ORANG YANG DATANG

Aga Lesmana
Chapter #20

BAB 20: Di Atas Aspal Dewasa

Bulan Oktober 2014. Hari ini adalah hari pertamaku masuk kerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan distributor merek terkenal. Semuanya terasa serbacepat. Padahal, lembar ijazah asliku saja belum resmi dicetak oleh sekolah. Namun, bermodalkan Surat Keterangan Hasil Ujian Nasional (SKHUN) dan beberapa lembar fotokopi rapor yang ujung-ujungnya sudah agak melengkung karena sering keluar-masuk map, aku nekat bertaruh nasib.

Aku teringat beberapa hari lalu, di bawah terik matahari kota yang membakar aspal, Heri memboncengku berkeliling. Kami mengetuk satu per satu pintu perusahaan, menyelipkan map jinjing warna merah ke meja satpam atau loket HRD yang dingin. Keberuntungan ternyata memilih jalurnya sendiri. Jumat sore, sebuah panggilan telepon dari bagian administrasi memintaku datang untuk tes dan wawancara. Senin paginya, aku sudah diminta mengenakan kemeja rapi. Aku lolos.

Sementara Heri? Langkahnya masih tertahan di aspal yang sama.

"Aman aja, Cuy! Santai," ucap Heri sore itu lewat telepon, suaranya berusaha terdengar seringan mungkin, khas dirinya yang pantang menyerah. Ia bercerita kalau sekarang giliran Satria dan Deri yang menemaninya memutari kota, bergantian mengantar lamaran.

Mendengar itu, ada bongkahan lega yang menyelusup di dadaku. Setidaknya sahabatku tidak sendirian di jalanan. Namun, jujur saja, ada rasa tidak enak yang mengganjal. Rasanya seperti melangkah duluan melewati garis finis, sementara orang yang membantumu berlari masih tertatih di belakang. Dunia dewasa ternyata langsung menyapaku dengan rasa bersalah yang halus seperti ini.

"Darwin!"

Suara berat itu membuyarkan lamunanku. Seorang pria dengan kemeja agak longgar menjabat tanganku kuat-kuat. Aku membalas senyumnya sehangat mungkin, lalu mengoper tangan kepada orang di sebelahnya, menyusuri barisan meja yang dipenuhi tumpukan kertas dan aroma kopi instan.

Satu per satu nama asing masuk ke telingaku. Aku menyalami semua orang di kantor ini. Inilah dunia baru yang akan menjadi rumah keduaku entah untuk berapa lama. Sambil melepaskan jabat tangan terakhir, aku menarik napas dalam-dalam. Mataku menatap meja kerja yang kini menjadi hak milikku.

Semoga tempat ini ramah untuk langkah pertamaku.

 

*****

 

Pekerjaanku adalah membuat faktur penjualan barang. Cukup dengan menginput kode-kode barang ke komputer, sistem secara otomatis akan menarik data dari tabel inventaris untuk menampilkannya di layar. Setiap pemesanan dari toko yang dibawa oleh salesman akan dicetak menjadi faktur penjualan rangkap empat. Lembarannya dibagi untuk toko, orang gudang di lantai bawah, bagian keuangan, dan lembar terakhir sebagai arsip pembukuan perusahaan. Selain tugas utama itu, aku juga diwajibkan memasukkan data dari faktur-faktur lama hingga lima tahun ke belakang. Hal ini harus dilakukan karena perusahaan tengah bermigrasi ke sistem penyimpanan digital yang baru.

Karena jumlah salesman kami lumayan banyak dan produk yang dipasarkan pun beraneka ragam, tim faktur penjualan perusahaan kami dipegang oleh empat orang. Ada dua kategori produk di perusahaan tempatku bekerja, yaitu food dan non-food. Maka dari itu, agar faktur tetap seimbang dan semua pesanan terproses tepat waktu, ritme kerja kami harus solid. Kami dituntut untuk saling mendukung antara satu sama lain. Jika orderan sedang menumpuk hebat, kolaborasi untuk mengejar tenggat cetak faktur sangatlah diperlukan. Mode saling menggantikan posisi juga menjadi poin penting jikalau salah satu di antara kami harus mengambil jatah cuti.

