ORANG YANG DATANG

Aga Lesmana
Chapter #26

Bab 26: Komitmen Penghangat Jiwa

Hari libur kedai adalah waktu bagi semesta untuk menagih janji setelah memeras keringat di malam takbiran.

Tiga hari kedai tutup. Sebuah jeda yang terasa sangat kontras dengan hiruk-pikuk semalam. Mengingat kembali malam itu, dadaku masih bergetar. Kedai benar-benar membeludak. Ketersediaan kursi tak lagi cukup, bahkan ada pelanggan yang harus rela duduk melipat kaki di emperan jalanan yang berdebu.

Satria, Restu, Ringgo, Tama, dan Darwin datang bak penyelamat tanpa perlu kupanggil. Tanpa komando, mereka bergerak seirama, saling menjawil, berebut mencuci cangkir, hingga melayani pelanggan dengan membawa keranjang roti yang dijinjing berkeliling. Mereka menawarkan pelengkap berdiskusi sambil menemani orang-orang menikmati suasana.

Melihat mereka, sering kali aku terjebak dalam melankoli yang indah. Di tengah dunia yang sering kali penuh pamrih, aku bersyukur sampai ke tulang rusuk atas kehadiran manusia-manusia tulus ini. Mereka adalah bukti bahwa dunia tidak pernah kekurangan alasan untuk tetap terasa hangat.

Maka, untuk menyambut jeda ini, kuputuskan untuk membelah kesunyian kota dengan sepeda motorku. Langit hari ini tampak teduh, diselimuti awan yang menggantung rendah, dengan angin sepoi-sepoi yang menyusup ke balik jaket, membawa larut aroma tanah basah dan sisa perayaan lebaran. Jalanan terasa lengang, hanya menyisakan deru mesin motorku yang beradu dengan sepoi angin. Pergi ke taman saja, pikirku.

Sebelum menepi ke taman, kusempatkan singgah di minimarket. Kubeli minuman kaleng dan roti berselai mentega gula. Tak butuh waktu lama, aku sudah duduk di tepian kolam air mancur taman yang mulai berlumut. Roti itu habis dalam hitungan detik. Kurang lagi, rutukku dalam hati, harusnya tadi beli dua.

"Mau, Bang?"

Suara itu membuyarkan lamunanku. Seorang anak penjual telur gulung berdiri di sana, membawa keranjang kotak dengan gelas-gelas plastik berisi telur gulung yang masih hangat. Aku menatapnya sejenak untuk mempertimbangkan, lalu memutuskan membeli. Anggap saja ini sedikit dorongan semangat untuknya yang tetap tangguh mencari nafkah di hari libur.

"Masih sekolah ya, Bang?" tanyaku setelah menyerahkan selembaran uang.

"Iya. Mumpung lagi libur, disuruh bantuin Ibu," jawabnya polos sembari memberikan kembalian.

"Biasanya emang jualan di sekitar taman sini, ya?" lanjutku, tanganku terulur meraih botol saos, membiarkan cairan merah kental itu mengalir perlahan ke dalam gelas plastikku.

"Enggak tentu sih, Bang. Kadang di sini, kadang di alun-alun. Tapi kebanyakan di sini. Tadi sempat ke alun-alun, tapi masih sepi banget," jawabnya sambil bersandar santai di pagar kolam.

"Ibu di mana? Bikin telurnya di rumah?" tanyaku lagi, penasaran dengan rutinitasnya.

"Itu disana, Bang." dia menunjuk gerobak putih di kejauhan dengan tulisan 'Gorengan' besar berwarna kuning mencolok.

"Wah, ada gorengan juga. Boleh deh nyoba. Yuk, anterin!" Aku beranjak, menenteng kantong minimarketku, mengikuti langkah sang penjual telur gulung menuju gerobak itu.

"Berapa bersaudara emangnya, Abang?" basa-basiku sembari berjalan beriringan.

“Tiga bersaudara. Aku paling kecil. Ini usaha kakak yang paling gede, tapi Ibu yang lebih banyak mengurus di lapak," jawabnya dengan nada yang entah mengapa terdengar sangat tabah untuk anak seusianya.

Tiba di depan gerobak, aku menyapa Ibu penjual yang sibuk meniriskan gorengan pisang. Aromanya menguar, gurih dan menggoda. Di balik kaca gerobak, berjajar aneka gorengan yang tertata rapi.

"Abangnya mau beli gorengan, Bu," kata anaknya.

"Boleh, Bang. Dipilih aja. Ini kantong sama capitannya," ujar Ibu itu ramah, menyerahkan jepitan bergerigi dan sebuah kantong kertas.

Aku mulai memilih, menghitung dalam hati. Di sampingku, seorang laki-laki tengah mencelupkan adonan ke dalam minyak panas. Desis minyak yang bertemu adonan menciptakan kepulan asap dan buih yang menari-nari di udara, merayakan kerja keras yang jujur.

"COKI!" refleks aku berteriak.

"LHA, ARGA!"

Coki menoleh, napasnya sedikit tertahan, tangannya yang memegang capit berhenti sejenak. Ibunya yang menangkap kilatan pengenalan di mata kami langsung mengambil alih tugas menggoreng, mengisyaratkan Coki untuk menepi. Obrolan kalian lebih penting dari sekadar gorengan, seolah itulah arti tatapan hangat Ibunya.

