan sekadar melihat. Ia menyalin. Semuanya. Titik, koma, bahkan kesalahan kecil yang kubuat pun ia tiru dengan sempurna.
Bencana itu datang. Beberapa guru mulai menaruh curiga karena nilai kami berdua seringkali kembar identik. Saat aku dipanggil ke ruang guru, kakiku gemetar hebat dan sisi pengecutku menang. Saat ditanya, aku berbohong. "Kami sering belajar bersama, Pak. Jadi wajar kalau cara berpikir dan kalimat kami jadi mirip," kataku dengan suara yang dipaksakan stabil. Itu adalah kebohongan pertama yang paling menyakitkan yang pernah kuucapkan.
Namun, musim ujian semester dua datang bak badai yang menuntut kejujuran. Tekadku sudah bulat bahwa kali ini aku tidak akan membiarkannya mengintip. Tidak akan!
Saat ulangan dimulai, Tomi gelisah di sebelahku. Dari sudut mataku, kulihat ia menggeser duduknya untuk mencoba mendekat. Aku langsung bergeser ke arah berlawanan dan menciptakan jarak yang sedingin es.
"Psttt... liat dikit jawabannya, Ga. Jangan pelit," bisiknya tajam dengan suara yang seperti desis ular yang sering ia ceritakan padaku.
Aku pura-pura tidak mendengar. Guru pengawas di depan menengadahkan kepala, matanya menyapu ruangan. Aku langsung menulis dengan kecepatan tinggi sambil mengabaikan Tomi yang mulai mencolek betisku dengan ujung sepatunya dengan kasar. Tendangan-tendangan kecil itu seperti jarum yang menusuk, tapi aku tetap diam karena aku tidak peduli.
Saat istirahat, aku berusaha melarikan diri ke kamar mandi. Kubawa buku paket untuk berdiam diri di dalam bilik sembari berharap Tomi akan menyerah. Namun, saat bel tanda istirahat selesai berbunyi, aku keluar dan mendapati Tomi sudah berdiri di depan pintu kamar mandi sambil menopang punggungnya di dinding dengan tatapan yang sangat menyebalkan.
"Kenapa sih jahat banget jadi orang?" desisnya.
Aku mengerutkan kening. "Kamu harus belajar sendiri, Tom. Mau sampai kapan hidup dari contekanku?" aku melangkah melewatinya, tapi dia segera mengejarku dan mencengkeram lenganku dengan kasar.
"Bantu teman emang sesusah itu, ya?"
"Udah terlalu sering kamu kubantu, Tom! Dan lihat hasilnya? Kamu bahkan nggak mau susah payah buat memahami pelajaran karena kamu cuma menyalin!" nada suaraku meninggi, hampir pecah karena emosi.
Tomi berhenti melangkah. Ia tersenyum miring, senyum yang membuat bulu kudukku berdiri. "Ya udah," katanya tenang. "Kalo kamu nggak mau bantu lagi, jangan kaget seandainya besok aku bilang ke guru kalo selama ini jawaban kita sama karena kamu yang sengaja biarin aku menyalin. Kamu yang ngasih contekan, kan? Aku punya bukti coret-coretan di meja yang kita tulis bareng-bareng."
Langkahku terhenti dan aku membeku. Ancaman itu nyata karena ia tahu titik lemahku, yaitu Ibu. Jika Ibu dipanggil wali kelas karena masalah menyontek, itu akan menghancurkan segalanya. Bagaimana jika nilaiku ikut diseret? Bagaimana jika mereka tahu aku berbohong saat di ruang guru tempo hari?
Bayangan Ibu menangis di ruang kepala sekolah berkelebat di pikiranku dan menjadi mimpi buruk terburuk yang bisa kubayangkan. Ketakutan itu seperti rantai besi yang melilit leherku, membuatku tak bisa lagi berteriak.