Langit siang itu biru total, bersih dari gumpalan awan seolah sengaja membiarkan matahari memanggang bumi tanpa ampun. Angin kering yang berembus bahkan langsung menyapu bersih sisa-sisa keringat di dahi.
Tepat tengah hari kurang lima belas menit, suara deru motor matik Deri akhirnya terdengar mendekat. Begitu berhenti di depanku, ia memindahkan posisi ranselnya ke depan dada, lalu menyerahkan dua kantong tas berukuran sedang yang sedari tadi tergeletak di dek depan motornya.
"Lengkap, nih?" tanyaku seraya menimang-nimang kedua tas di tangan, mencoba mengira-ngira isinya.
Deri hanya mengacungkan jempol tanpa menoleh karena sibuk memosisikan ransel di dadanya agar nyaman selama perjalanan. "Aman damai sentosa," sahutnya seraya menendang ke atas standar samping motor.
"Oke. By the way, ganti tempat ngumpul, Der. Pindah ke rumah Heri," kataku begitu mendaratkan pantat di jok belakang.
Deri melirik dari kaca spion lalu menaikkan alisnya. "Oke, meluncur!"
Ia langsung menarik gas. Motor matik itu melesat membelah aspal yang mulai memancarkan uap panas. Perjalanan kami dimulai dengan dua kantong perbekalan yang menggelayut dan bergerak dinamis mengikuti irama jalanan.
Deri adalah teman terdekatku. Ia juga menjabat sebagai wakil ketua kelas. Temanku yang satu ini sering menjemput untuk berangkat dan mengantarku pulang dari sekolah. Pokoknya baik sekali, sampai Ibuku sering memberinya sedikit uang jajan sebagai ganti ongkos bensinnya.
Pada belokan terakhir, sudah terlihat beberapa remaja berkumpul di teras rumah sambil mengipaskan tangan di depan wajah. Deri memberhentikan motor tepat di depan rumah berpagar biru berkarat. Kami menurunkan standar lalu turun sambil membopong ransel dan kantong amunisi. Setelah membuka pengait pagar dan masuk ke dalam, kami langsung disambut oleh Vika, Mareta, Satria, dan Restu dengan ranselnya juga.
"Cukup buat dua hari kan?" tanya Mareta sambil menepuk-nepuk kantong tas yang kubawa.
"Aman aja," jawabku sambil memberikan tas itu padanya
"Mana Heri?" Deri bertanya sambil meletakkan ranselnya yang menggelembung di lantai teras rumah.
"BOKER!" jawab semua serempak.
Begitulah Heri. Teman kami yang satu itu selain hobi makan juga hobi boker. Sudah jadi kebiasaannya hingga kami menyebut apa yang dilakukannya sebagai hobi yang membumi. Namun dia dengan kepercayaan diri tinggi menyebutnya sebagai bentuk cinta kepada lingkungan untuk menjaga kesuburan tanah. Aku bahkan menamai kontaknya di ponsel dengan nama Sang Penyubur. Hahaha.
Oh ya, dengan bawaan penuh begini, kami merencanakan untuk mengadakan camping di wilayah selatan. Kami juga berniat mengunjungi rumah Desi di perjalanan. Seharusnya temanku satu itu juga ikut camping ini, tapi jadi berhalangan dikarenakan kakak ibunya pulang ke daerah.
Ini adalah libur pertengahan semester. Makanya sebelum bertempur dengan tugas-tugas akhir masa sekolah, ide ini kami sepakati untuk terlaksana bagaimanapun caranya. Di sinilah kami hari ini. Melangkah menuju panggung di selatan, mencari cakrawala bersama.
Menangkap bekas untuk hidup kami yang berharga.
*****
Perjalanan kami mulai pada pukul setengah satu siang. Tujuan pertama kami ke rumah Desi. Jaraknya tidak begitu jauh dan sebentar lagi sampai.
Desi adalah teman sebangkuku di kelas. Orangnya cerewet dan gampang panik, persis seperti Vika. Jika mereka disatukan, maka kehebohan di waktu tertentu bisa mengacaukan suasana hati kami juga. Kami kadang sebal dengan fakta itu. Desi orang yang pintar bergaul. Wajar saja ia cerewet, karena hobinya adalah menyapa anak kelas lain lalu basa-basi lama sekali.
Kalau Vika agak berbeda. Ia tidak suka basa-basi dan selalu langsung to the point. Kurasa ia juga hampir mengenal seluruh orang di angkatan kami. Kedewasaannya bahkan cocok saat mengobrol dengan guru-guru sekalipun. Sederhananya, mereka harus dijauhkan saat terjadi kondisi di luar kontrol. Mereka bagaikan api dan bensin. Makin disatukan, makin menyala-nyala.
Ada juga Mareta, anak satu ini adalah kebalikan dari Desi dan Vika. Mareta sangat tenang, bahkan bisa dibilang berada di level dewa. Kami berprasangka jika ketenangan itu datang dari namanya, Marina Mareta. Marina yang artinya berkaitan dengan laut, terasa cocok sekali dengan Mareta yang setenang samudera. Luas, dalam, dan tidak mudah bergejolak meski dilempari batu sebesar apapun.
Ada pula Satria dan Restu. Dua kutub ekstrem yang membuat kelompok kami jadi tidak membosankan. Satria si pemantik cerita, Restu si pemantik drama. Mereka seperti sedikit garam untuk kentang goreng yang sukses meningkatkan rasa solidaritas di antara kami. Garam memang murah dan mudah ditemukan, tapi bagiku dua orang itu istimewa. Merekalah dua orang yang membuat rasa utama lebih keluar karena tertakar sempurna.
Saat kami mampir, Desi terhuyung keluar dari pintu samping rumah, "Sumpah ya, aku pengen banget ikut. Tapi gimana... Ibu udah bilang kalo Tante sekeluarga mau datang, terpaksa nggak bisa ikut deh."
Kulihat ia menggoyang-goyangkan kain serbet di tangan, kain itu berkibar ke kanan kiri mengikuti ekspresinya yang meluap-luap ketika berbicara. "Ini juga disuruh bantuin bikin kue, menyambut keluarga kerajaan kami kata Ibu," tambahnya sambil memutar bola mata sedikit berlebihan.
"Nggak papa kok, Des, santai kaliii," Deri yang menjawab. Kami menuju arah pintu samping, menongolkan kepala ke dalam untuk menyapa Ibu Desi. "Siang Tanteee!" kicau kami kompak.
"Halo semua..." kami melihat Tante menuju pintu. Satu persatu kami salim kepadanya.
"Wangi banget kuenya, Tanteee. Pasti ada yang buat kami juga, yaaah?!" goda Restu dengan nada yang dibuat manja-manja.
Satria yang mendengarnya tidak melewatkan kesempatan untuk menimpali, “Ya kali masih ditanyaaa... Tante Erni mah udah bhaik, dermawhan, chantik... mana mungkin tega bikin kita ngiler doang...” Ia beringsut menerobos kami sampai tiba di ambang pintu, “Malah nih ya... kalo bisa se-oven-ovennya disuruh bawa ya kan, Tan?!!”