ORANG YANG DATANG

Aga Lesmana
Chapter #23

BAB 23: Api yang Menyala dan Ledakan Keberanian

Aku belum melanjutkan cerita mengenai keluargaku, sekaranglah waktunya.

Sejak terakhir aku pindah sekolah di bangku kelas empat, aku tidak pernah berpindah kota lagi. Aku menetap di bawah atap rumah Kakek dan Nenek. Adapun mengenai ritme kepindahan sekolah tiap tahun selama masa kanak-kanak dahulu adalah karena Ibu yang selalu bergerak mengejar jejak Bapak. Langkah kaki Ibu menjadi sebuah ironi dan rahasia kelam yang baru berhasil kukumpulkan serpihannya saat aku mulai beranjak dewasa.

Di mana pun Bapak dan istri keduanya membangun hidup, Ibu berniat untuk selalu memantaunya dari jarak dekat. Ibuku masih menyimpan bara kesal dan bertekad kuat untuk memberi pelajaran setimpal pada orang yang telah lancang merebut suaminya itu. Namun untunglah, ledakan keributan hanya terjadi sekali saja waktu dulu, tepatnya di kontrakan krem Bapak di sudut Jakarta.

Berangsur-angsur, sang waktu akhirnya membuka tirai kebenarannya yang sunyi. Di titik itulah aku dan Kakak akhirnya mengetahui alasan mengapa Bapak tega meninggalkan kami dan menelantarkan kebahagiaan keluarganya. Ternyata Nenek dari pihak Bapaklah yang menjadi sutradara ulung di balik semua skenario runtuhnya rumah tangga ini.

Sejak awal, Nenek ternyata tidak pernah merestui keputusan anak laki-lakinya menikahi Ibuku. Walaupun dengan berat hati ia sempat memberikan izin untuk kedua orang tuaku menikah, ternyata keputusan itu berakhir disesalinya. Nenek rupanya terikat janji kesepakatan lama bersama temannya yang sekarang sudah resmi menjadi besannya. Demikianlah cara Nenek merencanakan pertemuan tirai belakang antara Bapak dengan anak temannya, lalu hubungan gelap itu bergulir lancar hingga menghancurkan fondasi pernikahan Ibu dan Bapak. Hatiku sakit. Sungguh tidak masuk di akal. Sebentuk perjodohan yang konyol dan memaksa sekali.

Bukankah Nenek salah? Bukankah Bapak salah juga? Atau, justru aku yang terlampau naif menghadapi labirin kehidupan yang sebegitu telak mematahkan hati ini?

Sebuah nelangsa tiada tara yang harus didekap sendirian oleh Ibu. Beliau harus berdiri di sebuah ruang di mana dirinya terluka dan dipaksa menyeka seluruh deraian perih yang tumpah, sekaligus menyaksikan air mata itu menodai lantai takdirnya secara paksa.

Namun, berangkat dari kubangan luka yang sedalam jurang itu, luasnya samudra hati beliau adalah alasan utama mengapa aku dan Kakak tetap bisa tumbuh tegak tanpa harus menghirup aroma kepahitan yang disimpannya rapat-rapat. Banyak hal menyakitkan yang mungkin terkunci rapat di pangkal lidahnya. Ia harus berupaya keras merelakan reruntuhan kehidupannya yang hancur, memaafkan segala yang telah terjadi. Sungguh, aku tidak akan pernah sanggup memahami bagaimana luasnya bentangan hati perempuan luar biasa yang melahirkanku itu.

Peluk eratku untuk selalu mendoakan Ibu.

Selama bersekolah, aku dan Kakak selalu mendapatkan beasiswa prestasi serta bantuan keringanan uang sekolah. Pekerjaan Ibu tidak menghasilkan uang yang banyak, jadi kami hidup sangat sederhana dan masih tetap memegang prinsip tidak boleh boros.

