Mareta mengajakku melangkah masuk ke sebuah toko oleh-oleh khas Jogja. Begitu bilah pintu tokonya terbuka, semerbak aroma khas langsung menyergap indra penciumanku. Embusan sejuk dari penyejuk ruangan tidak hanya meredam gerah, tetapi juga menebarkan kenyamanan yang memikat, seolah menyambut setiap pengunjung dengan dekapan ramah.
Saat mataku mulai mengedarkan pandangan, ruangan luas itu tampak disekat oleh dinding pembatas setinggi orang dewasa. Tiap permukaan sekat berhiaskan berbagai lukisan indah yang apik. Kebanyakan menampilkan estetika alam yang asri serta pesona flora dan fauna yang memanjakan mata.
Mareta berjalan anggun ke arah kiri sementara aku melangkah ke arah kanan. Kami memisahkan diri sejenak untuk menjelajahi sudut-sudut toko yang memikat perhatian kami masing-masing.
Kuhampiri sekat pertama yang memajang beragam jenis camilan ringan khas Jogja. Mulai dari bakpia legendaris, yangko yang kenyal manis, gudeg kaleng yang praktis, hingga cokelat berkualitas bahan terbaik. Semua berjejer rapi menampilkan transformasi kuliner dari rasa klasik hingga modern. Aku mengetuk kotak kemasannya perlahan sambil mendengarkan irama kenangan yang seketika merasuki hati. Entah mengapa, ada keajaiban ganjil yang membuatku seolah bisa merasakan kelezatan makanan itu menari di atas lidah hanya dengan menyentuh permukaan kemasannya.
Setelah puas, aku beranjak ke sekat kedua. Sebuah etalase kaca menempel kukuh di dinding dengan pendar lampu kuning temaram yang menenangkan. Di dalamnya, barisan kanvas lukisan seukuran telapak tangan tertata sangat rapi. Guratan kuas di atasnya seolah hadir membasuh rasa lelah, membawa jiwa yang penat masuk ke dalam batas ketenangan yang digoreskan sang seniman. Langkahku terus maju sambil menikmati hasil kerajinan tangan para perajin kota ini. Diam-diam aku terpukau mengagumi kreativitas yang mewujudkan imajinasi menjadi benda nyata. Sungguh, sebuah letupan kekaguman muncul di kalbu, memercikkan rasa ingin tahu yang dalam untuk menyelami isi pikiran orang lain.
Pada etalase akrilik yang tertata rapi, sebuah gantungan kunci mencolok pandanganku. Terselip satu bentuk paling unik di antara yang lain, terbuat dari bahan polymer clay berwarna biru kehijauan. Permukaannya dilapisi pernis mengkilap hingga berkilau seperti batu zamrud, menampilkan rupa seekor ikan yang unik. Tanganku otomatis bergerak mengambilnya. Sambil menimang benda kecil itu, aku bergumam pelan menyapa Juma. Ingatanku langsung melesat kembali pada momen snorkeling masa lalu, saat aku menemui seekor ikan unik yang kunamai demikian. Ikan yang di detik ini kembali menghadirkan bayangan sosok berharga bernama Mareta.
Kubawa benda itu dengan perasaan riang. Tampaknya akan sangat manis untuk menghadiahi Mareta dengan gantungan kunci ini. Walau terkesan sederhana, perhatian kecil semacam ini menunjukkan dengan jelas bahwa ia menetap dalam ingatan pribadiku dengan cara yang istimewa.
Aku kembali mengedarkan pandangan ke sekeliling. Semakin melangkah ke dalam, hasil kerajinan yang kutemui terasa makin artistik dan bernilai seni tinggi. Ada wayang kulit berukuran mini yang dibingkai apik sebagai hiasan dinding, vas bunga tanah liat bermotif batik unik, miniatur andong dan candi yang digarap sangat detail, hingga produk kulit berkualitas tinggi dengan aroma yang khas.
Setelah puas memanjakan mata, aku melangkah kembali ke area depan. Pandanganku terarah pada Mareta yang sedang menerima kantong kertas dari penjaga kasir.
"Beli apaan, Mar?" tanyaku santai sambil mengambil posisi di sampingnya.
"Ada deh... nanti aku tunjukin. Aku tunggu di luar, ya," jawabnya misterius sambil berjalan pergi, tak lupa melemparkan kerlingan genit.
Sejenak aku terpaku menatap kedua penjaga kasir yang tiba-tiba tersenyum geli ke arahku. Salah satunya kemudian berceletuk menggoda, "So sweet banget deh. Tadi pacar Masnya bilang, panggilan kesayangan buat Mas itu Kura-Kura Ninja. Makanya langsung dibeli." Mereka lalu lanjut cekikikan berdua sambil bersenggolan pundak, gemas sendiri dengan apa yang mereka ketahui.
"Hahhh?!" Aku melongo sempurna dengan raut kebingungan yang menggelikan.
*****
Malam itu, jarum jam dipergelangan tanganku menunjukkan pukul tujuh lewat dua puluh menit. Mareta berjalan perlahan sambil menggandeng erat lenganku dengan langkah kaki yang berayun girang. Kami memutari kawasan angkringan yang dipadati lautan manusia yang sedang duduk lesehan menikmati malam.
"Ada satu lapak di ujung yang jualan wedang uwuh sama kopi joss enak banget, kesana aja, yuk," kata Mareta sembari mempercepat langkah kakinya. Aku bahkan sampai berjalan setengah terseret di tengah kepadatan yang riuh demi mengikuti ritme langkah gadis itu.
Begitu sampai di lapak yang dimaksud, Mareta melepaskan gandengannya dan langsung menuju ke arah seorang bapak yang sedang sibuk menyeduh kopi di balik meja kayu. "Malam, Bapak. Aku pesan satu kopi joss, satu wedang uwuh, sama teh poci dua."