Hari ketiga kami lalui dengan menenteng peralatan snorkeling yang terasa sedikit berat. Namun, beban itu sarat janji akan petualangan di balik permukaan biru.
Tadi, kami sempat membelah arus, mengitari laut sambil menatap kagum gugusan batu raksasa yang menyembul dari kedalaman. Ada yang angkuh menjulang menyerupai burung yang hendak lepas landas, ada pula yang terdampar lesu menyerupai perahu setengah tenggelam, menelan takdirnya sendiri dihempas ombak.
Sekarang, detak jantung kami berpacu lebih kencang. Waktunya kegiatan inti, yaitu Snorkeling.
Aku duduk di tepian perahu, di tengah laut yang luas membentang. Aku siap menyeburkan diri ke dalam pelukan air, dengan kacamata masker dan selang snorkel yang kini melekat rapat di wajah, siap menjadi pintu gerbang menuju dunia sunyi.
Oh iya, ingat kejadian kemarin? Setelah matahari tenggelam dan langit menumpahkan tinta hitam pekat di lembah kemarin, sang sopir akhirnya menelepon balik. Kami pun menjelaskan kronologi mobil yang mogok total. Tak lama, ia datang bersama menantunya, sosok sigap yang dengan telaten mengotak-atik mesin, mencari detak kehidupan di balik kap mobil yang mati. Sambil menunggu, sang sopir berdalih bahwa ia sedang menjalani pengobatan sehingga ponselnya tertinggal. Kami hanya mengiyakan, mengangguk sopan, dan berkata tidak masalah.
Hati kami membuncah syukur karena akhirnya bisa kembali ke penginapan tanpa kekurangan suatu apa pun. Padahal, sempat terlintas bayangan ngeri harus menginap di lembah itu. Kami sempat membayangkan harus berdesakan tidur di dalam mobil yang pengap, sambil saling menciumi aroma kentut satu sama lain. Wah! Sungguh sebuah skenario yang jauh dari kata ideal.
Karena malam itu baru menunjukkan pukul delapan, kami enggan menyia-nyiakan waktu dengan hanya terkapar di atas tempat tidur. Momen liburan adalah mata uang berharga, rugi rasanya jika hanya dihabiskan untuk leha-leha. Kami melangkah santai menuju alun-alun terdekat, menaiki odong-odong yang berputar dengan musik cerianya, lalu berlanjut berkeliling untuk mengobrak-abrik toko oleh-oleh di sekitar situ hingga puas. Kami kembali saat jam hampir menunjukkan pukul sebelas malam dengan menenteng kantong belanjaan yang penuh, sambil mengobrol renyah mengenai rencana petualangan esok hari.
BYURRR!!!
Tubuhku memecah permukaan, meluncur ke dalam keheningan biru. Aku membalikkan badan di bawah air, kulihat hamparan terumbu karang beraneka warna yang menyala-nyala. Berkilau tertimpa sorotan cahaya matahari yang menembus air, menciptakan efek visual magis. Bagai permata yang sengaja ditancapkan di dasar laut oleh tangan seorang seniman, anggun dan memesona. Ikan-ikan kecil berkerumun di sekitarnya, berenang tenang dalam ritme alam. Mereka seolah tak peduli dengan aktivitas kami yang lancang mengintip rumahnya dengan topeng berselang ini.
Kulihat teman-temanku berpencar, menjelajah sisi lain dari terumbu karang yang eksotis. Obi, sang guide muda yang memandu kami, berpesan agar kami tetap dalam jangkauan pandang. "Silakan melihat-lihat, asal jangan terlalu jauh dari kerumunan."
Aku memusatkan perhatian pada seekor ikan bersirip kuning dengan ukuran sedang, mungkin sebesar dua telapak tanganku. Ia meliuk di antara karang-karang dasar laut. Jika ia seorang manusia, mungkin ia adalah pribadi yang tengil. Lihat saja gaya renangnya yang menyamping dan berputar dengan gerakan yang menggulung, membuat pasir halus di dasar laut berhamburan seperti kabut yang tersapu arus.
Berikutnya, mataku tertuju pada ikan berwarna kebiruan dengan garis hijau artistik di badannya. Cantik sekali warnanya, pikirku takjub. Coraknya mengingatkanku pada warna Batu Marine yang pernah kulihat di ensiklopedia. Nama Marine juga seketika memanggil kenangan tentang teman sekolahku, Marina Mareta. Pipinya kembang kempis pelan saat ia berenang dengan anggun di bawah kakiku. Kuulurkan tangan, mencoba menyentuh keindahannya. Alamak! Ia langsung melesat menjauh dengan gesit. Sepertinya yang satu ini memang jual mahal. Aku pun menamainya 'Juma', singkatan dari Jual Mahal.
Setelah asyik berenang ke sana kemari, aku menyadari diriku sudah agak terlalu jauh dari pusat keramaian. Aku lalu berenang kembali mendekati perahu kami.
Obi menyuruh kami berkumpul di tengah untuk sesi dokumentasi. CEKREK! CEKREK! CEKREK!, gaya demi gaya, posisi demi posisi, kami abadikan agar tak sekadar menjadi kenangan di ingatan.
Setengah jam terbenam dalam dunia air, kami diminta kembali ke permukaan dan naik ke perahu. Kami lalu melaju pulang menuju pantai tempat perjalanan laut kami bermula.
Di tepi pantai, kami disambut hangat oleh asisten guide. Meja kayu panjang itu sudah dijejali berbagai hidangan laut yang menggoda selera. Sajian diatas meja dipenuhi kepiting saus yang merah merona, ikan bakar dengan aroma asap yang memikat, cumi bakar dan cumi tepung yang renyah, udang saus, kerang, hingga lobster yang menggugah.
"Jangan disisain. Orang yang tahu cara menghargai piring makanannya, adalah orang yang tahu cara menghargai setiap tetes keringat dari perjuangannya," kataku bijak sambil merangkul Elisa dan Darwin di sisi kanan dan kiriku.
Kalimat itu memancing binar semringah di mata mereka, lalu kami berlarian, berebut tempat duduk dengan antusias. Kami melahap hidangan itu dengan nafsu makan yang memuncak karena perut yang sudah tak bisa lagi diajak kompromi. Nasi berpiring-piring ludes tak bersisa, berpadu dengan sayuran pelengkap yang segar. Jus dan potongan buah pun habis disapu bersih.
Selesai makan, Darwin bertanya kegiatan apa lagi yang akan kami lakukan. Namun, tidak ada yang menjawab. Semua sudah terlalu kenyang, terkapar dalam kenikmatan kuliner.
Oh, betapa nikmatnya hidup ini.
*****
Sore hari, selepas maghrib, kami sudah berhimpun di taman belakang penginapan.