Karena kompas keuangan kami yang sering kali goyah, terkadang Ibu terpaksa menepis gengsi untuk meminjam uang dari kakak-kakaknya. Masih belum cukup sampai di situ, keperluan tambahan untuk uang buku dan tetek bengek sekolah lainnya mau tidak mau harus Ibu usahakan dengan meminjam kepada kenalan-kenalannya juga. Oh, dadaku selalu terasa sesak dan ingin menangis hebat setiap kali ingatan itu melintas kembali! Pedihnya, janji pelunasan utang itu kerap kali harus ditunda terus-menerus, memaksa Ibu menurunkan harga dirinya hingga terinjak dan hampir tak berbentuk.

Belum cukup juga hantaman penderitaan sampai di situ. Keluarga kecil kami kemudian harus menghadapi konsekuensi tambahan dengan menjadi bahan olok-olok yang murah oleh keluarga kakak Ibu. Aku dan Kakak marah besar menyaksikannya, begitu pula dengan Ibu. Mereka tidak pernah mau mengerti keadaan kami dan malah sengaja membuat suasana semakin keruh sekaligus berisik. Akhirnya, kami memutuskan pindah mencari petak kontrakan baru. Walau jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah Kakek, setidaknya kami tidak perlu mendengar lagi sindiran dan lontaran kalimat jahat mereka. Kejadian dingin itu berlangsung lama sekali. Bertahun-tahun kami hidup dalam perang dingin yang tidak akur, bahkan kami memilih untuk tidak saling menyapa jika terpaksa bertatap muka di rumah Kakek untuk acara tertentu.

Di kedalaman dada kami bertiga, ada sebentuk kecewa baru yang tumbuh dan mengakar kuat. Ia berdenyut perih dari kemarahan akibat penolakan, lalu melebur bersama warisan trauma pengkhianatan yang pernah meruntuhkan atap perlindungan kami. Di titik itu, kami dicengkeram, diremas, dan dipaksa pecah bak puing-puing yang luluh lantak.

Tidak! Tidak boleh! Alih-alih membiarkan puing-puing itu mengubur waras kami hidup-hidup, kami memilih jalan yang sunyi namun tangguh, kami bertahan.

Di meja makan yang berlauk seadanya, jemari kami saling menggenggam erat, menolak untuk menyerah pada keadaan. Ada upaya untuk saling menopang dengan cara yang agak kaku, meskipun tahu dunia di luar sana teramat dingin dan luka ini mungkin tak akan pernah sembuh total. Tapi setidaknya, selama masih bisa duduk bertiga dan berbagi getirnya hidup, segalanya akan baik-baik saja. Kami masih akan mengulur waktu, bertahan sedikit lebih lama lagi, sampai takdir bosan membuat kecewa dan akhirnya mengizinkan untuk menang. Lagipula, tiga jiwa ini sudah terbiasa bersahabat dengan rasa kalah, jadi meminta sedikit lagi ruang untuk bertahan tidak akan membuat kami mati.

Di waktu-waktu kemudian, aku menemukan perisaiku terbentuk dari rentetan kesusahan. Menjadikanku pribadi yang lumayan tahan banting, menolak manja, dan mampu untuk melindungi diri sendiri. Aku tahu betul berapa beratnya beban dunia, aku belajar banyak dari ketangguhan Ibuku. Aku sedang dalam proses panjang untuk membahagiakannya, membahagiakan Kakak, juga diriku sendiri. Kenyataan pahit memang tidak akan bisa diubah, dan karena itu yang perlu dilakukan adalah tahu cara menyikapinya dengan kepala tegak. Aku benar, kan?

Hanya saja, aku yang masih serupa lembaran kertas yang belum selesai ditulis ini, tetap membutuhkan percikan lain. Mungkin sesuatu yang jamak orang namakan sebagai bahagia.

Kutemukan percikan bahagiaku di luar lingkaran keluarga. Lentera itu menyala bersama teman sekolah, rekan kerja, dan teman sepermainan yang awalnya asing di luar sana. Aku beberapa kali pernah menceburkan diri ke dalam kelompok seni, kelompok membaca, dan kelompok diskusi. Semuanya terajut halus serupa benang-benang takdir antarpribadi manusia.

