ORANG YANG DATANG

Aga Lesmana
Chapter #32

BAB 32: Panas Api untuk Menanak Nasi

Keputusanku untuk mengudara kembali di dunia bisnis kuliner lewat tawaran kerja sama dengan Deko tentu tidak jatuh begitu saja dari langit seperti durian runtuh. Itu bukan keputusan impulsif yang lahir dari ego kesedihan sesaat, melainkan sebuah hasil dari proses mengunyah realitas kehidupan yang panjang dan melelahkan.

Ada fase di mana aku harus menakar kapasitas diri, menggabungkan sisa-sisa keberanianku yang sempat tercecer, lalu membawanya ke meja sidang pleno santai bersama orang-orang terdekat yang paling kusayangi. Yaitu David, Mareta, Coki, Kak Dita, dan tentu saja, Ibu.

Melihatku sempat terpuruk hebat pasca-kecelakaan kebakaran hebat yang melalap habis kedai pertamaku dulu. Kedai yang kubangun dengan tetesan darah dan air mata hingga sempat mengecap sukses besar. Mereka semua tahu bahwa aku sedang kehilangan arah dan kompas hidup. Kejadian traumatis itu yang memaksaku terbang jauh ke Jakarta, mengungsi bukan cuma sekadar untuk memulihkan luka-luka fisik yang tampak, tapi juga untuk menjahit kembali mentalitas yang sempat robek pasca-tragedi. Di kota megapolitan ini, di tengah kepungan polusi asap knalpot dan ketidakpastian masa depan, mereka hadir menyelamatkanku, memberikan pasokan logika yang murni, jujur, tanpa pemanis buatan.

David, dengan gaya bicaranya yang ceplas-ceplos, blak-blakan, tapi selalu punya peluru kata-kata yang tepat sasaran, menjadi orang pertama yang menendang bokongku agar segera keluar dari zona nyaman meratapi nasib buruk.

"Buat apa sedih lama-lama, Ga? Lu kan udah digembleng dari dulu jadi anak kuat sama keadaan. Masa kalah sama api semalam? Gas ajalah! Jarang loh ada tawaran sakti begini datang dari si Deko, dan lu lagi beruntung banget sekarang. Nggak semua orang di dunia ini bisa dapat kesempatan kedua yang bentukannya menggiurkan begini," kata David sore itu dengan nada tegas, sambil menatap manik mataku lurus-lurus.

Kupikir dalam hati, kata-kata anak itu ada benarnya juga. Meratapi sisa abu kedai yang sudah berubah jadi karbon hitam tidak akan pernah bisa membuat uang modal yang hangus kembali lagi secara gaib ke dalam dompet.

Sementara itu, Coki memberikan sudut pandang yang jauh lebih berbobot dari sisi teknis. Sebagai sesama manusia yang sudah kenyang dihantam getirnya keras jalanan dan jatuh bangun merintis bisnis dari nol, Coki menatap tawaran kerja sama dari Deko melalui kacamata seorang veteran. Ia tidak memintaku untuk buru-buru melompat mengambil keputusan, melainkan menyuruhku membaca peta persaingan dengan cermat. Coki membedah bagaimana struktur bertahan di dunia bisnis yang kejam, mengingatkanku bahwa bentuk kerja sama bukan cuma soal manisnya membagi keuntungan di atas kertas, tapi tentang bagaimana dua kepala bisa saling mengunci ego masing-masing ketika badai masalah berikutnya datang menerpa. Dari Coki, aku belajar sebuah prinsip berharga bahwa keberanian tanpa kalkulasi yang matang hanyalah bentuk lain dari bunuh diri finansial.

Lalu ada Mareta. Perempuan itu adalah mesin pemikir yang luar biasa, di mana setiap isi pikirannya menghasilkan argumen-argumen kuat berbasis data lapangan dan logika murni. Ketika aku sempat curhat kepadanya dengan nada melankolis yang mendayu-dayu, Mareta langsung memotong kalimatku dengan penguatan yang sangat rasional. Ia sama sekali tidak menghiburku dengan kata-kata klise seperti "semua akan indah pada waktunya", melainkan dengan membeberkan potensi pasar kopi saat ini, kesiapan mentalku, dan bagaimana tawaran emas dari Deko ini secara matematis bisa menjadi batu loncatan terbaik untuk membalas dendam pada kekalahanku di masa lalu. Logika tajam yang dibawa Mareta sukses membuatku sadar bahwa sebuah trauma tidak selamanya harus disembuhkan total terlebih dahulu, tapi harus dikelola dengan baik menjadi energi baru.

Namun, rem terbaik dari segala antusiasme yang mulai membumbung tinggi itu tetap berada di tangan dua wanita utama dalam hidupku, yaitu Kak Dita dan Ibu. Mereka berdua adalah jangkar emosional yang memastikanku tidak terbang terlalu tinggi hingga lupa daratan. Mereka mendukung penuh rencana bisnis ini, namun dengan satu wanti-wanti besar yang menancap telak dan membekas di kepalaku. Mereka tahu betul bagaimana isi kepalaku, bahwa aku ini tipe pemikir yang kalau sudah dilanda cemas bisa tenggelam terlalu dalam, tapi kalau sudah ambisius bisa menjadi buta arah.

"Itu kan bentuknya kerja sama, Ga. Jadi jangan seenaknya sendiri nanti kalo bertindak. Orang lain udah ngasih kepercayaan yang besar loh sama kamu. Kalo kamu emang ngerasa mampu dan siap buat capek lagi dari nol, ya, gas. Tapi kalo di dalam hati kamu merasa belum pulih sepenuhnya dan cuma terpaksa maju karena embel-embel tawaran menggiurkan, jangan dipaksa," kata Kak Dita panjang lebar menasihatiku, yang langsung disambut dengan anggukan setuju oleh Ibu tanpa keraguan sedikit pun di wajahnya.

Tatapan teduh mata Ibu seolah menegaskan bahwa ia jauh lebih memilih melihatku berjalan pelan dengan kondisi mental yang waras, daripada melihatku berlari kencang namun berakhir jatuh ke lubang kegagalan yang sama.

Pertimbangan kolektif dari orang-orang tersayang inilah yang akhirnya mendewasakan caraku dalam mengambil keputusan besar. Aku menyadari satu pemahaman penting yang sangat menohok sanubari. Kalau hidup ini memang tidak pernah memberikan jaminan kelancaran, tapi hidup selalu adil dalam memberikan pilihan.

Menerima kerja sama dengan Deko bukan lagi tentang taktik pelarian instan dari trauma kebakaran masa lalu, melainkan sebuah langkah sadar yang diambil oleh seorang Arga yang baru. Arga yang kini tahu kapan harus menginjak pedal gas sedalam-dalamnya, dan kapan harus menarik rem tangan demi menghormati sebuah kepercayaan yang telah dititipkan.

Setelah berhari-hari mengurung diri di dalam kamar rumah David, bertarung habis-habisan dengan angka-angka proyeksi modal, menyusun strategi operasional yang ketat, dan merancang sketsa desain menu baru, proposal bisnis dari sisiku akhirnya rampung total. Lembar terakhir di layar laptop kuklik simpan. Kepalaku rasanya seperti mesin motor matik tua yang dipaksa menanjak lereng Puncak tanpa oli, sudah berasap, panas, dan luar biasa mumet. Menatap barisan huruf dan tabel angka di laptop justru membuat pandanganku kini berkunang-kunang.

Lihat selengkapnya