Saat yang dinanti-nanti akhirnya tiba. Hari ini adalah waktu untuk grand opening resmi kedai kopi kami. Segala sesuatunya berjalan dengan sangat lancar sesuai dengan prediksi perhitungan awal. Cuaca Jakarta sangat cerah mendukung, dan kerumunan pengunjung tampak ramai sekali memadati area sejak menit pertama kedai resmi dibuka. Aku, Deko, dan David secara bergantian bergerak teratur dari satu cabang ke cabang yang lain untuk mengontrol situasi, sekaligus memantau langsung jalannya alur operasional di lapangan.
Semuanya terlihat tersusun rapi dan berjalan baik. Tiap kepala cabang, Nando, Arvin, dan Dea, melakukan tugas manajerial mereka dengan sangat luar biasa. Aura kepemimpinan mereka sekarang terlihat berbeda sekali setelah kini resmi menyandang status sebagai karyawan veteran. Aku bahkan sampai tidak berhenti melayangkan pujian pada mereka di dalam hati karena performa kerja mereka yang begitu detail dan cekatan. Kedai yang dulu runtuh oleh api, kini lahir kembali dengan fondasi yang jauh lebih tangguh.
Sore hari sekitaran pukul tiga, kami bertiga janjian untuk berkumpul dan menetap di cabang kedai yang berlokasi di daerah Jakarta Barat. Cabang ini sengaja dibuat sebagai yang paling besar karena bangunannya merangkap sebagai kantor utama kami. Satu per satu relasi bisnis dan teman-teman dari Deko mulai berdatangan, membawa berbagai macam buket indah dan karangan bunga ucapan selamat berukuran besar yang kini berjejer rapi memenuhi area halaman depan kedai.
Adapun David, ia tampak heboh mengajak seluruh elemen keluarganya. Mulai dari sepupu, bahkan sampai teman-temannya dari berbagai macam latar belakang profesi yang unik. Dari mulai seorang bos pemilik merek furnitur ternama, pemilik waralaba kontrakan puluhan pintu, sampai seorang pemilik merek tahu bulat kenamaan yang sering berkeliling menggunakan mobil bak terbuka di seputaran Jakarta. Profesi teman yang terakhir ini sukses membuatku tidak habis pikir bagaimana mulanya sejarah temanku itu bisa mengenalnya. Lingkar pertemanan David memang selalu menjadi misteri yang jenaka.
Bapak, Karina, dan Ziko juga terlihat datang bertiga mengendarai motor setelah baru saja kuundang secara mendadak lewat pesan malam sebelumnya. Aku sempat berkata pada Bapak untuk mampir saja bersantai dan menegaskan tidak perlu repot-repot membawa bunga atau hadiah perayaan apa pun itu. Tapi lucunya, mereka malah datang dengan membawa hadiah berupa sepaket lengkap peralatan kebersihan rumah tangga baru.
Aku tertawa lepas sembari menerima pemberian unik tersebut, lalu berseloroh jenaka kepada mereka bahwa aku akan segera meminta pegawai kedai untuk memakai sapu beserta sanak saudara alat pembersih yang dihadiahkan itu untuk membersihkan lantai kedai.
Terakhir, tamu yang paling istimewa dan paling kutunggu-tunggu akhirnya datang menginjakkan kaki di kedai saat hari sudah berganti malam. Ibu dan Kak Dita. Mereka berdua datang dengan mengenakan setelan pakaian yang sangat rapi dan anggun, tampil begitu memukau dari ujung rambut hingga ujung sepatu mereka. Penampilan Ibu malam itu bahkan terlihat membuat pangling, sampai-sampai mantan suaminya sendiri hampir tidak mengenali dari kejauhan.
Aku sebetulnya sejak awal sama sekali tidak mengharapkan atau merencanakan terjadinya momen pertemuan antara Ibu dan Bapak di acara kedai begini. Tapi sore tadi, ketika Kak Dita mengabari lewat telepon singkat bahwa pesawat yang mereka tumpangi baru saja mendarat di bandara, tidak sengaja Bapak yang sedang berdiri di dekatku mendengar ucapan itu. Ia kemudian bersikeras memaksa untuk tinggal lebih lama di kedai sampai Ibu dan Kak Dita datang.
Untuk mengondisikan situasi agar lebih kondusif, Karina dan Ziko sudah disuruh oleh Bapak untuk kembali pulang ke rumah terlebih dahulu guna menyelesaikan tugas sekolah mereka yang menumpuk. Maka di sinilah kami sekarang, berempat berkumpul duduk melingkar dalam satu meja yang sama dan saling menatap dalam keheningan yang sarat makna. Ada canggung yang mengambang, namun ada juga kerinduan terselubung yang tidak mampu diucapkan oleh kata-kata.
