ORANG YANG DATANG

Aga Lesmana
Chapter #27

Bab 27: Jejak yang Kembali Memanggil

Sore ini, Darwin datang ke kedai dengan raut wajah yang kusut masai. Sorot matanya layu, seolah seluruh beban dunia sedang menumpuk di sana dan perlahan lumer ke kedua pundaknya.

 Aku langsung menduga kuat bahwa ia sedang memiliki masalah besar dengan Vika. Biasanya, mereka selalu datang berdua, tertawa riang dan seakan memiliki dunia mereka sendiri. Namun hari ini, pemandangan itu terasa begitu ganjil karena Darwin datang seorang diri. Aku memang belum bertanya sepatah kata pun pada sahabatku itu, tetapi instingku mengatakan ada sesuatu yang sedang retak di antara mereka.

Ia memilih duduk di kursi yang biasa, sengaja membelakangiku. Melihat Darwin yang tampak begitu murung, Dea sampai menghampiriku dan bertanya ada apa gerangan dengannya. Tanpa menjawab, kuminta Dea untuk segera membuatkan segelas kopi hitam hangat. Aku tahu, kadang-kadang hanya kehangatan secangkir kopi yang mampu sedikit meredam gejolak resah yang sedang membakar hati seseorang.

Kuhampiri sahabatku itu, lalu kusodorkan kopi hangat ke hadapannya. Melalui tatapan mata tanpa suara, aku memintanya untuk segera meneguk kopi itu. Secangkir obat penghilang resah, bisikku dalam hati.

Sepuluh menit berlalu, aku tetap setia menungguinya tanpa berniat memecah kesunyian. Aku hanya diam di sampingnya, menatap matanya yang tampak begitu kalut dan kehilangan arah. Kusentuh lengannya perlahan, mencoba mengalirkan sedikit energi untuk menguatkannya. Biarkan dia tahu bahwa di tengah badai apa pun yang sedang menghantam hidupnya, ada seorang sahabat yang akan selalu berdiri tegak di sisinya.

Darwin lalu mulai membuka suara, mengajakku untuk pergi ke suatu tempat. Aku langsung mengiyakan tanpa banyak tanya. Segera kutitipkan operasional kedai pada Dea dan kawan-kawan, lalu menyambar kunci motor Darwin yang sejak tadi tergeletak diam di atas meja. Lebih baik aku yang mengemudi. Bisa cepat ketemu ajal kalau nekat dibonceng orang yang pikirannya sedang sekusut Darwin, pikirku dalam hati. Sebuah lelucon pahit yang sengaja kubuat sendiri untuk mencairkan ketegangan di kepalaku. Saat mesin motor mulai menyala dan menderu halus, aku menoleh ke belakang dan bertanya padanya kami mau ke mana.

"Arah pelabuhan," jawabnya dengan suara yang terdengar teramat lirih.

Saat berkendara menembus angin, sekeranjang tanya mulai muncul di kepalaku. Namun sudahlah, kuputuskan untuk melaju dulu, membelah jalanan sore yang tenang dalam dekapan langit yang mulai berwarna abu-abu.

 

*****

 

Akhirnya aku tahu alasan mengapa Darwin tampak begitu hancur. Sahabatku itu baru saja putus dari Vika.

Mereka terlibat pertengkaran hebat, hingga akhirnya temanku itu memutuskan hubungan dan pamit pergi begitu saja. Berhari-hari tidak ada jawaban darinya saat dihubungi. Bahkan saat Darwin nekat mendatangi rumahnya untuk memberikan penjelasan, ibunya mengatakan bahwa Vika sudah berangkat ke Jakarta beberapa hari yang lalu. Ia memilih melarikan diri dari kota ini.

Bukan tanpa alasan tindakan senekat itu diambil. Darwin bercerita bahwa sebelum pergi, temanku itu sempat bertanya bagaimana perasaan Darwin yang sebenarnya kepada Elisa. Pertanyaan tersebut seketika membuat Darwin heran sekaligus terpojok. Vika lalu mengaku bahwa waktu merawat dan menjaga Darwin yang jatuh sakit dan tidak sadarkan diri karena demam tinggi, sahabatku itu sering kali mengigau. Di tengah tidurnya yang gelisah, nama Elisa berulang kali disebut dengan suara lirih, seolah sedang memohon agar gadis itu kembali.

Pada akhirnya, kesimpulan itu datang juga, bahwa hati Darwin sejak awal sebenarnya adalah milik Elisa, bukan untuk dirinya yang selama ini selalu setia di sisi. Temanku itu memilih mundur, merelakan Darwin untuk kembali mengejar masa lalu yang belum usai.

"Ternyata Elisa, Ga," gumam Darwin dengan suara yang nyaris tenggelam oleh deru angin pelabuhan.

Kami berdua duduk di atas dinding batu dermaga lama yang separuhnya sudah runtuh ditelan air laut. Dahulu, tempat ini adalah pusat aktivitas yang ramai, namun setelah dermaga baru selesai dibangun, tempat ini ditinggalkan begitu saja. Kini ia berdiri sepi, seolah menjadi penjaga abadi bagi kisah-kisah masa lalu yang perlahan tenggelam di dasar samudra.