Pekerjaan ini bisa dibilang gampang-gampang susah. Orderan dari buku sales rasanya tidak ada habisnya, terus mengalir dari pagi hari hingga menembus jam pulang sore. Bagiku sendiri, mengerjakan pesanan sesuai antrean salesman yang masuk lebih dulu adalah cara paling urut untuk mengatur arus ketersediaan barang. Langkah ini sekaligus ampuh mencegah komplain di kemudian hari.

Di tempat kerja ini, aku banyak mengamati dan terus belajar memahami manusia beserta ego yang mereka bawa tanpa sadar. Contoh nyatanya, para salesman sering kali menunjukkan ego dan tekanan target yang tinggi. Sikap mereka sangat tergantung apakah hari itu berjalan baik atau buruk bagi mereka. Hal ini jelas berdampak pada gesekan sikap antara kami, yaitu tim di balik meja, dan mereka sebagai tim lapangan. Siapa yang perlu didahulukan? Dan siapa sebenarnya yang berhak paling galak di antara kami? Maka dari itu, dengan menerapkan sistem antrean kaku berdasarkan waktu masuknya pesanan, aku punya argumen yang tak terbantahkan. Satu per satu, faktur demi faktur. Akhirnya semua tumpukan pesanan itu bisa habis tepat waktu tanpa ada satu pun salesman yang merasa dianaktirikan.

Meskipun ada beberapa hal yang bisa diatur sesuai kemauan, tetap saja ada faktor luar di luar kendali yang datang dan wajib diselesaikan saat itu juga. Sebagai contoh, ketika pihak toko meminta pesanannya dikirim cepat, mau tidak mau salesman kami akan mendesak agar proses cetak faktur didahulukan. Antrean pun harus dilangkahi. Belum lagi jika toko tiba-tiba ingin mengubah jumlah pesanan. Aku selaku pembuat faktur harus terburu-buru turun-naik tangga ke gudang bawah, berkejaran dengan sopir yang sudah menyalakan mesin truk, lalu mengedit data secepat yang kubisa. Semua itu kulakukan sambil menahan sebal karena hal seperti ini sering terjadi justru di saat orderan besar sedang menumpuk.

Di momen-momen seperti inilah, kata-kata guruku yang dulu terdengar seperti teori atau nasihat klise tiba-tiba berubah menjadi kenyataan yang menghantam keras. Terjadi benturan antara idealisme caraku menyelesaikan sesuatu dengan realitas tekanan di lapangan yang menuntut penyelesaian instan. Semua itu adalah hal yang harus diterima dengan lapang dada. Kalimat guruku yang berkata, "Ada beberapa hal yang baru terasa nyata saat kalian sudah terjun ke dunia kerja." adalah bentuk lain dari apa yang kini kunamakan risiko kerja. Kalimat itu sekaligus menjadi payung besar untuk menampung realitas pahit yang tidak pernah tercantum dalam buku pelajaran sekolah.

Jika sampai salah menginput jumlah barang, karena tentu saja manusia kadang ada salahnya, termasuk aku, maka mau tidak mau konsekuensinya harus dipertanggungjawabkan di tengah amukan berbagai pihak. Pilihannya hanya antara dimarahi salesman, disemprot pihak gudang, diinterogasi manajer operasional, ditegur kepala tim, bahkan untuk kasus besar, bisa berujung pada surat peringatan dari kantor.

Aku tahu bekerja itu tidak mudah, dan setiap pencapaian pasti butuh peluh. Semua rasa lelah ini adalah biaya yang harus dibayar untuk proses pendewasaanku. Tidak ada keberhasilan yang datang sebelum kerja keras. Tidak ada.

Tapi, omong-omong, di tengah semua tekanan tempat ini, aku menemukan sahabat baikku.

 

*****

Lihat selengkapnya