ORANG YANG DATANG

Aga Lesmana
Chapter #28

Bab 28: Menikmati Panggung Semesta

Seperti biasanya, suasana kedai tetap ramai. Lantunan melodi mengalir dari petikan gitar seorang pelanggan, memancing meja-meja di sebelahnya untuk ikut bersenandung bersama. Beberapa pengunjung bahkan sudah sangat akrab dengan kami yang bekerja di sini. Rasa kekeluargaan begitu kental, menciptakan ikatan persaudaraan yang melekat erat seperti kehangatan kopi yang sedang dinikmati.

"Mas Argaku..." Mutia memanggil dengan nada manja seperti biasa.

Coki, Pandu, dan Alif yang duduk satu meja dengannya langsung memasang tampang jijik.

"Iya, Mut?" Aku menoleh sambil melemparkan senyum malu.

"Kok nggak gabung ke sini? Kita lagi ngebahas rencana kemping selanjutnya nih," lanjut Mutia.

Aku melangkah mendekati meja tempat anak-anak KOKOH berkumpul. "Emang fix-nya kapan?"

"Dua bulan lagi, Ga," kata Alif sambil tekun membaca selembar kertas yang penuh dengan coretan perencanaan klub.

"Yakin, nih, Gunung Gede?" tanyaku, melempar pandangan ke semua orang.

"Ho-oh," jawab Coki sambil mengangguk dengan tatapan yang sangat yakin.

"Si kembar sama Dina join nggak?" tanyaku lagi seraya mengambil kertas dari tangan Alif. Aku mencoba membaca coretan jadwal yang mereka susun dengan gerakan mata yang cepat.

Pandu menyenggol lengan Mutia. Aku menangkap basah momen ketika mereka berdua saling menganggukkan kepala.

"Dina mau diajak?" Mutia membuka suara, terdengar ragu dan kurang yakin.

"Lho, kok nanyanya begitu, Mut?" Aku mengerutkan kening, merasa ada yang aneh.

"Ya... nanti... ngerepotin kayak kemping terakhir lagi." Mutia menyindir secara halus sambil menatap Pandu, memintanya untuk ikut memberikan pembelaan.

"Ngelempar tas ke orang lain. Sama seenaknya ngilang-ngilang." Pandu menambahkan sambil memutar bola matanya, mengajak kami semua mengingat kembali kejadian menyebalkan tempo hari.

Sontak Alif menggebrak meja dengan pelan. "Heh! Nggak boleh begitu dong. Dia kan juga anggota KOKOH, masa nggak diajak? Lagian kemarin aku yang bawain tas Dina, kok malah kalian yang ngeluh?"

Kami semua terdiam melihat reaksinya. Pandu dan Mutia langsung memalingkan wajah ke arah yang berlawanan, tidak berani menyahut lagi.

Menyadari atmosfer yang mulai tidak enak, Coki buru-buru menimpali, "Alif benar kok. Kalian masa mikirnya gitu? Saling bantu itu wajar sebagai teman."

Aku dan Alif kompak mengangguk, menunjukkan raut wajah yang sepenuhnya setuju dengan ucapan Coki.

Kutatap cangkir kopiku di atas meja, memperhatikan bayangan wajah mereka yang terpantul di permukaan cairan hitam itu. "Pendakian adalah cara kita menumpuk tekad yang sama dan membangun persahabatan dengan kerjasama di sepanjang jalur."

Semua mata kini tertuju padaku. Aku sengaja menjeda kalimatku sejenak, mengedarkan pandangan pada mereka satu per satu sebelum melanjutkan perkataanku. "Kalo satu orang lelah, maka sahabatnya yang menjadi tumpuan. Kita bukan cuma mendaki gunung fisik, tapi juga mendaki ego untuk satu tujuan bersama-sama."

Tatapan mata mereka seketika luluh oleh ketulusan kalimat itu. Perlahan, ujung bibir mereka terangkat dan membentuk lengkungan senyum yang tulus.

Coki lantas mengacungkan kedua jempolnya ke arahku, dan kubalas dengan tersenyum saja.

 

*****

 

Sebuah pesan masuk di ponselku, membawa getaran yang seketika menyentuh relung hati. Jemariku bergerak membuka tautan undangan virtual yang dikirimkan oleh Darwin. Di sana, tertera baris kalimat yang indah.

"Kami yang berbahagia, Darwin dan Elisa, mengundang Saudara dan Saudari sekalian untuk menghadiri pesta pernikahan kami."

Sungguh, aku mendadak kelu dan kehilangan kata-kata. Dadaku berdesir hangat. Aku membaca bait demi bait undangan itu sekali lagi, menatap lekat setiap detailnya dengan rasa tidak percaya yang bercampur bahagia.

Ponsel di genggamanku kembali bergetar pelan, memunculkan sebaris pesan lanjutan dari Darwin.

"Dua hati yang menunggumu, Sahabat kami."

Pesan singkat itu dikirimkan bersama sebuah foto. Di layar ponselku, tampak mereka berdua sedang saling menempelkan pipi, tersenyum begitu semringah menatap kamera dengan binar yang memancarkan ketulusan. Menyaksikan kebahagiaan yang begitu murni itu, pertahananku runtuh. Setitik air mata keharuan perlahan merebak dan mengambang di sudut mataku, hangat dan penuh rasa syukur.

 

*****

 

Akhir-akhir ini aku sudah jarang mampir ke rumah Mutia. Kami lebih sering mengobrol di kedai yang selalu ramai ini. Mutia juga beberapa kali membawa teman-teman kantornya. Kebetulan sekarang ia punya klub traveling baru yang dibentuknya belum lama ini. Terinspirasi dari KOKOH, begitu katanya waktu aku tanya tempo hari.

Anggota klubnya malah lebih banyak, ada sepuluh orang. Mereka gabungan dari teman kerja dan teman dari media sosial. Setiap kali datang bersama Mutia, kedai langsung terasa lebih meriah.

Sementara itu, Coki sudah jarang mampir ke sini. Dia sedang sibuk mengurus usaha gorengannya yang sekarang sudah punya dua cabang baru. Semua cabang selalu ramai pembeli, jadi dia dan keluarganya harus saling bantu sampai malam sekali sebelum bisa pulang beristirahat.

"Mas Argaaa, aku izin mau ke luar kota bareng anak-anak, ya... besok start jam setengah tujuh pagi udah berangkat dari rumahnya Deo," kata Mutia yang tahu-tahu sudah berdiri di depanku sambil menyodorkan gelas kosongnya, minta diisi ulang air es oleh Arvin.

"Emangnya jadi, Mut?" Aku menoleh ke arah meja tempat teman-temannya berkumpul. "Serius bisa bangun sepagi itu? Kamu kan tukang molor," godaku sambil berpura-pura menguap lebar.

"Kebangun dong, Mas. Enak aja, aku rajin bangun pagi kok beberapa minggu ini. Kadang ikut tetangga senam pagi juga di lapangan deket rumah," jawabnya sambil memelototiku, tidak terima dibilang tukang molor.

Lihat selengkapnya