"Jadi, Elisa orangnya?" tanyaku dengan nada suara rendah, mencoba menyamai kedalaman duka sahabatku.

Darwin hanya bergumam pelan sambil mengangguk kecil, membiarkan tatapannya kosong menembus riak air.

Seketika itu juga di dalam kepalaku, potongan kenangan masa lalu kami bertiga mendadak berputar kembali seperti gulungan film lama yang berdebu. Aku mengingat kembali saat aku sedang marah pada Elisa dan Darwin dengan sigap membantuku menyelesaikan urusan faktur, momen ketika Darwin menyuapi Elisa di kaki lima setelah pulang kerja, ingatan saat Elisa menyemprot Darwin dengan botol soda yang diguncang keras, tawa Darwin yang disuapi kue buatan Elisa di hari ulang tahun neneknya, bayangan ketika Darwin merengkuh hangat bahu Elisa saat kami snorkeling di laut, hingga Elisa yang dengan telaten menuangkan es buah untuk Darwin di tepi pantai.

Kini aku baru menyadari segalanya. Kemurungan Elisa yang mendalam setelah Darwin menjalin kasih dengan Vika, hingga keputusan mendadak Elisa untuk pindah ke kota lain bersama papanya. Semua itu adalah kepingan puzzle yang baru saja tersusun rapi di benakku. Aku terlalu buta untuk menyadarinya selama ini, bahwa di sela-sela kebersamaan kami, mereka sedang merajut kenangan dan aku adalah saksi yang merekamnya dalam ingatan.

Tidak ada ucapan apa pun lagi setelah itu. Aku hanya meletakkan telapak tanganku di atas bahu sahabatku, mencengkeramnya kuat untuk menyalurkan kekuatan yang tersisa.

Biarlah deburan laut pada dinding batu ini yang memecah sunyi. Kuharap kisah dua sahabatku tidak ikut tenggelam seperti dermaga yang perlahan dimakan oleh waktu ini.

 

*****

 

Aku terus memikirkan Elisa dan Darwin. Bagaimana mungkin aku bisa selambat itu menyadari getar perasaan yang tumbuh di antara mereka selama ini. Perlahan, pusaran pikiranku mulai beralih pada Mutia. Jujur, aku belum menaruh hati sepenuhnya pada gadis itu, meskipun saat ini kami sudah sepakat untuk berpacaran dan jemari kami sudah saling menggenggam erat.

Aku masih sering datang ke rumah Mutia, dekat dengan ibunya, dekat dengan keluarganya. Namun jauh di sudut hatiku yang paling sunyi, aku masih terus bertanya-tanya pada diri sendiri, apakah hubungan yang kujalani sekarang adalah sebuah cinta yang tulus, ataukah hanya sekadar pelarian dari rasa sepi.

Bagaimana jika nanti akhirnya hubunganku berakhir seperti Vika dan Darwin? Apakah sebaiknya aku harus berhenti saja dan memilih jujur pada Mutia? Aku sungguh tidak mengerti dengan diriku sendiri. Coki sendiri memilih untuk tidak mau ikut campur terlalu dalam. Ia tetap bersikap seperti biasa, tidak mengubah satu hal pun dalam dinamika pertemanan kami yang berharga.

Sementara aku dan Mutia, kami berpacaran dengan cara yang sewajarnya orang-orang di kota ini. Kami saling memberi kabar, meluangkan waktu untuk bertemu, menyusuri jalanan malam yang lengang, dan mencoba meromantisasi kisah kami di bawah rindangnya taman-taman kota.

Kami sudah sepakat sejak awal bahwa hubungan ini harus menjadi ruang yang saling mendewasakan. Jika kelak ada sesuatu yang berubah di hati salah satu dari kami, kami berjanji untuk segera berbicara jujur tanpa ada yang disembunyikan. Bagaimanapun, kami hanyalah manusia biasa yang sedang belajar mengeja rasa, bukan pemilik semesta yang bisa mengatur segalanya.

Dan aku, di sela-sela malam yang kian larut, aku tahu masih harus berjalan lebih jauh lagi. Aku harus meniti waktu untuk mencari makna sesungguhnya dari semua perasaan yang bergejolak hebat di dalam ragaku ini.

 

*****

 

Malam pukul delapan, aku duduk bersama Kakak dan Ibu di meja makan.

"Besok pesawat pagi jam tujuh," kataku pelan, sekadar mengulang kembali jadwal keberangkatan kami agar tidak ada yang terlewat.

"Kita harus pergi. Ini adalah bentuk rasa terima kasih untuk Tante Manda. Dia udah banyak bantuin Ibu, bantuin kita di waktu susah. Bahkan doa-doa dari Ibu belum cukup untuk membalas budinya," ucap Ibu dengan mata yang tampak sembab. Air matanya seolah tak pernah bisa berhenti mengalir sejak kabar duka itu datang.

Melihat pemandangan itu, aku dan Kakak segera beranjak dari kursi kami masing-masing. Kami mendekat lalu merangkul erat pundak Ibu yang bergetar hebat karena menahan kesedihan.

"Doain terus Tante Manda supaya dia bisa istirahat dengan tenang di surga, ya," ucap Ibu dengan suara lirih, mengakhiri pembicaraan malam itu di tengah kehangatan pelukan kami bertiga.

Lihat selengkapnya