Sebulan belakangan ini, seluruh waktuku benar-benar habis diperas oleh persiapan intensif menjelang pembukaan kedai kopi yang baru. Luar biasa melelahkan, ada begitu banyak detail kecil yang harus diurus dan diselesaikan dalam satu waktu.
Di tengah pusaran kesibukan itu, David menjadi sosok yang paling rajin turun tangan membantu. Padahal kalau bicara legalitas kertas, ia sama sekali tidak punya selembar pun saham di bisnis ini.
"Gue mau bantu lu, Ga. Lagian waktu luang gue belakangan ini lagi banyak banget. Amanlah!" katanya suatu kali, di sela-sela waktu menemaniku berkeliling kota, berpindah dari satu pasar ke pasar lain demi berburu perabotan dan dekorasi yang pas untuk kedai.
Kerja sama bisnis antara aku dan Deko ini memang berjalan dengan sangat gila. Bahkan, bisa dibilang hampir mendekati level ekstrem untuk ukuran sebuah usaha yang baru merangkak. Bagaimana tidak? Deko dengan santainya mengusulkan strategi untuk langsung membuka tiga cabang sekaligus di titik-titik emas kota Jakarta. Seluruh biaya modal awal investasi ditanggung sepenuhnya oleh Deko sebagai pemilik saham tertinggi, sementara aku tentunya setuju-setuju saja menerima tantangan besar itu.
Langkah berani yang kami ambil ini sebetulnya dibarengi dengan tingkat risiko yang luar biasa tinggi. Tapi di sisi lain, naluri bisnis Deko memang tajam. Dengan langsung membuka tiga cabang, citra merek kedai kami akan langsung menancap kuat di kepala orang-orang, karena adanya asumsi publik soal skala bisnis yang terkesan sudah besar karena ada di mana-mana. Beberapa sudut strategis kota bisa langsung kami kunci sebelum diambil orang lain. Selain itu, harga bahan baku bisa ditekan jauh lebih murah karena kami membelinya dalam jumlah besar untuk menyuplai tiga tempat sekaligus.
Tentu saja, di balik keunggulan yang menggiurkan, ada tanggung jawab raksasa yang harus dijaga dan diantisipasi. Kami tidak boleh lengah sedikit pun, sistem manajemen kami buat terpantau ketat tanpa celah, agar tidak ada satu pun detail kecil yang lolos dari pengawasan. Pemetaan lokasinya pun kami buat matang dengan penerapan diferensiasi wilayah, agar ketiga cabang ini tidak saling berebut pelanggan dan memakan pasar satu sama lain. Cabang pertama diposisikan di area perumahan yang padat, cabang kedua diletakkan di tengah kepungan gedung perkantoran yang sibuk, dan cabang ketiga berdiri di dekat pusat keramaian area kampus.
Bahkan, ada satu langkah cerdas yang sebenarnya tidak pernah terpikirkan oleh isi kepalaku sebelumnya. Deko mengusulkan untuk memanggil kembali para karyawan veteran dari kedaiku yang dulu. Istilahnya, kami ingin membawa pulang ritme kerja dan kehangatan yang pernah sukses, untuk dihidupkan kembali di medan tempur yang baru ini. Maka tanpa ragu, Nando, Arvin, dan Dea segera kuhubungi kembali. Mereka menyambutnya dengan antusias. Di tiga cabang baru nanti, mereka akan memegang kendali sebagai kapten sekaligus mentor, memastikan standar rasa dan keramahan kedai kami tetap sama persis seperti dulu. Langkah ini membuat fondasi ekspansi kami terasa jauh lebih kukuh, bukan sekadar tebak-tebak buah manggis di awal jalan.
"Meja sama kursi semuanya udah aman dan oke, kan, Ga? Lanjut hunting kemana lagi kita habis ini?" tanya David memecah keheningan, tepat setelah suapan terakhir mi ayam di jam makan siang kami tandas.
"Udah beres sih, Dave. Habis ini paling gue mau nyari beberapa bahan dulu bentar buat keperluan testing menu. Ada beberapa resep yang mau dirombak. Lu mendingan balik duluan aja ke rumah," jawabku sembari merapikan catatan di meja.
"Ya udah, sekalian aja kali gue temenin. Come on..." David buru-buru merogoh dompet dari saku celananya, bersiap untuk membayar dua porsi mi ayam yang kami makan.
Menggunakan refleks gerak tercepat yang kupunya, aku langsung melesat maju mendahuluinya. Tanganku bergerak lebih gesit, menyodorkan selembar uang lima puluh ribuan ke tangan mas penjual mi ayam.
"Ambil aja, Mas, kembaliannya!" kataku cepat, lalu sedetik kemudian langsung mengambil langkah seribu, berlari menjauh dari gerobak.
"Woiii... mau kemana lu? Kok main tinggalin aja!" teriak David kencang, benar-benar terkejut melihatku yang tiba-tiba melesat pergi seperti anak panah.
Aku membalikkan badan sedikit sembari melambaikan tangan tinggi-tinggi, lalu berteriak membalas suaranya, "Gue bisa sendiri! Nggak usah ditemenin, thank you, bye!"
Buntut dari aksi kabur dadakanku itu meninggalkan pemandangan yang menggelikan. David hanya bisa melongo kebingungan di samping mas penjual mi ayam yang juga ikut mematung sambil memegangi uang lima puluh ribu di tangannya.
"Edan!" ucap mereka berdua hampir bersamaan, lalu kompak menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkahku.
*****
Sebenarnya, aku punya urusan pribadi lain yang sangat penting dan sekarang belum bisa kuberitahukan pada David. Ini perihal internal keluargaku.
Semalam, tiba-tiba saja Kak Dita menelepon. Dengan nada suara yang serius, ia berkata bahwa Bapak memohon untuk bisa bertemu denganku. Aku sendiri baru tahu kalau Bapak beserta keluarga barunya ternyata menetap dan tinggal di Jakarta. Selama bertahun-tahun ini kami memang tidak pernah berkabar atau bertukar informasi sama sekali. Dan aku juga sebenarnya tidak peduli.
Berdasarkan cerita dari Kak Dita, kemarin sore Bapak sempat menelepon Ibu untuk menanyakan kabar kami, lalu Ibu dengan tulus bercerita banyak soal pasang surut keadaan kami bertiga. Setelah cerita Ibu sampai pada topik mengenai musibah kebakaran di kedai kopiku tempo hari, Bapak terkejut. Ia merasa tergerak dan ingin sekali bertemu langsung untuk mengetahui bagaimana kondisiku yang sebenarnya.