Alangkah indah momen itu. Peristiwa di gedung pernikahan tadi seolah menolak untuk pergi dari kepalaku, berputar ulang dengan presisi tepat di depan mataku. Senyum bahagia Darwin dan Elisa, keanggunan gaun bridesmaid Vika, tangis haru Desi, hingga tepukan tangan kami yang berusaha mengalirkan kekuatan, semuanya menjelma menjadi gulungan film yang diputar paksa di bioskop pikiranku.
Namun, kegembiraan itu memiliki masa kedaluwarsa yang cepat begitu aku menapakkan kaki kembali di rumah. Setelah pulang, keriuhan itu menguap begitu saja, menyisakan kesunyian yang teramat pekat. Aku merebahkan tubuhku yang lelah di atas kasur, dengan mata yang menatap nanar langit-langit kamar yang kusam.
Di dalam ruangan ini, kegelapan malam terasa begitu mengintimidasi. Tatapanku seolah menembus gelapnya keadaan, menembus atap rumah, lalu melesat jauh ke luar sana, menuju ketidakpastian semesta yang luas. Sunyi merayap pelan, lalu tiba-tiba menghujam diriku dengan rentetan pertanyaan yang membuat dada sesak. Sebuah bimbingan batin yang menuntut jawaban telak atas sesuatu yang selama ini kuhindari.
Apakah memang semua cinta sedekat jarak kedua bola mata? Apakah belum sempat kusadari sesuatu dalam hati yang penuh pinta?
Pertanyaan itu bergaung, memantul di dinding-dinding kamarku yang retak, beresonansi dengan memori masa kecilku yang penyendiri. Aku bimbang. Menyaksikan bagaimana kedua sahabat yang bertahun-tahun berada di dekatku mendadak berbelok arah menjadi sepasang suami istri, membuatku mempertanyakan ulang seluruh definisi tentang rasa yang kupahami.
Mereka berdua begitu dekat, sedekat jarak kedua bola mata saat memandang dunia. Mereka saling melihat setiap hari, berbagi tawa dan peluh di kantor yang sama. Namun mereka butuh waktu bertahun-tahun, ditambah satu drama percobaan gagal, hanya untuk membuat mereka sadar bahwa cinta sejatinya ada di pelupuk mata.
Mengapa cinta harus serumit itu? Kenapa ia gemar sekali bermain petak umpet di balik tirai persahabatan, atau bersembunyi di balik ketidaktahuan kita sendiri?
Hal itu membawaku pada sebuah perenungan yang jauh lebih dalam, bahwa cinta adalah sebuah hal yang sama sekali tidak punya kepastian. Ia tidak bisa dihitung dengan rumus matematika, tidak bisa diprediksi lewat ramalan cuaca, dan tidak peduli pada seberapa keras kita merencanakannya. Cinta bisa tumbuh subur di lahan yang paling gersang, namun ia juga bisa mati layu di dalam pot yang dirawat dengan penuh kehati-hatian. Ia adalah misteri terbesar yang dilemparkan semesta ke dalam dada manusia untuk membuat kita semua terlihat seperti orang bodoh yang meraba-raba dalam gelap.
Aku menoleh ke sudut kamar, tempat di mana bayangan masa kecilku yang kelam sering kali muncul. Anak kecil itu kini telah tumbuh dewasa, namun di dalam hatinya, masih ada sebuah ruang kosong yang dipenuhi oleh pinta yang tidak terdengar. Sebuah ruang yang diam-diam mendambakan kepastian di tengah dunia yang hancur berantakan.
Mungkinkah, selama aku sibuk bertahan hidup dari badai di dalam rumah, aku telah melewatkan sesuatu? Mungkinkah ada sebuah rasa yang sebenarnya sudah berdiri sangat dekat denganku, mengetuk pintu hatiku berulang kali, namun sengaja kuabaikan karena aku terlalu takut untuk terluka? Aku terbiasa melihat kehancuran hubungan di sekitarku, hingga tanpa sadar bersembunyi dari jawaban yang sudah hadir sejak lama.
Cinta yang tidak punya kepastian adalah hantu yang paling menakutkan bagi seorang penyintas sepertiku. Aku menyukai keteraturan, juga menyukai hal-hal yang bisa kuprediksi agar aku bisa bersiap menghadapi hantaman. Namun cinta menuntutku untuk selalu berserah pada kemungkinan bahwa aku bisa saja dihancurkan olehnya.
Lamunanku kembali membawa bayangan Vika. Jika cinta punya kepastian, maka pengorbanan Vika tidak akan pernah ada. Ia mengajarkanku bahwa kadang-kadang, kepastian dalam cinta justru terletak pada ketidakpastian itu sendiri, pada keberanian untuk melepaskan kendali dan membiarkan semesta menyusun potongan teka-tekinya.
