ORANG YANG DATANG

Aga Lesmana
Chapter #25

BAB 25: Pernyataan Sikap: Pantang Menyerah

Setahun sudah kedai kopiku mengudara. Aku memang belum membuka cabang atau menambah kios di sebelah, tetapi sudah banyak perubahan yang terasa. Kini Nando ditemani oleh Dea dan Arvin. Mereka berdua masuk ke dalam tim pada bulan kesepuluh, setelah pertimbangan dan perhitunganku yang cukup panjang.

Kami juga menambah lima meja di luar dan tiga meja di dalam, membuat suasana kedai jadi lebih sesak dari sebelumnya. Ditambah lagi jika aku sedang butuh support system tambahan dan mengajak Restu, Satria, Tama, serta Ringgo untuk membantu, kedai ini akan jadi jauh lebih berdesakan. Namun, dengan hadirnya mereka, hari-hari terasa jauh lebih ringan. Sungguh.

Seminggu dua kali, Heri, Sang Penyubur, selalu memesan banyak menu. Katanya sih untuk calon mertua dan keluarga besar pacarnya. Untung saja Heri membawa mobil. Kalau tidak, di jalan ia bisa saja dikira habis merampok warung makan.

Belakangan, Heri baru membawa pacarnya mampir ke kedai. Lucunya, pacarnya sendiri yang bilang kalau yang paling banyak makan ya tetap Heri. Aku pun tidak heran. Heri cuma punya dua hobi, yaitu hobi makan dan hobi boker.

Bhaakkk!

Satu slop rokok filter tiba-tiba mendarat di meja tempat aku dan Heri sedang duduk. Sendok di atas piring sampai melompat dan jatuh ke lantai akibat guncangannya.

Kami langsung menoleh pada pelakunya. Deri.

"Monyet! Nyantai kali!" kata Heri sambil melotot.

"Nitip mulu ah, jajanin jarang. Kan, setan!" Deri bersungut-sungut sambil langsung menyomot cireng di atas meja. Mulutnya langsung menggelembung penuh.

"Tuh, buka! Ambil satu. Lagian duitnya kan diganti, Nyet!" Heri menggeser slop rokoknya agar bisa diambil oleh Deri.

"Dua yeee..." kata Deri sambil mengacungkan dua jari. "Jangan pelit dikau wahai saudagar kaya," tambahnya sambil merobek plastik pembungkus slop tersebut.

"Iye, Nyet, ambil," balas Heri yang cuma bisa tertawa kesenangan karena dipanggil saudagar.

Oh ya, sejak momen camping waktu zaman sekolah dulu, Heri memang mulai memanggil Deri dengan sebutan Monyet. The never ending story-lah penyebabnya. Sedangkan Deri memanggil Heri dengan sebutan "Saudagar Kaya" sejak teman kami itu mulai naik level, berhasil membeli mobil dan rumah dari hasil kerja kerasnya sendiri.

Kalau mereka sudah datang begini, aku selalu dibuat rindu dengan masa-masa sekolah dulu. Apalagi cerita-cerita camping kami yang selalu seru dan tidak pernah lekang oleh waktu.

"Mareta kagak pernah nongol perasaan, woi! Ada yang tau nggak dimana tuh orang?" tanyaku pada kedua temanku. Aku mendadak penasaran karena cuma Mareta yang jarang terdengar kabarnya setelah kami lulus.

"Oh! Kemarin sempat ketemu tuh anak pas di supermarket. Katanya lagi balik liburan," jawab Deri, lalu mencomot cireng kedua.

"Emang tuh orang nggak tinggal di sini lagi?" Heri kali ini ikut bertanya.

"Kagak. Udah lama pindah ke Jogja katanya, sambil kuliah," Deri melanjutkan, lalu beranjak menuju kasir untuk memesan minuman.

"Buset, pergi nggak bilang-bilang, hilang nggak ada kabar. Misterius tuh orang. Entar aneh-aneh lagi," tambah Heri.

"Aneh-aneh gimana woi?"

"Yaa... bisa aja tuh anak malah jadi admin judol!" Heri berkata asal.

"Pe-ak!" Aku langsung melempar Heri dengan serpihan cireng dari piring yang sudah ludes.

Begitulah teman-temanku ini. Tanpa kehadiran mereka, mungkin hari-hari melelahkan dalam mengurus pekerjaan ini akan terasa sangat membosankan.


*****

 

Akhir-akhir ini aku banyak menyelingi waktu dengan kembali pada hobi lamaku, yaitu membaca buku. Kubaca kembali buku-buku lama yang kebanyakan halamannya sudah menguning karena teronggok di sudut lemari.

Lihat selengkapnya