ORANG YANG DATANG

Aga Lesmana
Chapter #24

BAB 24: Seduh Kenangan, Sajikan Harapan

Keesokan harinya, selembar surat pengunduran diri sudah mendarat di meja manajemen. Urusanku selesai dengan tempat yang tidak memiliki standar kepemimpinan dan perlindungan yang benar terhadap karyawannya.

Setelah itu aku sempat bekerja di beberapa tempat lagi sebagai asisten sambil mengembara dan mencoba berbagai bidang untuk pengembangan diri. Aku pernah mencecap industri food and beverage, menyelami dunia seni, hingga menjadi pekerja lepas di jasa fotografi. Jujur saja, aku bukanlah seorang prodigy atau orang yang paling jenius di bidang-bidang tersebut. Namun, ada satu hal yang selalu kubawa ke mana pun aku pergi, yaitu aku selalu mencurahkan seluruh hatiku ke dalam pekerjaan. Tekadku untuk mandiri dan menghasilkan uang dari keringat sendiri selalu membara di usia mudaku ini.

Perjalanan yang berpindah-pindah itu menumbuhkan kecintaanku pada manusia. Aku sangat senang bertemu dengan banyak orang, bertukar isi kepala, membagikan pengalaman, dan mendengarkan cerita hidup mereka. Dari sanalah aku menyadari satu hal. Bahwa diriku yang berdiri tegak hari ini adalah sebuah bentukan baru, sebuah mahakarya yang ditempa oleh seluruh perjalanan hidup susahku di masa lalu.

Masa-masa sulit tidak pernah datang dengan sia-sia. Mereka datang sebagai mentor yang membekaliku dengan ketangguhan emosional dan prinsip yang kukuh. Tanpa air mata, tekanan, dan kegagalan di masa lalu, mungkin aku tidak akan pernah bertransformasi menjadi sosok yang semenakjubkan sekarang. Betul, aku sengaja memilih kata "menakjubkan", karena ingin selalu memelihara pikiran positif terhadap takdir hidupku.

Kejadian di kantor pertama itu bukanlah sebuah kegagalan, melainkan sebuah ujian kelulusan. Di sana aku membuktikan pada diriku sendiri bahwa aku telah berubah. Aku bukan lagi orang yang bisa diintimidasi secara emosional.

Kini, di usia dua puluhan ini, sambil merintis usaha mandiriku, aku melangkah dengan kepala tegak. Aku tahu apa nilai diriku, aku tahu batasanku, dan aku tidak akan pernah lagi membiarkan siapa pun menginjak prinsip kebenaran yang kupegang teguh. Aku menuangkan kopi dari teko ke teko stainless lainnya. Uapnya mengepul, menebarkan wangi yang menggoda. Kurasakan pecahan hidup dari dalam diriku menyatu memeluk uapnya. Kupersembahkan untuk dunia dan seisinya.

Ya, inilah usahaku. Aku menjadi penyeduh kopi.

Menyaringnya dan menyajikan kisah bagi tiap-tiap hati.

 

******

 

Dibalik usahaku ini, ada hati yang selalu pulih. Ada getir kisah yang menciptakan melodi, baik itu kesepian, kebersamaan, atau rasa yang tidak berbentuk untuk diceritakan. Kusambut semua rasa yang hadir. Sebab, sejatinya manusia tidak akan abadi, maka tidak bisalah kita untuk kukuh hanya pada isi kepala sendiri.

Aku banyak menerima masukan baik dan buruk dari semua orang yang mau membagi pikirannya. Sungguh, aku sangat berterima kasih atas itu. Mereka orang-orang yang hadir tanpa ku minta, memberikan uluran saat diriku lemah, dan menopangku untuk kuat berjalan kala kebingungan disaat kompasku hilang.

Tak terasa aku memasuki bulan kelima usahaku ini. Kini, mulai banyak orang berdatangan yang menjadi pelanggan tetapku. Seperjalanan hari demi hari, mengenal banyak manusia adalah caraku untuk mensyukuri lebih dari yang ada di dalam kepala kecilku ini. Aku pun sudah punya asisten. Ia kuanggap teman karena aku ingin lebih menjadikannya teman berbagi, bukan kenalan yang punya jarak seperti bos dan asistennya.

Temanku bekerja dan sekolah dulu juga sering mampir. Kami masih sering berdiskusi mengenai hidup, juga keseharian kami. Aku tidak memutuskan hubungan dengan siapapun. Semoga selalu begitu.

"Satu kopsu, satu teh tarik, satu ropang keju" kata Nando sambil meletakkan bakinya di bawah meja oven.

Aku mencatat di kertas nota. "Bikin ropang aja, Do. Kopsu sama teh tarik aman," kataku sambil mengambil dua piring tatakan, dua cangkir keramik dan kemudian mengelapnya.

Tanganku bergerak sesuai irama, melantunkan harmoni kehidupanku.

 

*****

 

Darwin datang membonceng Vika.

Aku memang pernah mengajak Vika, teman sekolah menengahku dulu, untuk nongkrong bareng Darwin. Awalnya aku hanya basa-basi saat kami tidak sengaja bertemu di sebuah gerai makanan cepat saji. Waktu itu dia mengataiku sombong, jadi langsung saja kutantang, "Malam minggu di Kopi Nepi ya, jam tujuh! Aku ajak teman satu." Tidak kusangka, Vika benar-benar datang dan bahkan membawa Desi bersamanya.

Di usia kami sekarang, rasanya tidak sulit untuk menemukan topik obrolan. Apa saja kami bicarakan dan semuanya mengalir begitu cepat. Aku sendiri bertindak sebagai penghubung antara Darwin, Vika, dan Desi. Ketika mereka merencanakan pertemuan berikutnya, aku hanya mengiyakan saja. Sampai akhirnya, Darwin benar-benar naksir Vika. Ia suka sekali melihat cara Vika bercerita yang selalu menggebu-gebu saat membahas hal apa pun.

"Woi! Bengong aja nih, Capt!" Darwin berseru sambil menepuk tangan di depan mataku.

Lihat selengkapnya