ORANG YANG DATANG

Aga Lesmana
Chapter #31

BAB 31: Berdiri di Pintu Gerbang

Di atas bangku taman yang mulai mendingin, aku duduk termangu menatap hamparan langit biru. Gumpalan awan putih nan tebal berarak megah di sana, bergerak lambat bak gunung kapuk yang sedang melintas sunyi. Seminggu berlalu sejak kuhampiri Mareta di kota tempatnya menetap sementara waktu itu, namun tiada sehari pun aku tidak memikirkannya. Kesannya berlebihan kalau dipikir-pikir, mirip anak baru gede yang sedang heboh dengan detak tidak menentu di balik dada. Tapi itu benar-benar terjadi kepadaku. Begitulah pokoknya.

Seluruh tubuhku masih basah oleh keringat sehabis berlari, membasahi kaus lusuh yang kukenakan, sementara otot-otot kakiku terasa pegal dan berdenyut kaku. Sudah tiga hari berturut-turut ini aku menghabiskan waktu dengan berkeliling, menyusuri jalanan aspal di dalam kompleks perumahan tempat David dan Sherly tinggal.

David memang luar biasa baik. Tanpa banyak basa-basi langsung mengajakku, bahkan harus dikatakan sedikit memaksa, untuk tinggal di rumahnya selama aku memulihkan diri sambil merencanakan adu nasib masa depan di Jakarta. Sebenarnya sejak awal menginjakkan kaki di kota kelahiranku ini, sudah kukatakan berkali-kali kepadanya bahwa akan mencari kos-kosan sementara agar tidak merepotkan siapa pun. Tapi David tetaplah David, ia hampir tidak mendengarkan argumenku sama sekali. Dengan nada yang bersikeras, ia menegaskan agar aku tidak usah sungkan atau merasa tidak enak untuk menginap di rumahnya, tidak peduli mau selama apa pun itu. Pun dengan Tante Inggrid yang ikut mengomel dan hampir menjewerku saat berada di kubu anaknya untuk memaksaku tinggal. Jadi aku hanya bisa pasrah, kuputuskan untuk mengikuti keinginan mereka untuk sementara waktu.

Drrtt... Drrtt... Ponsel yang sejak tadi kuletakkan begitu saja di atas bangku kayu taman tiba-tiba bergetar, memecah keheningan sore. Kulihat di layarnya sebuah panggilan masuk tertera dari nama David.

"Halo..." jawabku pelan setelah menggeser layar dan mengangkat sambungan telepon.

"Halo! Lu di mana, Ga?" suara David menggelegar di seberang sana, terdengar begitu riang dan dipenuhi semangat yang meledak-ledak.

"Lagi istirahat bentaran ini abis lari muterin komplek, Dave," jawabku sembari menyeka bulir keringat di dahi dengan punggung tangan.

"Udah kelar kan lu?" David kembali bertanya, intensitas nadanya masih berada di puncak keriangan yang sama. "Oke! Satu jam lagi lu harus udah nyampe ke lokasi yang gue share ya. Enggak pake ngaret. PENTING! BYE!"

Sambungan telepon langsung diputus secara sepihak, menyisakan bunyi dengung datar setelah rentetan kalimat perintah yang disemburkan dengan cepat di ujung sana. Aku tertegun, melongo menatap layar ponsel di genggaman dengan rasa tidak percaya. Tidak lama setelah itu, sebuah notifikasi pesan singkat masuk. David sudah mengirimkan sebuah titik lokasi melalui pesan WhatsApp.

Ketika rasa penasaran mulai menggelitik dan aku mencoba meneleponnya kembali untuk bertanya sebenarnya ada urusan apa, nomor teleponnya justru beralih sibuk dan tidak diangkat sama sekali.

"Penting apanya coba! Suka seenaknya banget nih orang, ya," gerutuku kesal sembari melampiaskan dongkol dengan mencabut sejumput rumput yang tinggi, lalu melemparkannya begitu saja ke udara hingga berhamburan ditiup angin. Awas aja tuh anak kalo cuma iseng, lanjutku mengancam dalam hati.

Aku menghela napas panjang sebentar, menatap gumpalan putih di langit sekali lagi, lalu mulai mengambil langkah gontai untuk berjalan pulang ke rumah David. Sepanjang jalan, kepalaku terus bertanya-tanya mengenai rencana apa lagi yang sebenarnya sedang dirancang oleh otak usil sahabatku itu.

 

Lihat selengkapnya