ORANG YANG DATANG

Aga Lesmana
Chapter #19

BAB 19: Langit Bertabur Bintang dan Riuh Burung Berkicau

PLAK, PLAK, PLAK!

Lagu kebangsaan terdengar, sebuah simfoni pembuka petualangan kami yang menggema. Bunyi hantaman palu pada pasak-pasak besi yang sedang kami tancapkan mengeluarkan suara yang saling bersahutan, memutus keheningan liar di sekeliling kami. Jlesss. Ujung besi melesat tanpa perlawanan berarti menembus tanah yang begitu empuk. Inilah koordinat yang tepat, titik mula dari segalanya. Alam seolah sedang menyambut kedatangan kami dengan keramahan yang tulus. Bumi membentangkan hamparan yang nyaman bagi kami untuk mendirikan sebuah benteng baru, tempat barisan kisah masa muda akan dipahat abadi.

Karena tenda yang kubawa paling besar, aku pun menempatinya bertiga bersama Heri dan Deri. Begitu ritsleting tas jinjingnya ditarik dan kain terpal tipis itu dibentangkan lebar-lebar di atas rumput, seketika itu pula seberkas aroma khas menguar kuat dari serat-serat kainnya. Itulah aroma kenangan abadi. Sebuah perpaduan dari sisa cerita melewati badai kecil dan bau matang matahari oleh para senior terdahulu. Aku selalu menaruh rasa suka pada baunya. Terdengar agak aneh dan janggal memang, tetapi aroma kenangan usang selalu berhasil meyakinkanku bahwa sebenarnya dunia ini menyimpan begitu banyak hal menakjubkan.

Seperti ada nalar yang berbisik bahwa meskipun masa depan itu kelam, buram, atau penuh ketidakpastian, namun kenangan yang kulewati hari ini membawa bukti nyata bahwa dunia pernah, dan bisa lagi, terasa aman dan hangat.

Memakai inventaris sekolah seperti ini sekaligus menjadi ungkapan rasa syukur dan lega. Kami tidak diberatkan dengan biaya hobi seperti persoalan menyewa alat-alat untuk camping. Dengan begitu, energi meluap yang kami miliki bisa dialihkan sepenuhnya demi merajut benang persahabatan dan membangun kedekatan batin. Bukankah hal itu terasa sangat seru? Ya, tentu saja keseruan ini berjalan berdampingan dengan satu komitmen mutlak, yaitu kami wajib menjaganya dengan saksama dan mengembalikannya ke gudang sekolah dalam kondisi utuh tanpa cela seperti sedia kala.

Tenda-tenda kami kini telah berdiri kukuh. Semuanya sengaja disusun membentuk sebuah formasi komunal, melingkar akrab berhadapan, dengan titik tengah tempat api unggun. Nantinya titik itu akan menjelma menjadi 'televisi alam' paling sakral sepanjang malam. Sumbu api itulah yang akan menampung segalanya, mulai dari bait cerita paling jujur yang keluar dari dasar hati, desas-desus romansa, hingga perdebatan teori konspirasi dunia yang paling fiktif sekalipun. Hasil dari semua itu? Hati kami selalu pulang dalam keadaan penuh dan sempurna. Sebab, tepat di bawah langit malam nanti, wajah-wajah kami yang saling berhadapan akan turut membagi tawa lepas tanpa sekat penumpas jarak.

Ketika semua selesai memasang dan merapikan benteng pertahanannya, semburat warna jingga keemasan perlahan turun dari langit. Cahaya sore menyentuh lembut permukaan kusam kain tenda kami yang mulai usang. Prosesi raibnya sang surya ke balik cakrawala memicu sebuah sensasi hangat yang merambat pelan di dalam dada. Inilah puncak dari segala estetika, sambutan kami untuk perubahan dunia yang ingin memeluk gulita.

Kami lantas bangkit berdiri, berjejer rapi menatap cakrawala yang kian meremang. Dengan gerakan serempak, kami mengangkat gelas tinggi-tinggi. Di telapak tangan kami genggam erat kebersamaan. Mengunci riuh dan janji untuk masa depan.

 

*****

 

Malam itu kami duduk melingkar di bawah keremangan cahaya api unggun. Kami berbagi tawa dengan camilan yang masih menyisakan remah-remah di sudut bibir. Tak lengkap rasanya acara camping tanpa menyisipkan sebuah permainan.

The Never Ending Story adalah primadona bagi kami. Sebuah permainan yang aturannya sederhana namun menantang. Satu kalimat pembuka yang terlontar bisa meluncur liar ke arah komedi, horor, romansa, bahkan tragedi. Peraturannya pun mutlak. Alur cerita harus bersambung mengikuti alih arah telunjuk dari sang pencerita terakhir.

"Game start!" Vika memberi aba-aba, memecah kesunyian malam.

"Di bawah langit berbintang ini, duduklah sekelompok monyet..." Deri memulai narasi. Sejurus kemudian, telunjuknya berhenti tepat di depan hidung Satria.

"Jadi kita monyet, nih?" Restu bertanya sambil mencolek bahu Deri, yang langsung disambut tawa oleh yang lain.

Kami memicingkan mata. Ada rasa sedikit tersindir, namun kami tak bisa menahan tawa saat dikiaskan sebagai kawanan monyet.

"Lanjut dong..." desak Deri.

Satria berdeham sebentar, lalu melanjutkan, "Karena lapar, mereka sepakat memanjat pohon yang tinggi untuk mengambil buahnya. Ah! Tapi hari sudah gelap! Sangat berbahaya jika sampai tergelincir. Lagipula, di hutan ini buahnya belum cukup matang. Kalau dipetik sekarang, sama saja sia-sia." Ia mengedarkan pandangan, menatap wajah-wajah yang terpendar hangatnya api, sebelum akhirnya mengarahkan telunjuknya menunjukku.

Aku berpikir sejenak, merangkai alur di dalam kepala. "Maka, seekor elang pun turun menawarkan bantuan. 'Hei monyet! Aku tahu hutan yang memiliki banyak buah-buahan matang. Sangat banyak dan wanginya semerbak. Kulihat kalian kelaparan, ayo ikut aku! Akan kujatuhkan buah-buah itu dari atas, kalian cukup bersiap menangkapnya satu per satu dari bawah...'"

Anak-anak melongo menyimak ceritaku yang mengalir lancar. Wajah mereka tampak terbius oleh hangatnya nyala api. Sepersekian detik kemudian, telunjukku mengarah ke sudut kiri, tempat Mareta duduk tenang sambil mengunyah marshmallow-nya.

Mareta menegakkan punggung, menelan camilannya sebelum menyambung cerita, "Kelompok monyet itu girang mendengarnya. Mereka mengikuti elang. Tak lama kemudian, mereka sampai dan menunggu di bawah pohon pertama..."

Lihat selengkapnya