Namun, kudapati benang-benang itu justru bergerak memutar bagai roda yang terus menggulung. Putaran itu memaksa langkahku terus berjalan bersamanya, sekalipun aku kerap membawa anggapan sedang melihat sebuah akhir atau titik cahaya untuk berhenti.

Itukah realita kebahagiaan? Bahwa ia sejatinya tidak akan pernah menemui batas akhirnya?

 

*****

 

Aku duduk mengaduk kopi yang masih mengepulkan asap. Cangkir keramiknya berdenting pelan setiap kali beradu dengan sendok kecil yang kuputar sedari tadi.

Tadi pagi aku bangun pagi sekali dan tidak bisa tidur lagi. Mataku terbuka menatap langit-langit kamar dalam kondisi pikiran yang benar-benar kosong. Daripada melamun dan membuang waktu sia-sia, kuputuskan untuk keluar mencari kafein sambil bersantai.

Lengangnya pagi ini membuatku bebas memilih tempat untuk singgah. Kebetulan, aku sedang ingin mampir ke suatu tempat yang belum pernah kukunjungi demi mencari suasana baru. Sambil memacu motor pelan-pelan, mataku melirik kanan-kiri melihat tempat ngopi yang beraneka ragam bentuk dan ukurannya. Sampai di depan sebuah gang kecil, pandanganku tertuju pada sebuah kedai yang benar-benar belum ada pengunjungnya. Kelihatannya itu kedai yang menjual jenis kopi saring, dan firasatku berkata kalau rasanya bakal cocok di lidah.

Begitu melangkah masuk, udara hangat langsung menyambut kulit. Sentuhan itu rasanya nyaman seperti selimut tebal. Setelah memesan kopi pada pegawai yang sedang berjaga, aku langsung mengambil posisi di sudut paling belakang. Seru juga bisa menikmati kedai kopi yang sepi begini, jarang-jarang terjadi. Aku lagi beruntung, pikirku.

Namun, pesanan yang kunanti tidak kunjung datang. Karena bingung harus melakukan apa di tengah ruang sepi ini, kelopak mataku mulai dirayapi rasa kantuk. Sungguh aneh rasanya, padahal alasan utamaku keluar rumah sepagi ini adalah karena tidak bisa tidur lagi, dan aku tidak ingin membiarkan pikiran terus mengawang dalam kekosongan.

Demi mengusir kantuk dan jenuh yang mulai melanda, aku memutuskan untuk mengamati seluruh isi ruangan. Pandanganku tertuju pada televisi model lama di atas rak yang layarnya sudah buram nyaris tidak berwarna. Entah untuk apa benda itu masih dinyalakan, karena sebal melihat layarnya yang mengganggu mata, kuputuskan untuk memalingkan muka saja. Pandanganku lalu beralih menyusuri setiap sudut kedai. Barang-barang di sini terlihat sudah berumur semua. Kelihatannya, sang pemilik sengaja mempertahankan interior klasik sedemikian rupa agar suasananya cocok dengan kehangatan yang terasa.

Sekitar sepuluh menit kemudian, kopi pesananku datang. Pegawai itu meminta maaf karena telah membuatku lama menunggu, lalu menjelaskan kalau dia baru saja membuka dan membersihkan tempat ini tepat sebelum aku datang. Akibatnya, biang kopinya belum siap dan perlu waktu untuk dibuat. Dia juga lanjut berkata kalau sebenarnya hari ini jadwal masuk kerjanya adalah malam hari. Namun, karena pegawai shift pagi absen mendadak, pemilik kedai meminta tolong kepadanya untuk menggantikan. Kepalaku hanya mengangguk-angguk tanda mengerti, lalu berkata tidak apa-apa, toh aku juga sedang santai dan tidak diburu waktu.

Setelah itu ia kembali ke balik meja kasir, lalu sibuk dengan urusan entah apa. Gerakannya terlihat seperti sedang menghitung tumpukan bon secara manual. Kalkulatornya mengeluarkan bunyi tidak beraturan, suaranya mengganggu sekali ketika beradu dengan meja di bawahnya..

"Udah lama kerja di sini, Bang?” tanyaku sambil meletakkan cangkir kopi.

Lihat selengkapnya