"Duduk dulu sini," ajak Coki, menyodorkan kursi plastik di samping meja bahan-bahan.

Aku duduk, memperhatikan sekeliling. "Punya sendiri ini, Ki?

"Iya, baru dua bulanan. Daripada bengong di rumah," jawabnya sambil menyodorkan air mineral gelas.

Adik bungsu Coki yang penjual telur gulung tadi pamit untuk berkeliling lagi. Aku menatap punggung kecilnya yang perlahan menjauh. Dunia ini memang sempit, jalannya berliku, tetapi selalu mempertemukan manusia-manusia yang sedang berjuang di titik yang sama.

"Emang nggak di warung kopi dulu lagi, Ki?" tanyaku memecah hening.

"Udah berhenti, Ga. Sepi sekarang," jawab Coki lirih.

Dia meraih kertas bekas fotokopian, lalu mulai melipatnya menjadi kantong dengan jemari yang cekatan. Tanpa sadar, aku pun ikut mengambil selembar kertas di meja itu. Jemariku bergerak otomatis, meliuk lincah mengikuti pola lipatan Coki.

"Lho, kok ngerti?" tanya Coki heran setelah melihat hasil lipatanku yang langsung rapi tanpa perlu diajari.

Aku nyengir kecut. "Waktu kecil aku sering bantu Ibu melipat kertas dari tukang gorengan juga. Lumayan buat nyambung hidup."

Di sanalah, di bawah langit sore yang mulai meredup keemasan, aku membuka ruang bawah tanah di kepalaku. Di depan kepulan asap minyak gerobak, aku menceritakan padanya kisah masa kecilku. Sebuah cerita yang selama ini terkubur dalam-dalam, di mana hanya beberapa teman selama aku dewasa yang mengetahuinya.

Rahasia masa lalu itu akhirnya terurai kembali. Semua disaksikan oleh lembar-lembar kertas kantong gorengan yang dulu pernah menjadi saksi bisu perjuangan berdarah-darah keluarga kami.

 

*****

 

Pertemuanku dengan Coki di hari Lebaran itu bukan cuma sekadar obrolan kosong. Itu adalah cara semesta yang tidak terduga sekaligus jenius untuk menampar kesadaranku.

Coki hadir bukan sebagai figuran di dalam hidupku. Ia adalah korek api yang dilemparkan tepat ke dalam gudang bensin kenangan masa kecilku. Kehadirannya memantik kembali Arga kecil yang selama ini bersembunyi di balik tumpukan kertas bekas, anak lelaki yang dulu harus melipat lembar demi lembar kertas hanya untuk menyambung hidup. Pertemuan ini juga membangunkan memori tentang bocah yang jemarinya belepotan minyak saat membantu Ibu membungkus kerupuk kantongan. Sesosok bocah yang dipaksa dewasa sebelum waktunya oleh keadaan.

Dari obrolan panjang di samping gerobak itu, aku bisa merasakan getir hidupnya. Namun, tumbuh dari keluarga yang serba kekurangan tidak sedikit pun membuatnya pasrah pada keadaan. Sejatinya, Coki adalah cermin retak yang merefleksikan setiap luka lamaku. Kami adalah dua orang asing yang masa lalunya pernah dipersatukan oleh aroma kemiskinan yang mencekik, namun kini dipertemukan kembali sebagai dua petarung yang menolak mati di tangan nasib. Kami menolak tunduk pada garis tangan yang ditulis seadanya oleh kemalangan.

Aku salah kalau mengira sedang belajar untuk menjadi kuat dari awal. Aku hanya sedang dibangunkan dari tidur yang panjang oleh Coki. Kami adalah dua manusia yang pernah dikunyah oleh mesin yang sama bernama penderitaan, lalu dimuntahkan kembali ke dunia sebagai jiwa-jiwa mandiri yang mengeras sebelum waktunya. Pertemuan ini mengunci sebuah ikatan emosional yang sakral. Ini adalah persahabatan yang tidak lahir dari kemewahan atau hura-hura, melainkan dari sisa air mata dan peluh masa lalu yang kini telah mengkristal menjadi baja.

"Kita ini orang menderita yang beruntung, Ga," bisiknya sore itu. "Kita nggak mati saat dunia nyoba mengubur kita hidup-hidup."

Kalimat itu menancap teramat dalam di dadaku. Kami adalah dua orang yang sama-sama tahu persis rasanya menelan ludah saat melihat orang lain bahagia. Namun kini, kami berdiri tegak bersama, menatap masa depan yang dulu sempat tampak sebagai lorong gelap yang tak memiliki ujung.

Pertemuan ini adalah cetak biru yang presisi dari takdir yang acak. Coki adalah pukulan telak yang meruntuhkan tembok penyangkalan yang kubangun bertahun-tahun di dalam kepala. Ia membuktikan bahwa sedalam apa pun luka masa kecil ditimbun, luka itu tidak pernah benar-benar hilang karena ia hanya menunggu waktu untuk meledak menjadi energi baru.

Lihat selengkapnya