"Dita, gimana kabarnya sekarang, Nak?" Bapak memulai obrolan dengan nada suara yang bergetar pelan.
"Baik, Pak. Kalau Bapak sendiri gimana keadaannya, sehat, kan?" Kak Dita menggeser sedikit posisi kursinya mendekat, sehingga tangannya bisa meraih dan menggenggam jemari tangan Bapak dengan hangat.
"Baik dan sehat juga, Nak. Kamu sendiri gimana kabarnya, Lin?" kali ini Bapak memberanikan diri bertanya sembari mengalihkan sorot matanya menatap wajah Ibu yang duduk tepat di sebelahku.
"Baik," jawab Ibu singkat namun tetap terdengar tenang. Ibu lalu mengalihkan pandangannya menatap wajahku. Entah mengapa, begitu melihat rona di wajahnya, aku secara refleks langsung meraih telapak tangan Ibu dan meletakkannya di atas pahaku, menggenggamnya erat. Aku tahu persis di dalam hati, Ibu saat ini sedang membutuhkan pasokan penguatan emosional yang besar setelah sekian lama waktu berlalu tidak pernah bertemu lagi dengan sosok mantan suaminya ini. Biar bagaimana pun, genggaman tanganku adalah jangkar bagi ketenangan Ibu malam ini.
"Pesan makan dulu aja, ya, Bu... pasti Ibu sama Kak Dita udah lapar banget jam segini setelah perjalanan jauh." kataku mencoba memecah ketegangan, sekaligus memberi kode isyarat pada Kak Dita untuk segera membuka buku menu yang terletak di depannya.
Setelah menghabiskan waktu sekitar sepuluh menit penuh berunding untuk memutuskan pesanan hidangan, David tiba-tiba datang berjalan menghampiri meja kami dengan gayanya yang tengil. Tanpa merasa canggung, ia langsung memeluk Ibu dengan hangat, menyalami tangan Kak Dita sembari menyunggingkan cengiran khasnya, dan terakhir menjabat tangan Bapak juga sambil tertawa ramah.
"Mama udah balik duluan sore tadi, Tan. Si Arga ini bener-bener, deh... masa dia nggak ada bilang-bilang ke aku kalau Tante sama Kak Dita bakalan datang malam ini. Memang kelewatan banget nih anak otaknya, yaaa!" David berkata dengan nada bersungut-sungut, sembari dengan gemas menoyor pelan pucuk kepalaku, memasang ekspresi wajah kesal yang dibuat-buat di depan Ibu.
"Ya, sorry. Gue beneran lupa, Dave. Kepala gue udah penuh banget mikirin segala printilan pembukaan kedai," kataku membela diri sembari tangan kiriku bergerak mencubit pinggang David yang sedang berdiri tegak di sebelah kursiku.
"Makanya, jadi orang tuh ada apa-apa cerita! Ini malah diam-diam aja lagaknya... berak lu!" tambah David merutuk jenaka lalu dengan usil mencolek ujung telingaku.
"Susah ngebalas budinya entar kalau gue kebanyakan cerita sama lu." Aku menjawab cepat sembari menggerakkan kepala menghindar. Sontak, interaksi lucu kami berdua membuat semua orang yang duduk di meja langsung tertawa bersama-sama, mencairkan seluruh sisa kekakuan yang sempat hadir.
"Makasih banyak ya, Dave, udah banyak banget bantuin adek gue selama disini. Coba aja nggak ada lu yang temenin, bisa-bisa nih anak udah luntang-lantung nggak jelas arahnya di Jakarta. Belum move on dia..." Kak Dita ikut menimpali obrolan sembari mengedipkan sebelah matanya jahil ke arahku.
"Maksudnyaaa... belum move on kayak gimana, tuhhh?" David langsung bertanya dengan memasang tampang jahilnya.
"Itu, lho, baru putus cinta dari cewek yang namanya Mutia.” Kak Dita menjawab dan juga memasang tampang jahil yang sama seperti David.
“Lho! Emangnya kalian belum dengar berita ter-update soal dia, Kak?" David langsung pura-pura terkejut dengan mata membelalak dramatis.
Seketika Kak Dita, Ibu, Bapak, dan aku sendiri langsung menolehkan kepala secara serempak ke arah David. Kami semua memasang tampang penuh rasa penasaran, menunggu kelanjutan kalimat yang akan disemburkan oleh sahabatku itu.