Malam semakin larut, namun mataku enggan terpejam. Kebimbangan ini justru semakin menjadi-jadi, mengaduk-aduk isi kepalaku yang biasanya skeptis. Senyum kecutku muncul di kegelapan. Betapa ironisnya hidup ini. Di siang hari aku bisa tertawa lepas bersama teman dekat yang kutemui, namun di malam hari, di dalam kotak semen ini, aku hanyalah seorang pemuda yang rapuh, yang sedang gemetar ketakutan di hadapan konsep abstrak bernama asmara. Langit-langit kamarku tetap membisu, tidak memberikan jawaban apa pun atas segala pinta dan tanya yang kuhujamkan. Namun, di balik kebimbangan yang luar biasa ini, kusadari bahwa mungkin aku tidak perlu mencari kepastian itu sekarang. Mungkin, esensi dari mencintai adalah keberanian untuk melangkah ke dalam ketidakpastian itu sendiri, persis seperti yang dilakukan Darwin, Elisa, dan bahkan Vika.
Aku menghela napas panjang, membiarkan dadaku yang sesak perlahan melonggar. Pertanyaan-pertanyaan itu tidak akan hilang besok pagi, aku tahu itu. Namun setidaknya, malam ini kubiarkan hatiku mengakui satu hal, bahwa di balik ketegaran yang kupamerkan pada dunia, aku adalah manusia biasa yang juga rindu untuk ditemukan, dipahami, dan dicintai seutuhnya. Tanpa syarat, dan tanpa perlu takut akan hari esok yang runtuh.
*****
Mutia, adik teman dekatku, perempuan yang pernah menjadi cinta yang kugenggam erat di bawah langit senja, kini duduk bersamaku untuk menutup hari yang penuh dengan kejutan tidak terduga.
Aku duduk di depannya dengan raut wajah datar. Ia pun membalas tatapanku dengan ekspresi yang sama. Sore itu, kami berdua sepakat untuk menyudahi hubungan ini. Belum genap setahun kami melangkah bersama, namun perjalanan ini sudah harus menemui ujungnya.
Ia bercerita dengan jujur bahwa hatinya kini telah bimbang. Perasaannya tidak lagi utuh untuk memilihku sebagai penjaga hatinya. Mendengar kejujurannya yang tanpa pura-pura, aku justru merasa lega yang teramat sangat.
Teman satu klubnya yang bernama Jordi lah yang kini telah menyita hari-hari dan perhatiannya. Semuanya bermula dari intensitas pertemuan, lalu berlanjut pada kedekatan lewat obrolan-obrolan pribadi di antara mereka berdua. Dari sana, mereka menemukan arti baru dan mulai mempertimbangkan untuk menjalin hubungan yang lebih serius.
Aku memperbaiki posisi dudukku menjadi lebih tegak, tanpa rasa marah ataupun kesal yang berkecamuk di dada. Aku malah tersenyum tipis ke arahnya, lalu berkata bahwa sebenarnya sudah merasakan perubahan itu sejak lama. Kami sepakat bahwa kami bisa kembali menjadi teman baik, persis seperti dulu sebelum kami memutuskan untuk mengikat tali kasih.
Di penghujung pertemuan itu, kami bangkit dari kursi sembari berjanji untuk tetap baik-baik saja. Kami memilih untuk tidak menyimpan benci di dalam hati. Tidak ada secuil pun kekecewaan yang disisakan dari masa lalu yang pernah dipenuhi dengan untaian janji.
Kami pun berpisah, melangkah kembali dengan tujuan yang kini telah berlawanan arah.
*****
Malam pergantian tahun baru membuat semua orang sibuk keluar rumah, bersiap menyambut momentum dengan suka cita. Namun, aku memilih untuk meliburkan kedai hari ini. Aku ingin anak-anak yang bekerja bersamaku bisa berkumpul hangat dengan keluarga dan orang-orang yang mereka sayangi, merayakan pergantian tahun yang penuh kenangan.
Tidak ada satu orang pun yang tahu, dan tidak ada yang pernah menyangka akan terjadi hal memilukan pada malam yang seharusnya meriah itu.
Sepercik api tiba-tiba muncul akibat korsleting listrik di kios rental Playstation yang terletak tepat di sebelah kedai. Api yang awalnya kecil itu merambat dengan sangat cepat, merangkak dengan langkah lebar, lalu menelan semua hal yang berada dalam jangkauannya tanpa ampun.
Dalam sekejap, sederet kios di sana hangus tak tersisa, hanya meninggalkan dinding-dinding bata yang menghitam pekat. Atapnya pun runtuh pelan-pelan, menyisakan puing dan butir-butir abu hitam yang menumpuk pasrah di atas tanah.
Semuanya habis, terbakar bersama tumpukan kenangan yang pernah tercipta di dalamnya.
Kedai kopi yang selama ini kubangun dengan seluruh jiwa, tempat yang perlahan mulai membawa mimpiku mengudara, kini harus terkulai lemas dan melepaskan sayap-sayapnya untuk terpejam di dalam bayang lara.
*****
Tahun 2024, di atas ketinggian yang memisahkan bumi dan langit.